Maryati Arifudin, 24 Ramadan 1442

Telah tiga puluh hari membersamai ramadhan tahun ini. Sungguh, jika ditanya satu per satu insan di bumi pasti semua hamba ingin berjumpa ramadhan tahun yang akan datang.

Kami mengakui dan sadar diri, bahwa ibadah kita belum sempurna. Kadang atau bahkan sering tidak khusu’ bisa berawal dari takbiratul ihram sampai akhir salam. Entah, berapa banyak permasalahan bermunculan saat sholat ditegakkan. Begitulah, godaan syetan membisikkan.

Gangguan syetan berdatangan, dapat mengurangi atau menghapuskan pahala sholat yang didirikan. Usir gangguan itu, dengan melanjutkan budaya ramadhan yang telah kita programkan. Teruskan budaya sholat berjamaah tuk mengusir kurangnya kesempurnaan. Apalagi, perintah sholat berjamaah bagi kaum adam ada dalam sunah-sunahnya.

Kerasnya teguran mereka terkandung dalam ucapan ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, yaitu: Dan saya melihat (pada zaman) kami (para Sahabat), tidak ada yang meninggalkan shalat berjama’ah kecuali orang munafik, yang telah diketahui kemunafikannya.

Begitulah, pentingnya sholat berjamaah di masjid. Sungguh, kekuatan bangkitnya umat itu diawali di masjid. Ingatlah, para sekutu syaitan dkk tidak akan ridha jika seorang hamba mau mendekati masjid. Sungguh, godaan syetan yang terkutuk itu harus dilawan. Jangan dibiarkan rasa males tuk melangkah kaki ke masjid.

Biasanya, ramadhan penuh dengan jamaah, setelah usai ramadhan tingal segelintir orang saja yang mengisi shaf masjid. Sungguh, syaitan dkk akan senang dengan kondisi ini, karena mereka berhasil mencari pengikut yang sebanyak- banyaknya.

Iblis berkata, ‘Ya Rabbku! Karena Engkau telah menghukumku tersesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” [Al-Hijr/15:39]

Cukup usai ramadhan tahun lalu kondisi itu. Saatnya sekarang kita berbenah tuk ramaikan masjid dengan sholat berjamaah dan kajian islam secara kaffah. Agar, musuh iblis ketakutan melihat generasi rabbani selalu menghidupkan masjid-masjid yang bertebaran di muka bumi.

Yang istimewa adalah perintah puasa dari Tuhan Yang Esa. Mengajarkan semua hamba yang beriman, tuk merasakan empati terhadap sesama. Alloh SWT mengajarkan tuk mendetok tubuh agar tidak selamanya bekerja. Organ tubuh diminta istirahat sejenak mengikuti perintah Tuhannya. Ketundukan diajarkan tuk mentaati ajaran mulia agar mengetahui bagaimana rasanya ujian lapar dan dahaga.

Hanya hamba-hamba yang pernah merasakan ujian lapar dan dahaga yang mampu bercerita duka sesungguhnya. Apakah, kita tak bergerak tuk membantu terhadap sesama dari pada hidup foya-foya dan hura-hura. Sungguh, hidup bermakna bukan banyaknya harta namun bagaimana membuat bahagia terhadap sesama. Itulah ajaran mulia, mengajarkan bagaimana berpuasa bermanfaat antar sesama.

Cukup mempesona saat melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an yang mulia. Bacaan mulia mampu mencerahkan pikiran dan jiwa. Setelah dibaca baru dicerna kandungan ayat-ayatnya mengagungkan penciptanya dan mengajarkan agar hidup menjadi bermakna. Tidak memikirkan diri dan keluarga saja, tapi bagaimana hidup mempraktikkan ajaran mulia. Yaitu, merubah masyarakat agar tunduk pada perintah-Nya. Dengan kasih sayangnya tuk menyampaikan kebenaran yang ada. Agar hidup kita bersama-sama mengharap rahmad dan ridla Alloh SWT semata.

Adalagi ajaran mulia ini, tuk menunaikan zakat sesuai ketentuan-Nya. Perintah zakat bagi yang mampu saja baik itu zakat fitrah atau zakat mal ada kriterianya. Tinggal kita ambil peran saja, mau menjadi pezakat atau penerima zakat. Hanya diri kita yang mengetahui, pantasnya jiwa ini berada posisi dimana. Jika, posisi anda menetapkan pezakat maka anda akan merasakan indahnya berbagi terhadap sesama.

Sungguh ajaran lurus ini memerintahkan agar tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Harga dirimu telah kau junjung tinggi tuk memberi dan berbagi dari apa yang telah kau usahakan. Hati orang yang beriman akan menyadari ada hak-hak orang yang tersembunyi dititipkan lewat tangan-tanganmu.

Mereka mempercayai bahwa harta adalah titipan-Nya. Kelebihan harta akan digunakan membantu terhadap sesama bukan untuk berbangga ria. Tampilan hidupnya akan selalu bersahaja, karena mereka mencontohkan kesederhanaan para Rasul dan para sahabat mulia.

Ada yang istimewa ajaran tuk i’tikaf di masjid saja. Warna hidup tidak harus selamanya selalu bersama-sama, kadang kita perlu waktu menyendiri saja. Menyendiri tuk menjauhi hingar bingarnya kehidupan dunia, pasti ada manfaatnya. Manfaat tuk instropeksi diri mengakui seluruh kesalahan dan dosa-dosa yang terlanjur dikerjakannya.

Sungguh! Waktu istimewa Alloh membuka diri tuk memohon ampunannya tanpa ada perantara. Cukup luangkan waktu di sepertiga malam terakhir saja, seorang hamba perlu curhat pada Tuhan-Nya. Ingat, i’tikaf mengajarkan kita bersikap terbuka tuk mengakui kesalahan diri. Agar, hidup tidak terpuruk pada jalan-jalan yang tidak diridhai-Nya.

Dalam satu bulan mulia ini banyak ragam kebaikan yang telah diajarkannya tuk menjadi pribadi yang bertaqwa. Coretan sederhana ini diharapkan mampu menyadarkan diri saja apakah kita mau menjadi pribadi bertaqwa sesuai ajaran mulia ini. Pilihan ada ditangan kita! Jangan sampai kita memilih jalan yang hina dan menghiraukan perintah-Nya.

Referensi:

https://almanhaj.or.id/8283-hukum-shalat-berjamaah-di-masjid.html https://almanhaj.or.id/7487-sumpah-iblis-untuk-menyesatkan-manusia.html

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *