Oleh: Ade Zaenudin

Alkisah di zaman Rasulullah Shallaohu alaihi wasallam ada seorang tahanan. Namanya Sammamah, seorang pemimpin dari kabilah Hunaifiyah, pembenci berat Rasulullah Shallaohu alaihi wasallam.

Sammamah masuk penjara karena sudah banyak membunuh orang-orang yang mengikuti ajaran Rasul.

Dia rakus.

Di penjara banyak menghabiskan makanan, bahkan jatah makan untuk 10 orang bisa habis dilahap sendiri. Rasulullah tak pernah memarahinya, justru satu saat Rasulullah meminta istrinya untuk menghidangkan makanan yang banyak, ternyata hidangan itu untuk Sammamah.

Dia jumawa.

Dipenjara bukannya jera, kesombongannya semakin menganga, dia menantang Rasulullah untuk membunuhnya, bahkan dengan nada tinggi. Dia sanggup membayar mahar sebagai tebusan atas kejahatan yang tidak pernah disesalinya. Rasulullah hanya tersenyum, justru menugaskan penjaga untuk memperlakukannya dengan baik.

Satu saat Rasulullah Shallaohu alaihi wasallam membebaskannya, Sammamah pun melenggang ke luar penjara. Sampailah di sebuah pohon, lalu berhenti sejenak, dia berfikir dan tak habis fikir, kenapa Rasulullah Shallaohu alaihi wasallam memperlakukan dirinya yang pembunuh sadis dengan perlakuan yang begitu ramah. Aneh. Gak masuk akal.

Singkat cerita, Sammamah memutuskan untuk mendatangi Rasulullah Shallaohu alaihi wasallam dan akhirnya beliau masuk Islam. Alhamdulillah.

Keputusan Sammamah ternyata membuat kaum kafir Quraisy geram, karenanya beliau hendak dipenggal. Sebagian dari mereka berkata, jangan! Sammamah adalah keluarga penyuplai gandum ke wilayah kita, kita bisa diembargo karenanya. Benar saja, Sammamah memerintahkan untuk mengembargo pengiriman gandum ke Makkah.

Saat bahaya kelaparan melanda, para penduduk Makkah pun meminta bantuan Rasulullah Shallaohu alaihi wasallam untuk membujuk Sammamah. Akhirnya embargo pun dihentikan.

Betapa baiknya Rasul kita. Semoga saja Rasulullah mengakui kita sebagai umatnya, lalu berkumpul bersama di surga-Nya, menyaksikan betapa bijaknya Rasulullah, seperti yang disaksikan Sammamah. Merasakan lemah lembutnya Rasulullah, seperti apa yang dirasakan Siti Aisyah.

Allohumma sholli ala sayyidina Muhammad.

[Kamis Gerimis, tetap eksis dengan menulis. Optimis Gaes]Wallohu a’lam

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *