Oleh: Maryati Arifudin

Badai pasti sesuatu yang tidak pernah diharapkan kehadirannya. Walaupun tidak pernah diharapkan, namun badai setiap saat akan hadir dalam episode kehidupan di dunia.

Wikipedia mendefinisikan badai bukan angin ribut biasa. Namun, angin ribut yang kekuatannya mampu mencabut pohon besar dari akarnya, menerbangkan atap dari bangunannya, atau meluluh lantakkan bangunan. Kekuatan badai yang begitu hebatnya, akankah kita mampu menghindarinya. Ataukah, kita mampu bertahan dalam menghadapinya.

Sebab musabab muncul badai?

Seperti badai yang terjadi di alam pastinya akibat kerusakan penghuninya. Entah akibat penghuninya yang sombong tidak mengindahkan aturan-Nya. Ataukah penghuni di bumi yang tidak punya kemampuan untuk mengelola alam dengan benar. Banyak ragamnya sumber badai, tapi sungguh munculnya badai akibat  olah makhluk yang tidak bertanggung jawab.

Salah satu episode kehidupan yang tidak dapat luput dari sapaan “badai” adalah episode kehidupan rumah tangga. Badai dalam kehidupan berumah tangga ibarat aroma wajib kehidupan rumah tangga. Pasang surutnya rumah tangga menuntun kita untuk mampu mengelola aromanya. Mau aroma badai berlalu begitu saja atau aroma itu dirawat sampai usia senja.

Mencium aroma badai saja kita tak mau, apalagi berharap badai hadir bahkan merawatnya sampai di usia senja. Nah, bagaimana strategi mengelola badai rumah tangga agar dapat berlalu begitu saja? Ataukah badai itu kita hentikan? Mampukah kita menghentikannya dengan memperhatikan resikonya.

Salah satu ujung munculnya badai rumah tangga biasanya diawali dari rasa kecewa.  Terutama kekecewaan pada pasangan merupakan sumber utama badai rumah tangga. Hal ini muncul akibat membandingkan pasangan rumah tangganya dengan pasangan rumah tangga orang lain.

Benarkah masalah ini, menjadi salah satu penyebab munculnya badai kehidupan dalam membangun rumah tangga?

Kalam Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah:216

“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal tidak baik bagi kamu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Sebuah sifat manusiawi dari hamba ciptaan Allah, bahwa akan selalu tampak lebih indah pada pandangan matanya apa-apa yang bukan miliknya. Demikian pula ketika melihat pasangan rumah tangga orang lain, seakan kesempurnaan dimiliki oleh pasangan itu.

Tutup mata rapat-rapat, sesungguhnya di balik pandangan mata manusia, terdapat pandangan semu. Percayalah setiap rumah tangga pasti mempunyai masalah yang tidak mungkin diperlihatkan di muka umum.

Buka mata hati lebar-lebar! Bahwa siapa saja orang yang telah memberanikan diri untuk meminangmu maka ia adalah pasangan terbaikmu. Dengan Bismillah ia mengikatmu dan akan menjadikan pasangan hidupmu yang tangguh untuk menghalau badai di rumah tangga.

Bolehlah mempunyai cita-cita mengidolakan pasangan orang lain. Tapi ingat apa yang tampak pada pasangan orang lain itu, maka itu terbaik untuk mereka, bukan untukmu. Mereka yang akan mampu menundukkan badai yang hadir dalam rumah tangga mereka.

Bagaimanakah cara menundukkan badai agar berlalu?

Mari kita renungkan percakapan antara Imam Yunus bin Abdil A’la dengan Imam Assyafii ra, sebuah peristiwa beda pendapat antara murid dengan sang Guru … Imam Assyafii ra.

Suatu hari sang Guru mengunjungi muridnya …

Yunus: “Aku berusaha mengingat-ingat setiap orang yang bernama Muhammad bin Idris. Seingatku tiada yang lain selain Assyafii. Kemudian aku buka pintu dan aku dikagetkan dengan kehadiran Imam Assyafii. Beliaupun menasehatiku.”

Imam Assyafii: “Wahai Yunus.. Ratusan masalah telah menyatukan kita. Masa hanya satu masalah saja harus membuat kita bercerai? Wahai Yunus, janganlah engkau berusaha membela diri dalam setiap perbedaan pendapat. Seringkali menata hati jauh lebih baik dibanding menata sikap atau pendapat. Wahai Yunus.. Jangan kau hancurkan jembatan yang telah kau bangun setelah kau lewati. Bisa jadi suatu hari kau membutuhkanya kembali.”

Setiap badai pasti akan bisa terselesaikan atau dapat dilalui. Asalkan, masing-masing menyadari mau menundukkan egonya. Tundukkan ego itu dengan menyampaikan keinginanmu pada pasanganmu dengan cara yang baik, agar akar badai permasalahanmu cepat berlalu.

Belajarlah dari dialog sang Guru dengan si murid diatas. Sang Guru rela mendatangi muridnya guna menghalau badai itu.

Adakah sumber badai lainnya yang sangat berbahaya?

Hindarilah badai yang sangat membahayakan rumah tangga. Jangan bermain api dengan badai yang satu ini. Satu badai rumah tangga, jika masing-masing penghuninya berbuat melanggar aturan dari-Nya tentu boleh kita bersikap. Bersikap tegas, karena mereka memahami aturan Tuhan-Nya. Jika pelanggaran berat itu ada, maka ketetapan Tuhan-Nya boleh ditegakkan. Akibat badai ini, rumah tangga yang dibangun bertahun-tahun akan tercabut seakar-akarnya. Berhati-hatilah dengan badai dahsyat ini, jangan mendekat.

Berbagai wujud badai yang mewarnai aroma rumah tangga, antara lain masakan istri yang tidak seistimewa ibunda. Sampaikan saran terbaiknya pada istri. Jangan dibandingkan antara ibumu dengan sang istri, pasti akan melukai perasaannnya. Percayalah! proses menyamakan selera makan salah satu proses taaruf sebenarnya. Nikmati saja masakannya, sanjung dia agar pipinya merah merona seperti buah cabai.

Saat itu sampaikan dengan kalimat yang bijak,”Istriku cantik terimakasih telah memasak untukku. Besok lagi jika masak tolong kurangi cabai merahnya. Saya belum terbiasa dengan si cabai merah. Namun, cukuplah hari ini aku berbahagia mampu memandang pipimu yang mempesonaku”. Sambil cubit mesra pipi pasanganmu nan merah hati itu. Pembicaaraan ringan tanpa mengeluarkan energi yang besar, namun mampu menyelesaikan permasalahan satu persatu. Itulah proses taaruf memasuki usia perdana di awal membangun rumah yang bertangga.

Belum lagi masalah muncul jika suami istri semuanya bekerja. Diskusikan dengan pasanganmu, bahwa tugas-tugas rumah tangga tanggung jawab istri. Namun, jika sang istri kerepotan urus rumah tangga, maka ajaklah sang suami meringankan beban tugas itu.

Bangun komunikasi terbaik. Saat rehat sambil pijat-pijat  anggota badan pasanganmu yang letih karena aktivitas kerja. Cari tahu kesukaan ataupun hobi pasanganmu. Tujuannya, agar dirimu tahu celah menundukkan hati pasanganmu.

Jika muncul badai-badai yang lain dalam rumah tanggamu tundukan badai itu. Atau cukup kau cium aromanya saja sehingga badai itu akan mudah berlalu.

              Jangan sampai setiap badai rumah tangga yang muncul dijadikan alasan untuk mengakhiri rumah tangga yang telah dibangun. Pasti suatu saat diri kita akan menyesalinya! Karena akibat alasan yang tidak jelas dan dibuat-buat oleh masing-masing pasangan akan melunturkan janji suci. Ingatlah, bahwa bunga saja perlu waktu untuk mekar. Jangan sampai karena kesalahan yang setitik, dirimu tak mampu untuk bersabar melihat kuncup bunga bermekaran lagi. Banyak alasan-alasan lain yang membuat ikatan suci itu tercerai berai. Jadikanlah masalah itu sebagai pusat pembelajaran untuk saling memperbaiki diri. Buatlah orang yang menghadirkan badai dalam rumah tanggamu menyesal melihat keputusanmu untuk menguatkan diri menghalau badai. Buktikan pada dirimu bahwa bunga butuh waktu untuk mekar dan kamu bersabar menantinya.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *