Oleh: Ade Zaenudin

Pada abad ke-3 hijriyah ada seorang ulama karismatik di daerah khurasan (sekitar ujung timur laut Iran) yang fatwanya menjadi rujukan umat, beliau bernama Hatim Al Asham (Hatim yang tuli).

Al Asham artinya yang tuli, menjadi laqab atau nama panggilan bagi Hatim bin Ulwan.

Apakah Hatim  benar-benar tuli? Mari sejenak kita simak kisahnya.

Satu saat ada seorang perempuan bertamu meminta fatwa kepada Hatim, dia menceritakan persoalannya panjang lebar, belum selesai bercerita tiba-tiba dia merasakan sesuatu di perutnya, ada gejolak yang sangat mendesak untuk keluar, perempuan tersebut ingin kentut.

Sekuat tenaga perempuan tersebut menahan agar kentut tidak meletup, namun gejolak semakin dahsyat, akhirnya dia segera menutup ceritanya dengan sebuah pertanyaan.

Di ujung pertanyaan, ternyata pertahanannya jebol juga, sang angin pun akhirnya meledak ditandai dengan suara dan aroma yang lumayan dahsyat dan berhasil membuat merah wajah sang empunya.

Kedahsyatan “ledakan” perempuan itu ternyata disikapi dengan kedahsyatan perilaku Hatim. Hatim seketika berpura-pura tuli, Hatim berkata Bisa diulang lebih keras suaranya? seolah tidak mendengar apa yang diutarakan. Sang perempuan pun merasa lega, karena Hatim dianggap tidak mendengar suara kentutnya. Selain lega perasaan, dia pun lega dengan fatwa yang diberikan.

Tidak selesai disitu, Hatim memutuskan berpura-pura tuli selama kurang lebih 15 tahun sampai perempuan tersebut meninggal dunia. Karena kentut tersebut, Hatim pun sampai pada derajat manusia dengan perangai yang amat tinggi disamping keilmuan dan kedermawanannya. Hatim pun menjadi waliyulloh, Subhanalloh.

Kisah ini memberikan pelajaran kepada kita betapa berharganya menjaga aib orang lain, jangan sampai orang lain merasa malu di hadapan kita. Terlebih, mengolok-olok orang lain atas aibnya. Naudzubillah. Bukankah setiap manusia memiliki kekurangan, termasuk diri kita.

Sejenak mari kita perhatikan, betapa banyak orang yang membuka aib orang lain di media sosial, bahkan tidak sedikit orang yang mencari keuntungan materi atas aib orang lain, tentu ini bukan perilaku terpuji.

Aa gym dalam salah satu ceramahnya mengatakan bahwa sesungguhnya diri kita ini penuh dengan kekhilafan, andai satu kekhilafan ditandai dengan setitik tinta di wajah, maka seluruh wajah kita sudah tertutup tinta hitam, Allah muliakan kita dengan menutup kekurangan-kekurangan di hadapan orang lain.

Jika kita renungkan lebih jauh, sesungguhnya kentut sekalipun adalah anugerah, nikmat dari Allah yang sangat luar biasa, andai saja kita tidak bisa kentut, berapa uang yang harus kita keluarkan untuk berobat. Walau demikian, tentu bukan berarti kita bisa mengeluarkannya sembarangan di hadapan orang lain.

Akhir kata, saya teringat gurauan dalam satu pertanyaan, kenapa kentut mewajibkan kita wudhu? dan yang dibasuh adalah muka, ternyata kisah Syekh Hatim bisa menjadi referensi juga bahwa gara-gara kentut, muka menjadi merah, mukalah yang menanggung malu, pantat mah santai aja tuh. Hehe…

Wallohu a’lam

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *