MaryatiArifudin, 24 Maret 2021

Dimasa pandemi ini semua usaha dan dagangan kita tidak sesuai yang kita harapkan. Bahkan banyak yang terpaksa gulung tikar alias bangkrut.

Eh… eh… tapi tidak semuanya lho ada juga bisnis atau dagangan yang tidak pernah mengenal kata rugi. Bisnis atau dagang seperti apa itu? Dan bisnis sama siapa itu?  Ayo sama-sama kita cari tahu jawaban-Nya.

Kisah dan riwayat ini nyata ada. Gambaran kedermawanan seorang sahabat-sahabat Rasululloh SAW yang menginspirasi semua insan di muka bumi. Bahwa hidup tidak hanya untuk memikirkan diri dan keluarganya saja. Namun, hidup bagaimana menebarkan dan mengamalkan ajaran yang lurus lagi mulia.

Apalagi di bulan yang mulia ini bulan sya’ban yang penuh barokah. Optimalkan potensi diri mumpung masih sehat mampu beribadah dan bermuamalah dengan sempurna.

Abu Bakr Al-Balkhi rahimahullah pernah mengatakan: “Perumpamaan bulan Rajab adalah seperti angin, bulan Sya’ban seperti awan yang membawa hujan dan bulan Ramadan seperti hujan. Barang siapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiraminya di bulan Sya’ban bagamana mungkin dia memanen hasilnya di bulan Ramadhan”.

Diriwayatkan tentang kedermawanan Usman bin Affan terhadap kaum Muslimin khususnya kepada agama Allah. Saat kaum Muslimin hijrah dari Mekah ke Madinah, mereka dihadapkan pada masalah kesulitan air.

Di Madinah ada sebuah sumur, tapi sumur itu milik seorang Yahudi dan sengaja airnya diperdagangkan.  Tentu saja, hijrahnya kaum Muslimin ke Madinah amat menggembirakan bagi orang Yahudi tersebut. Karena akan  memberinya kesempatan untuk memperoleh uang yang banyak dari hasil penjualan airnya.

Oleh karena itu Rasulullah SAW sangat mengharapkan ada salah seorang sahabat yang mampu membeli sumur itu. Tujuannya untuk meringankan beban kaum Muhajirin yang telah menderita karena harta benda mereka ditinggalkan di kota Mekah. Dikarenakan semangat Hijrah untuk ta’at kepada Alloh dan RosulNya.

Mengetahui kejadian seperti itu, hadirlah sosok Usman bin Affan bergegas pergi ke rumah orang Yahudi tersebut untuk membeli separuh sumur itu.  Setelah terjadi tawar menawar maka disepakatilah harga separuh sumur itu 12.000,- Dirham. Ada perjanjian hak air yang telah disepakati. Yaitu satu hari menjadi hak orang Yahudi itu dan keesokan harinya adalah hak Usman bin Affan atas sumur tersebut.

Pada saat giliran hak pakai Usman bin Affan, kaum Muslimin bergegas mengambil air yang cukup untuk kebutuhan dua hari. Air hak Usman diberikan secara gratis karena yakin Alloh yang akan membayarnya dengan harga berlipat ganda.

Sesuai janji-Nya seperti firmannya berikut, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha luas, Maha Mengetahui”.

Dengan demikian si Yahudi merasa rugi, karena pada giliran hak pakai dirinya terhadap sumur itu tidak ada lagi kaum Muslimin yang membeli air padanya.  Orang Yahudi tersebut mengeluh kepada Usman, dan akhirnya menjual seluruhnya kepada Usman dengan harga 8.000,- Dirham.  Sumur itu mengalirkan air yang melimpah. Sampai saat ini sumur Usmani masih dimanfaatkan masyarakat umum.

Itulah sebagian dari kedermawanan Usman bin Affan r.a.  Usman bin Affan adalah seorang yang bertakwa dan selalu bersikap wara’. Di tengah keheningan malam dia selalu mengkaji Al-Qur’an dan setiap tahunnya dia menunaikan ibadah haji.  Apabila ia berzikir, maka dari matanya mengalir air mata haru.  Ia selalu bersegera dalam segala amal kebajikan dan kepentingan umat.

Begitulah sosok Usman bin Affan. Semoga di bulan sya’ban kita semua mampu meningkatkan amal kebaikan dan selalu mentartilkan Al Qur’an yang suci. Salamah bin Kuhail rahimahullah mengatakan, “Dulu dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan para qurra’ (pembaca Al Quran)”.

Semoga kisah keteladan sang sahabat nabi, Utsman bin Affan dapat mengingatkan kita akan arti pentingnya berdagang /berbisnis dengan  Alloh. Dengan mengasihi sesama dan melakukannya Ikhlas hanya untuk mengharap Ridho Allah SWT. Agar kelak Alloh selamatkan kita dari azab yang pedih  sebagaimana firmannya berikut ” Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? “

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *