banner 728x250

Ampunan di Malam Ramadan

banner 120x600
banner 468x60

Begitu banyak keutamaan salat tarawih berjamaah. Selain silaturahmi, memakmurkan masjid, pahala yang berlipat ganda juga ampunan atas dosa-dosa bagi hamba-hamba-Nya yang menunaikan

Oleh: Agus S. Saefullah
8 Ramadan 1443 H

banner 325x300

Malam hari di Bulan Ramadan adalah malam dengan seluas kemuliaan. Bintang-Bintang saling mengedipkan matanya satu sama lain, hilal mulai membesar beranjak menjadi bulan yang lebih sempurna serta gemuruh tadarus menghiasi betapa hidupnya suasana indah di bulan ini.

Suasana yang hadir sebakda muslimin menunaikan shalat malam di bulan ramadhan. Shalat tarawih berjamaah di surau-surau yang bangunan dan fasilitasnya sederhana tapi jumlah jamaahnya sangat istimewa.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam shalat di masjid suatu malam, maka orang-orang pun ikut salat di belakang beliau.” Kata Aisyah radhiyallahu ‘anha. “Kemudian beliau salat lagi di malam berikutnya. Maka orang-orang yang ikut pun semakin banyak. Kemudian mereka berkumpul di masjid di malam yang ketiga atau keempat. Namun ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tidak keluar. Ketiga pagi hari beliau bersabda: aku melihat apa yang kalian lakukan semalam. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar kecuali aku khawatir salat tersebut diwajibkan atas kalian”. Perawi mengatakan: “itu di bulan Ramadhan” Demikian Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan.

Lalu mana yang lebih antara shalat tarawih berjamaah atau sendiri?

Jumhur ulama bersepakat yang lebih baik adalah shalat tarawih berjamaah. Adapun Nabi shalat sendirian di rumah bukan sedang menunjukan salat sendiri lebih baik, namun agar shalat ini tidak diwajibkan. Sedangkan berjamaah tetap kembali kepada keutamaan awal yaitu lebih baik. Sebagaimana sabdanya dalam riwayat Bukhari dan Muslim , ““Shalat jama’ah lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak 27 derajat.

Dikuatkan oleh atsar sahabat yang mengatakan bahwa salat berjamaah termasuk Salat tarawih adalah lebih baik.

Dari Abdurrahman bin Abdil Qari, ia berkata:

Aku keluar bersama Umar radhiallahu’anhu pada suatu malam bulan Ramadan ke masjid. Ketika itu orang-orang di masjid shalat berkelompok-kelompok terpisah-pisah. Ada yang shalat sendiri-sendiri, ada juga yang membuat jamaah bersama beberapa orang. Umar berkata: ‘Menurutku jika aku satukan mereka ini untuk shalat bermakmum di belakang satu orang qari’ itu akan lebih baik’. Maka Umar pun bertekad untuk mewujudkannya, dan ia pun menyatukan orang-orang untuk shalat tarawih berjamaah bermakmum kepada Ubay bin Ka’ab” Begitu Bukhari menuliskan dalam riwayatnya.

Pun demkian dengan para ulama. Ath Thahawi dalam “Mukhtashar Ikhtilaf Ulama” mengatakan:

Para ulama ijma bahwa tidak boleh orang-orang meninggalkan masjid-masjid untuk mengerjakan qiyam Ramadhan. Dan qiyam Ramadhan ini fardhu kifayah, barangsiapa mengerjakannya berjamaah maka itu lebih utama dari pada sendirian

Sementara itu Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” juga menyatakan,

Berjamaah dalam mengerjakan shalat tarawih itu lebih utama. Andai ada seorang yang meniru Rasulullah dengan shalat di rumah, aku khawatir orang-orang lain akan mengikutinya. Padahal Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘ikutilah para khulafa (ar rasyidin)’. Dan terdapat riwayat bahwa Umar bin Khathab mengerjakan shalat tarawih secara berjamaah. Dan kami menegaskan bahwa para sahabat ijma akan hal ini

Salat tarawih berjamaah tentu akan menghadirkan banyak keutamaan yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Selain silaturahmi, memakmurkan masjid, pahala yang berlipat ganda juga ada ampunan atas dosa-dosa bagi hamba-hamba-Nya yang menunaikan.

“Barangsiapa yang menegakkan (malam-malam) bulan Ramadhan dengan keimanan dan mencari keridhaan Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Begitulah Nabi bersabda dalam riwayat Bukhari dan Muslim.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *