Aku Jatuh Cinta
Oleh : Cicik

“Sini!” tangan Santi kuat menarik tanganku sambil melangkah cepat.
Tarikan t,angan setengah mencengkeram mengejutkanku yang sedang asyik ngobrol dengan Tatik, dan tak kuasa menepis tarikan tangan itu.
“Duhhh … apaan kau ini, San?” teriakku terkejut.

Aku mencoba menjaga keseimbangan tubuh agar tidak terjatuh. Setengah berlari aku mengikuti langkah cepat Santi. Digelandangnya aku menuju pintu gerbang sekolah. Dekat dengan gerbang keluar sekolahku terdapat ruang guru, ruang kepala sekolah dan ruang tata usaha, yang dipisahkan oleh tempat parkir dan taman. Di depan masing-masing ruang tersebut terdapat deretan kursi untuk ruang tunggu tamu, walaupun terkadang kami juga nongkrong di sana, jika tidak ada tamu.

Santi terus menggelandangku melewati dua orang tamu yang sedang duduk di depan ruang kepala sekolah. Kami melambatkan langkah dan tersenyum sambil menganggukkan kepala, tanda permisi karena lewat di depan tamu-tamu itu. Setelah itu Santi mempercepat kembali langkahnya tanpa melepas pegangan tangannya di pergelangan tanganku.

“Mau kemana kita, San?” tanyaku kebingungan. Karena sepanjang jalan menuju gerbang, Santi tidak berkata sepatah kata pun.
“Ssssstttt!” isyaratnya dengan jari tangan kanannya. Aku hanya memandang punggungnya dengan heran. Mana pedes rasanya tangan kananku dicengkeram tangannya.

Sesampai di luar pagar sekolah, Santi melepaskan pegangan tangannya. “Entar kita balik lagi, lewat dua orang tamu di depan ruang kepsek. Perhatikan mereka baik-baik!” ujar tegasnya
“Emang kenapa dengan tamu-tamu itu?” tanyaku heran.
Kepoku semakin menjadi melihat tingkah Santi. Dia rapikan tatanan rambut hitam bergelombangnya yang aku selalu iri melihatnya. Rambut hitam tebal nongkrong indah di kepalanya. Dia rapikan hem putih dan rok biru kotak-kotaknya.

Aku semakin melongo, ketika dia bertanya,”Aku udah lebih rapi kan ya, Cin?”
“Udah! Udah cuantiiik! Gak pakai bedak apa gincu sekalian?” jawabku kesal.
Santi menjulurkan lidahnya dan kembali menarik tanganku untuk melakukan adegan kedua. Kali ini dia berjalan agak pelan. Aku pun mengikuti berjalan pelan. Sesampai di depan kedua tamu tadi, kembali dia anggukkan kepalanya.

Basa-basi dia sapa tamu-tamu itu, “Siang, Pak.” Dia lemparkan senyum manisnya.
Aku? Hahahaha … masih terpesona melihat tingkah Santi, hingga hanya sempat sekilas memandang wajah kedua tamu itu dan mengangguk kecil.
Kami kembali melangkah cepat, menuju teras depan kelas. Sesampai di teras, kusentakkan pegangan tangan Santi.
“Gila kamu! Apa-apaan tadi itu?” tak tahan aku menahan jengkel binti kepo. Aku hempaskan pantatku di lantai teras depan kelas.

“Ya Allah, Cin, apa kamu gak lihat? Dua mahluk itu sungguh membuatku sesak nafas karena so handsome. Mosok kamu gak lihat?” setengah histeris Santi melanjutkan ceritanya, “mereka itu guru baru di sekolah kitaaa, Cin. Bayangkan, mereka akan mengajar di kelas kita. Oh my God.” Ekspresi wajah Santi bak orang panik.
Aku ternganga,”Emang kamu tahu darimana kalau mereka calon guru kita?”

“Tadi itu, sebelum kuajak kamu, akulah orang pertama yang bertemu mereka. Ketika mereka selesai parkir motornya, mereka berdua menghentikan langkahku, nanya di mana ruang kepsek dan ada apa tidak kepsek kita. Aku bilang aja ke mereka untuk ke ruang tata usaha,” jelas Santi.

Santi bercerita sambil berdiri dan berjalan mondar-mandir di depanku dan kadang berhenti, persis orang yang lagi gelisah.
“Sambil kuantar mereka ke ruang tata usaha aku nanya, mereka siapa? Mereka jawab kalo mereka itu guru baru yang ditempatkan di sekolah kita … Wajahnya Cin … Wajahnya … Sungguh aku hampir pingsan ketika salah satunya tersenyum padaku dan menanyakan namaku juga kelasku,” heboh cerita dari bibir imut itu.

“Trus aku kudu bilang wow gitu?” gerutuku sambil kupelototkan mataku.
Aku melihat Santi dengan penuh heran. Kulihat pipinya semburatkan merah, matanya berbinar-binar, dan senyumnya sungguh lebar dan serba misterius.
Santi temasuk salah satu mahluk manis di kelasku. Manis dan pintar, tapi masih kalah pintar dariku, walau aku kalah manis darinya. Mungkin dia kalah pintar denganku karena dia termasuk murid yang suka bikin gemes para guru dengan keisengannya.

Obrolannya tentang guru baru terputus sesaat oleh dentang bel tanda masuk kelas. Istirahat telah usai. Kami beramai-ramai kembali masuk kelas dan menuju tempat duduk masing-masing. Aku dan Santi sebangku. Begitu pantatku menyentuh kursi, Santi melanjutkan obrolannya.
“Aku tadi lupa tidak menanyakan namanya, Cin. Bodohnya aku,” dia tepukkan telapak tangannya di jidatnya, “padahal dia tadi cukup banyak bertanya padaku.”
“Heleh, segitunya kamu San. Entar juga ketemu klo emang ngajar di kelas kita,” cetusku sebel.

Kuambil tasku di laci meja dan kusiapkan buku pelajaran berikutnya. Tiba-tiba kembali Santi mencengkeram lenganku.
“Apa-apaan sih kamu ini! Sakit tau!” teriakku spontan antara kaget dan sakit.
Kali ini tangan Santi terasa dingin. Kulihat wajahnya yang terpesona. Kuikuti arah pandangan matanya. Ternyata pandangan matanya tertuju pada sebuah sosok tinggi tegap, berwajah tegas ramah.
Sosok itu berdiri di ambang pintu kelas, tersenyum dan menyapa, “Selamat siang, anak-anak,” dengan suara lantang penuh wibawa.

Cengkeraman tangan Santi semakin menyakitkan dan berlumuran keringat dingin. Gumaman tak jelas keluar dari bibir imutnya, “Aku benar-benar jatuh cinta padanya.”
Kulepaskan cengkeramannya dan kudesiskan, “Gila kamu! Beliau itu guru kita! Gu … Ru!”
Desisan pedesku tak bisa menyadarkannya. Dia bagai terbang di awan biru. Kutendang kakinya. Tak ada pengaruh! Kupegang kepalanya dan kupalingkan wajahnya untuk beralih padaku.
“Tak boleh memandang berlebihan begitu!” desisku gemes, “kalo kamu tidak mau kerasukan setan!”

Santi memelototkan matanya tanda protes dan hendak membuka mulutnya, namun terputus oleh satu kalimat tegas dari arah depan kelas.
Kami berdua terkejut dan menjawab lirih dengan satu kata “maaf” sambil melihat sekilas guru baru kami, kemudian kami tertunduk dan terdiam.

Kulirik Santi, dia pun sedang melirikku dan berbarengan menjulurkan lidah … “weekkkk!”
Kalimat sapa dan perkenalan memenuhi ruang kelas. Senyum dan canda menyelinginya. Harapan pada seorang guru yang mampu mendidik kami dan dekat dengan kami, sepertinya terijabah pada guru baru kami.
Selamat Hari Guru, Pak. Bapak hadiah terindah bagi kami untuk mencapai cita-cita kami.

Hariguru

ChallengeKALIMAT

Sisilainsangguru

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *