banner 728x250

Amandemen Regulasi Puasa

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Ade Zaenudin

Allah SWT mewajibkan orang beriman agar melakukan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan pada tahun kedua hijriyah sebagaimana tertuang dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 183, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelummu agar kamu bertakwa. Ayat ini pun yang menjadi bukti otentik bahwa puasa pernah diberlakukan pada umat-umat sebelumnya.

banner 325x300

Merujuk pada kitab tafsir Ibnu Katsir, setidaknya ada tiga regulasi terkait tata cara puasa yang diamandemen oleh Al-Quran, tepatnya setelah Nabi hijrah ke Madinah.

Pertama, sebelumnya puasa hanya wajib selama tiga hari pada setiap bulan, sebagaimana riwayat Mu’adz, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Atha, Qathadah, dan adh-dhahak bin Muzahim. Selain puasa tiga hari juga diwajibkan puasa Asyuro. Tata cara puasa tersebut kemudian diamandemen Q.S. Al-Baqarah ayat 185 yang mewajibkan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.

Kedua, sebelumnya boleh memilih antara puasa atau membayar fidyah, siapa yang mau puasa silakan kerjakan, bagi yang tidak mau tidak usah mengerjakan hanya saja dia harus membayar fidyah atau memberikan makanan kepada orang yang berhak menerimanya. Tata cara tersebut kemudian diamandemen Q.S. Al Baqarah ayat 184, maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Ayat tersebut menegaskan bahwa fidyah hanya untuk orang yang sudah tidak mampu berpuasa lagi, dan puasa bukan sebagai alternatif pilihan, tapi menjadi sebuah kewajiban bagi umat Islam.

Ketiga, sebelumnya sahur itu dimulai ketika tidur malam, jam berapapun. Contoh, jika kita tidur mulai jam 10 malam, maka sejak saat itu pula kita berpuasa, andai malam terbangun maka sudah tidak boleh melakukan hal-hal yang membatalkan puasa walaupun belum terbit fajar. Tata cara ini kemudian diamandemen Q.S. Al Baqarah ayat 187 yang menyatakan bahwa ketika malam masih boleh rofast (hubungan suami istri) dan puasa pun dimulai ketika terbit fajar. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.

Amandemen regulasi puasa ini setidaknya memberikan dua gambaran kepada kita. Pertama, pemberlakuan puasa disyariatkan oleh Allah SWT secara step by step. Ini menjadi bukti betapa Rahman dan Rahim-nya Allah SWT dalam memberlakukan sebuah aturan. Kedua, dalam memberlakukan sebuah aturan, Allah SWT tidak bermaksud memberatkan umat-Nya, namun memperhatikan betul kemampuan umat-Nya.

Wallohu a’lam

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *