Oleh : Yani Lestari

Tiba saatnya melaksanakan tugas pertama kami. Waktu itu hari Senin, seperti biasanya dilaksanakan upacara bendera. Ibu kepala sekolah memberitahukan kepada peserta upacara bahwa di sekolah ada dua orang ibu guru baru yang akan bertugas mengajar. Kemudian ibu kepala sekolah memberikan kesempatan kepada kami untuk memperkenal kan diri. Kami pun bergantian memperkenalkan diri dan dilanjutkan dengan ucapan selamat datang dari murid-murid kemudian bersalaman dengan kami. 

Mbak Prapti temanku mendapat tugas mengajar di kelas 4 dan aku sendiri mendapat tugas di kelas 1. Sungguh merupakan hari yang berasa seperti gado-gado, atau bahkan berasa  ketoprak, dimana beberapa sayuran dicampur aduk menjadi satu untuk dijadikan sebuah menu. Seperti itu juga dengan diriku, hari pertama diberi tugas untuk mengajar kelas 1. Kita ketahui bersama bahwa kelas 1 merupakan awal dari pendidikan dasar dan pada waktu itu hampir sebagian besar murid kelas 1 di desa tersebut tidak mengenyam pendidikan Taman Kanak-Kanak sebelumnya. Anak-anak masih menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi sedangkan aku  belum bisa sama sekali bahasa Banjar, yang merupakan bahasa daerah setempat.

Setelah membuka pembelajaran dengan memberikan apersepsi kepada anak-anak aku lanjutkan dengan memberikan materi pelajaran matematika caturwulan ketiga. Aku mulai menjelaskan dan menuliskan di papan tulis, tiba-tiba ada seorang murid yang nyeletuk  “Bu ngalih” disambung dengan siswa yang lain yang mengatakan “Bu ngalih…”  “Bu ngalih” tanpa pikir panjang lagi aku pindah dari sebelah kiri papan tulis ke sebelah kanan papan tulis dan aku lanjutkan lagi dengan menjelaskan sambil menuliskan di papan tulis. Kembali anak-anak nyeletuk “Bu ngalih…” “Bu ngalih…” Aku semakin bingung karena setiap Aku pindah tempat dari kanan ke kiri dan sebaliknya dari kiri ke kanan papan tulis anak-anak tetap mengatakan ‘ngalih”. Aku pun berlari ke ruang guru dan bertanya “Bapak, Ibu mohon izin, ngalih itu apa ya?” dijawab oleh bapak dan ibu guru bahwa  ngalih itu sulit ataupun sukar, aku tertawa sambil berkata   ” Oh… pantas” kataku sambil menepuk dahi. Guru-guru tersebut bertanya kembali “Ada apa Bu? Kemudian aku menjelaskan, “Pantas saja beberapa kali saya pindah dari sebelah kiri papan tulis ke sebelah kanannya ataupun sebaliknya anak-anak selalu bilang ngalih, ternyata ngalih itu artinya susah, sulit ataupun sukar.” “Ternyata yang ngalih itu  materi pelajaran yang saya sampaikan kepada mereka, bukan karena saya melindungi mereka untuk melihat ke arah papan tulis.” Sambungku. Kontan saja semua yang ada di dalam ruang guru tersebut tertawa dan aku kembali ke kelas 1 untuk melanjutkan mengajar lagi sambil sesekali tersenyum sendiri.

Pelajaran dilanjutkan dengan Bahasa Indonesia materi membuat kalimat menggunakan kata berjalan. Masing-masing anak secara lisan menyampaikan kalimatnya sendiri-sendiri, ada yang mengatakan aku berjalan di tembok ada juga yang mengatakan mama dan aku berjalan di tembok menuju ke pasar. Ya ampun…. gumam aku dalam hati, anak-anak ini kok seperti Spider-man atau cicak yang merayap di dinding.

Kembali aku berlari ke ruang guru dan menanyakan tentang kejadian tersebut. “Pak… Bu… mengapa sebagian besar anak-anak mengatakan berjalan di tembok padahal setahu saya tembok itu adalah dinding.” “Bu… tembok dalam bahasa Banjar itu berarti jalan.” Kata ibu kepala sekolah. Hahaha… kembali terdengar suara tertawa di ruang guru dan aku sambil geleng-geleng kepala melangkah menuju ke ruang kelas 1.

Tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa yang pertama didapat oleh seorang anak adalah bahasa ibu, karena dari ibunya pertama kali seorang anak dididik untuk belajar mengucapkan kata. Sebagian  besar seorang ibu yang tinggal di desa menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi, oleh sebab itu, bahasa daerah kadang disebut sebagai bahasa ibu.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, dijelaskan bahwa bahasa ibu (bahasa asli, bahasa pertama; secara harfiah mother tongue, mother language, native language, atau first language dalam bahasa Inggris) merupakan bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak lahir melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya. Kepandaian dalam bahasa asli sangat penting untuk proses belajar berikutnya, karena bahasa ibu dianggap sebagai dasar cara berpikir. Kepandaian yang kurang dari bahasa pertama sering kali membuat proses belajar bahasa lain menjadi lebih sulit. Oleh karena itu bahasa ibu memiliki peran penting dalam pendidikan. Bahasa ibu adalah bahasa yang pertama dipakai dalam komunikasi pertama seorang anak dengan orang tuanya serta menjadikan bahasa ibu sebagai alat komunikasi sehari hari.

Menurut David Crystal, Linguis dari London mengungkapkan bahwa setiap saat ketika kita kehilangan satu bahasa, kita pun kehilangan satu impian di dunia. Oleh karena itu, tidak tepat jika kita mengajarkan si kecil bahassa asing tanpa memperkuat bahasa ibu terlebih dahulu.

Berikut ini manfaat yang dapat kita ambil dalam penguasaan bahasa ibu sedari usia dini sebagaimana uraian di bawah ini.

  • Melestarikan budaya daerah

Bahasa daerah yang lestari memiliki peran dalam melestarikan budaya dan bahasa daerah. Sebab bahasa ini berhubungan dengan jati diri dan peradaban manusia penggunanya. Apabila tidak dilestarikan, maka akan punah seperti flora dan fauna di dunia. Dilansir dari liputan6.com, dari 652 bahasa daerah di Indonesia, 19 bahasa daerah dalam posisi terancam punah, 2 bahasa daerah sudah kritis, dan 11 bahasa daerah telah punah. Hal ini disebabkan ketiadaan generasi yang menggunakan bahas daerah.

  • Mempermudah si kecil dalam belajar bahasa asing

Perkembangan bahasa anak dapat dimulai dengan penguasaan bahasa ibu terlebih dahulu. Idealnya anak diberi pelajaran bahasa asing pada usia 6-10 tahun. Jika bahasa daerah secara baku telah dikuasai maka dapat menjadi dasar atau pegangan dalam belajar bahasa asing.

  • Membentuk aksen anak sedini mungkin

Aksen yang melekat pada anak sedari kecil dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam berinteraksi dalam masyarakat. Sebab, anak-anak yang cenderung menggunakan aksen bahasa asing akan dianggap sok atau tidak membumi.

  • Memperkuat kepercayaan diri anak

Rasa percaya diri semakin kuat dengan penguasaan bahasa ibu sejak dini. Sebab, anak akan merasa dianggap sebagai bagian dari sebuah kebudayaan. Berinteraksi dengan masyarakat sebudaya pun menjadi lebih percaya diri.

  • Mempercepat untuk memahami konsep

Menurut Dr.Felicia Nutari Utorodewo, Direktur SEAMEO QITEP Language, anak-anak yang sejak dini diajarkan bahasa daerah lebih mudah untuk menguasai hal-hal konseptual, seperti tata krama dan norma yang berlaku di masyarakat sekitar. Ketika memasuki Sekolah Dasar anak yang menguasai bahasa ibu juga cenderung lebih mudah untuk mengerti dan memahami pelajaran dibandingkan anak yang sedari kecil diajarkan bahasa asing.

Anak-anak yang berbahasa ibu akan lebih menguasai hal-hal konseptual secara lekas dibandingkan dengan yang terlebih dahulu menguasai bahasa asing. Norma-norma, budi pekerti, dan nilai banyak dikandung oleh bahasa daerah. Anak yang diberikan pelajaran banyak bahasa ketika usia dini cenderung lambat dalam berbicara. Karena, ia harus mengidentifikasi terlebih dahulu konsep kata yang diucapkan, sehingga tidak cepat dalam merespons. Anak menjadi bingung.

Dr Felicia Nuradi Utorodewo mengungkapkan, pada usia batita dan balita memang seorang anak dapat menguasai 16 macam bahasa. Namun, setelah memasuki usia 5-6 tahun, mereka hanya akan memilih bahasa yang penting, bahasa lain yang menurut mereka kurang penting akan ditinggalkan.

Pemakaian bahasa daerah ini pun didukung oleh UNESCO. Setiap tahun pada tanggal 21 Februari diperingati sebagai Bahasa Ibu Internasional.

Dengan memahami uraian di atas, seyogyanya seorang guru yang ditugaskan di daerah yang bukan daerah asalnya, harus lebih banyak belajar bahasa daerah setempat, agar komunikasi dengan siswa tidak terkendala. Selain itu, pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran akan lebih bisa maksimal. Sumber bacaan:
Laman Asli : https://www.appletreebsd.com/berbahasa-ibu-apakah-anak-anda-ayo-ketahui-5-peranan-bahasa-ibu-untuk-anak-usia-dini

0Shares

By Admin

One thought on “Awal yang Penuh Kelucuan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *