(Habit Menunda Pekerjaan) termasuk maladjusment atau masih Normal?

Oleh: Hermi Pasmawati

Setiap kita memiliki tipe atau style dalam menuntaskan suatu pekerjaan atau tugas tertentu, ada tipe yang sistematis atau mengangsur setiap pekerjaan yang akan di kerjakan, namun ada juga tipe yang mengerjakannya sekaligus atau sistem SKS (sistem Kebut Semalam), bagi tipe yang menyelesaikan tugas di ambang waktu deadline atau dilimit detik terakhir memunculkan sensasi tersendiri bukan?  Pernah berada di bibir tebing yang curam atau di bawah papan eye scan atau pigerprint abseni saat detik terakhir durasi waktu akhir. Ya, seperti itu kira-kira sensasinya, hormon andrenalin seakan terpacu untuk bereaksi. Puasnya mengerjakan suatu pekerjaan di limit terakhir itu ada sensasi tersendiri, kincir-kincir otak (KKO) seakan-akan berputar cepat.

Kepuasaan mensubmit laporan atau tugas di limit detik terakhir atau menyerahkan laporan langsung itu tentunya ada beberapa konsekuensi yang akan ditemui, seperti internet menjadi loading seketika, printer menjadi macet, flesdisk menjadi tak muncul, sistem komputer ngehank seketika, pernah merasakan sensasi ini, seakan semuanya satu  getaran dengan kecemasan dan kepanikan orang yang punya tugas, J, kalau pernah anda satu frekuensi dengan penulis, J, namun jangan sering-sering ya gaes, karena jika sudah menjadi habit ini akan menjadi perilaku malaudjasment perilaku salah suai dalam diri, apalagi jika menjadi kepribadian.

Setiap orang tentunya pernah menunda untuk menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan, terutama di kalangan pelajar, mahasiswa dan karyawan, hal ini sesuai dengan hasil reset bahwa sekitar 20 % orang pernah menunda pekerjaan, sedangkan untuk persentase di kalangan mahasiswa hampir di kisaran 80%pernah melakukan prokrastinasi. Baca di

Habit menunda pekerjaan ini sudah termasuk dalam perilaku maladjusment jika alasan menundanya memang tidak rasional, misalnya, saat sedang ingin mengerjakan tugas ada noise-noise yang mestinya bisa kita fending, seperti mengintip medsos, melakukan pekerjaan yang mengundang kesenangan atau hiburan, sehingga kita selalu mengerjakan tugas di akhir deadline, namun terkadang sisi positifnya bagi tipe-tipe orang mengerjakan pekerjaan di limit terakhir, serasa lebih cepat karena adanya tekanan dan desakan, namun bagi sebagian tipe orang justru tidak dapat melakukan apa-apa saat dalam posisi kecemasan bisa jadi menimbulkan tingkat stresor tersendiri dalam diri. Perlu ditelaah atau dianalisis kembali kita termasuk di tipe mana, karena tidak selalu orang yang mengerjakan pekerjaan atau tugas diakhir deadline itu jelek ya, namun jika seseorang mampu mengatasi segala sesuatu yang akan menjadi sumber tekanan, misalnya secara tiba-tiba printer rusak, listrik mati total, sistem komputer ngehank, yang mengakibatkan tidak dapat dikirimnya laporan atau tidak dapat login ke aplikasi hal ini tentu akan menjadi resiko tersendiri. Semua noise seakan kompak bekerja satu getaran yang seirama.

Terlepas apakah kita termasuk tipe yang bisa mengerjakan suatu pekerjaan di akhir atau di awal waktu, semuanyaa kembali lagi ke kualitas pekerjaan yang kita kerjaakan, dengan mengerjakan pekerjaan yang tergesa-gesa tentunya akan menimbulkan berbagai macam persoalan dan kurang ketelitian serta berbagai kekurangan, yang ujung-ujungnya kita akan memakai alibi atau alasan “karena tergesa-gesa”. Namun demikian tidak dapat dibenarkan bahwa suatu pekerjaaan atau suatu tugas dapat berkualitas apabila dilakukan dalam kondisi di bawah tekanan yang besar atau dalam kondisi tergesa-gesa atau kondisii psikologis yang panik dan cemas, sebagaimana dijelaskan dalam riset profesor Joseph Ferrari, Ph.D dari Universiti Chicago, yang menyampaikan hasil dari penelitiannya, bahwa alibi atau mekanizem dari prokrastinator (sebutan untuk Orang yang biasa menunda pekerjaan) akan selalu menunda pekerjaannya  adalah sebagai berikut; 1) Merasa masih banyak untuk mengerjakan tugas; 2) merasa hanya butuh sedikit waktu saja dalam menuntaskan pekerjaan atau tugas tersebut; 3) merasa akan lebih semangat jika mengerjakannya di akhir waktu; 4) memiliki keyakinan bahwa tugas akan sempurna jika sudah benar-benar ingin mengerjakannya, Artikel terkait

            Dalam Agama manapun sebenaranya tidak ada nasehat yang membenarkan perilaku menunda suatu tugas atau pekerjaan, bahkan dalam Islam sangat jelas nasehat untuk menyegerakan penyelesaian pekerjaan, yaitu dalam Al-Qur’an  Surat AL-Insyirah:7) “Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakan dengaan sunguh-sungguh urusan yang lain.” Dari kutipan ayat di atas, dapat ditafsirkan salah satu makna yang terkandung nasehat untuk bersegera mengerjakan pekerjaan berikutnya, jika sudah menuntaskan suatu pekerjaan tertentu atau tidak menunda-nundanya.

Barometer atau standar habit atau kebiasan menunda pekerjaan akan menjadi perilaku yang malaudjasment atau salah suai, jika sudah mempribadi dalam diri kita, kemudian akan menimbulkan suatu kerugian baik bagi diri sendiri maupun orang lain yang menjadi fatners atau TIM dalam suatu tugas tersebut, namun jika masih dilakukan di batas limit terakhir, dalam artian masih masuk dalam durasi waktu yang ditentukan dan tidak ada pihak yang dirugikan, sebagimana pendapat Profesor Joseph Ferrari, tidak semua habit menunda pekerjaan itu termasuk dalam katagori Prokrastinasi, jika dalam satu hari kita memiliki beberapa list pekerjaan yang harus dituntaskan dan dibuat list atau urutanya sesuai dengan tingkat prioritas, ini masih dapat ditoleransi bukan suatu perilaku prokrastinasi, namun jika dalam setiap harinya kita hanya mengerjakan dua list pekerjaan saja, itupun tidak tuntas dan tidak jelas andingnya maka ini sudah masuk dalam habit prokrastinasi. Jadi dapat disimpulkan kepembahasan awal tadi bahwa, batas-batas perilaku prokrastinasi masih bisa ditoleren jika tidak terjadi secara terus-menerus, mengingat pluktuasi atau moodboster seseorang dalam mengerjakan suatu pekerjaan atau tugas berbeda-beda. Pekerjaan atau tugas yang dikerjakan dituntaskan atau di selesaikan dalam durasi waktu yang ditentukan meskipun di limit terakhir deadline, intinya masih dalam durasi waktu yang menjadi ketentuan, selanjutnya memiliki beberapa list pekerjaan yang benar-benar dilakukan, bukan hanya sebatas praper atau planing saja, Bertanggungjawab dalam memulai dan menyelesaikan setiap tugas atau pekerjaan yang ada meskipun di durasi waktu terakhir atau di ambang limit terakhir.

Kesimpulan dari penulis, sepanjang tugas atau pekerjaan yang kita kerjakan itu masih dalam durasi waktu yang ditentukan, sebenarnya tidak menjadi hal yang sangat malaudjsment, tidak merugikan pihak manapun, tidak dilakukankan secara terus menerus, atau untuk semua jenis tugas atau pekerjaan yang menjadi amanah atau tanggungjawab kita, namun hanya pada moment tertentu dan pada kondisi tertentu. Perbandingan kualitas tugas di awal deadline atau diabang deadline tidak menunjukan perbedaan yang sangat siknifikan, tentu sah-sah saja bukan, mudah-mudahan ini bukan alibi dari hasil risetnya ilmuan Joseph Ferrari di atas ya gaes, anda boleh tidak sepakat dengan argumen serta kesimpulan penulis. JJJ

0Shares

By Admin

One thought on “Barometer Procrastination”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *