Oleh: Cicik

Senyumnya yang menawan terlukis cantik di pipi gembilnya. Jerit renyahnya memenuhi ruang kecil ini. Terkekeh setiap kali kumainkan peganganku di kedua tangan mungil itu. Semakin erat pegangannya … dan hati-hati dia angkat tubuhnya … pandangan mata jernih itu memandangku penuh harap.

Yuk … 1 … 2 … 3 … kamu bisa … cantikku pasti bisa … senyumnya melebar … walau ada setitik khawatir di bola matanya. Satu langkah … tertatih dia kutitah … larut aku dan dia dalam riuh tawa dan kata. Hingga … pelan dia lepaskan pegangannya … satu … dua … ha … ha … ha … dia bisa … Ya Allah … kusongsong dia … kuangkat tubuh mungilnya yang masih berhias derai tawa … kulampiaskan bahagia …

“Tyas, … Nduk ….” Suara pelan lembut ibu menerobos gendang telingaku.

Ah … jangan ganggu bahagiaku, Bu. Aku lanjutkan mengangkat cantikku dan berputar tertawa bersama.

“Nduk … Bangun!”

Kali ini disertai beberapa kali tepukan di pundakku. Ibu sungguh mengganggu keasyikanku kata batinku. Kutepiskan tepukan itu. Ahhh …

“Tyas, bangun! Ini ada telpon untukmu,” teriak pelan ibu.

Aku tersentak dan tersadar oleh goncangan tangan ibu di pundak yang semakin mengeras disertai panggilannya yang tidak berhenti.

“Astaghfirullah! Maaf, Bu. Tyas gak tahu kalau ibu yang membangunkan,” seru kagetku.

“Lha iya, kamu lelap sekali menemani keponakanmu tidur. Handphonemu ini lho, berulangkali berdering, Kalau-kalau ada berita penting buatmu. Ibu gak berani angkat.”

Ibu berikan gawaiku yang sudah berhenti berdering. Aku lihat ada empat kali panggilan masuk dari Rio.  Segera aku beringsut menjauh dari si mungil cantikku dan kusentuh lambang panggilan Rio. Panggilanku langsung disahut oleh Rio.

“Siang, Tyas. Apa kabar?”

“Siang, Rio. Maaf, aku tertidur tadi. Ada apa, nih?” tanyaku.

“Maaf sebelumnya, Tyas. Sekedar mengingatkan besok hari terakhirmu cuti. Semoga gak lupa,” ucap Rio.

Kusandarkan punggungku di ambang pintu kamar. Aku pandang wajah si mungil cantikku yang masih terlelap.

“Iya, aku ingat kok. Ini juga mulai berkemas,” jawabku lirih. “Rio …?”

“Yap. Ada yang bisa kubantu, Tyas?”

“Bisakah aku perpanjang cutiku barang sehari?” tanyaku galau.

“Waduh, aku gak paham. Nanti coba aku tanyakan ke bagian kepegawaian. Boleh aku tahu alasannya, Tyas? Untuk kusampaikan ke kepegawaian,” sambut Rio.

“Pekerjaan kita bagaimana ya, Rio? Aku tak sempat memikirkannya,” selaku.

“Kalo tentang itu … tak usah kau pikir dulu. Aku masih dapat menanganinya. Tapi, jangan lama-lama yo, Tyas. Untuk yang tahap selanjutnya harus ada kamu. Kamu leadernya. Aku gak bisa … bukan spesialisasiku.”

Aku terdiam sesaat. Terbayang kembali rangkaian tahapan pekerjaan yang belum sempat aku sentuh lagi sejak mbak Nia meninggal.

“Insyaa Allah. Aku siapkan diri dan keponakanku dulu. Nti aku segera balik ngantor,” jawabku.

“Ok. Aku sampaikan perpanjangan cutimu. Surat resminya nyusul, gak apa-apa,”

“Makasih, Rio. Met siang.”

Aku akhiri pembicaraan dengan Rio, tim kerjaku. Aku mendekati tubuh mungil itu. Menata bedongnya dan cek bedong itu, basah atau tidak. Alhamdulillah, masih nyaman. Kupasang bantal dan gulingku di sisi-sisnya, sekedar menjaga tubuh mungil itu.

Kulangkahkan kaki keluar kamar untuk menemui ibu dan bapak. Ada sedikit hal yang harus kusampaikan. Sekedar memantapkan hati untuk mengambil keputusan.

Sebelum adzan dhuhur biasanya beliau berdua duduk-duduk di ruang tengah. Bapak sudah pensiun sejak dua tahun yang lalu. Ibu memilih menjadi ibu rumah tangga. Seorang ibu yang penuh perhatian pada anak-anaknya dan sangat menghormati suaminya.

Benar dugaanku, beliau berdua sedang asyik dengan kesibukan masing-masing. Bapak membaca koran dan ibu asyik dengan rajutannya. Tak aku dapati bayang tubuh Bagus. Mungkin dia sudah menghilang lagi.

Aku ambil posisi duduk di kursi seberang kedua orangtuaku.

“Pak, Bu … Tyas hendak matur,” pintaku.

Bapak meletakkan korannya dan ibu menghentikan rajutannya.

“Ya? Ada apa, Tyas?” tanya Bapak.

“Besok hari terakhir Tyas cuti. Tyas bingung, Pak…Buk,” suaraku bergetar galau. “Tyas rasanya belum siap jika harus segera balik kantor.”

Bapak memandangku serius.

“Kalau memang sudah habis masa cutimu, ya kamu harus siap. Pekerjaanmu itu kan perlu kehadiranmu juga merupakan kewajibanmu menyelesaikannya,” jawab Bapak tegas.

Aku mendesah. Bapak tidak sensitif untuk urusan perasaan anaknya. Hal yang sama ketika Bapak sampaikan keputusan menyakitkan itu dulu.

“Nduk, apa yang membuatmu merasa tidak siap?” tanya lembut ibu.

Aku memandang ibu dengan wajah memelas.

“Bu, bagaimana dengan anak mbak Nia jika aku tinggalkan?” keluar juga galauku. “Dia masih bayi merah. Dia sepertinya tidak mau aku tinggalkan. Seperti tadi, Bu,” jelasku

Ibu tersenyum teduh.

“Ada ibu, insyaa Allah ibu masih sehat dan kuat momong cucu ibu,” jawab ibu tenang, berusaha menenangkan diriku.

“Tapi, Bu? Tadi …?” sanggahku.

Ibu masih dengan senyum dan pandangan teduhnya menenangkanku.

“Tidak apa-apa. Besok juga dia tidak akan rewel seperti tadi. Hanya butuh waktu untuk membiasakan dia tanpa sentuhan tanganmu dan bau tubuhmu, Tyas.”

Aku tertunduk, iya mungkin seperti itu. Aku tak paham. Tapi bagaimana dengan janjiku pada mbak Nia? Kembali aku gelisah.

“Ada apa lagi, Tyas?” tanya Ibu. Sepertinya beliau melihat masih ada gelisahku.

“Tidak usah kamu pikir banget, Tyas. Apa yang dikatakan ibumu itu benar. Butuh waktu. Nanti ibumu ada yang membantu menjaga anak Nia. Kamu siapkan diri kamu untuk kembali bekerja,” sahut Bapak.

Aku pandang bapakku. Laki-laki yang masih gagah di usianya. Gurat wajah menunjukkan betapa keras pendiriannya. Namun, sebuah rumah tangga sepertinya butuh pemimpin yang seperti bapak. Walaupun anak-anaknya tidak begitu dekat, tapi semuanya sangat menghormatinya.

“Tyas pernah berjanji pada mbak Nia. Tyas pernah mengiyakan untuk menemaninya saat melahirkan dan menjaga anaknya,” sanggahku.

Air mataku mulai memudarkan pandangan mataku.

“Tyas tidak sempat menemani mbak Nia melahirkan. Tyas lupa bahwa Tyas ada janji dengan mbak Nia.”

“Itu karena kamu tidak pernah pulang barang sejenak, Tyas. Bahkan memberi kabarpun hanya kamu berikan jika adikmu atau ibumu menghubungi dulu. Bapak juga tidak bisa mengerti, kenapa kamu sama sekali tidak pernah pulang dengan seribu alasanmu itu,” sahut bapak.

Aku tidak tahan lagi menahan air mataku. Aku pandang bapak, sejenak, ingin aku jawab kalimat bapak yang membuka luka lamaku. Rasanya sudah tidak tahan lagi aku untuk diam.

“Pak, sudahlah … tak usah bapak bicarakan lagi hal itu,” pinta Ibu.

“Coba kamu jelaskan pada bapakmu ini, Tyas. Kenapa kamu sama sekali tidak mau pulang? Apa kamu kira kami ini, bapakmu ini tidak rindu kamu? Atau ada salah yang kami perbuat padamu, hingga kamu tidak mau memaafkan dengan ketidakpulanganmu itu?”

Sesaat suasana hening mencekam. Aku berusaha mengendalikan diriku.

“Tyas tidak bisa matur, Pak. Biarlah bapak, ibuk dan Denok menyalahkan keputusan Tyas. Tyas berharap bahwa ketidakpulangan Tyas akan memberikan kebaikan buat semuanya. Terutama untuk mbak Nia dan … Bagus.” Air mataku tiba-tiba mengering. “Tyas ijin balik ke kamar, Pak … Bu.”

Kembali dalam kamar ini kutumpahkan air mata yang derasnya sama dengan malam itu. Hanya kali ini aku mempunyai teman untuk membagi air mataku walau dia tidak mengerti dan masih terlelap.

Terdengar langkah lembut mendekatiku. Langkah kaki ibuku, aku sangat hafal dengan langkahnya.

“Nduk, jangan kamu ambil hati ucapan bapakmu tadi. Semua karena bapakmu sayang padamu dan kepengin kamu sering pulang,” nasehat ibuk.

Aku bangun dan duduk. Ibu duduk di sebelahku, memelukku, dan kubaringkan kepalaku di pangkuannya.

“Ibuk paham yang kamu rasakan, Tyas. Ibuk juga paham kenapa kamu tidak mau pulang. Maafkan kami, maafkan bapak juga ibuk,” bisik pelan ibuk di telingaku.

TIdak ada kata yang mampu aku keluarkan.

“Kamu harus melupakan sakit hatimu itu. Keponakanmu itu, menanti janjimu. Pikirkan itu dengan tenang. Sekarang kamu tata hatimu untuk meninggalkannya, sejenak. Tidak usah berlama kamu meninggalkannya. Selesaikan kewajiban atas pekerjaanmu. Dan …” kata-kata Ibu terhenti.

Kuangkat kepalaku dan tubuhku, menatap ibuku … menanti kelanjutannya.

“Dan … dan apa Bu?” tanyaku

Ibuk menatapku dengan penuh sayang. Dia pegang tanganku. Ada senyum di sudut bibirnya walau ada keraguan di tatapan matanya.

“Dan semoga Bagus menjemputmu … membawamu kembali bersama kami. Menjaga anak Nia bersama-sama.”

Aku terkejut dengan harapan ibu. Mulutku ternganga namun tak mampu berkata-kata.

“Ibu tahu cerita kalian berdua. Ibu tahu hatimu masih ada di hatinya, dan sebaliknya. Ibu pun tahu kalau Nia tahu bahwa dia hanya bisa memiliki raga Bagus, bukan hatinya. Semua dari kita saling menjaga dan tetap menyayangi. Skenario Allah demikian rumit. Tapi Ibu percaya bahwa niat tulus dari kitalah yang menguatkan kita semuanya,” kisah ibu.

Suaranya bergetar, matanya berkabut. “Bagus menjaga rumahtangganya dengan penuh tanggungjawab. Belajar mengasihi Nia semampu dia. Kamu pun ikut menjaganya, Tyas. Kalian mencoba untuk saling menguatkan dengan cara kalian. Ibu hanya bisa mendoakan kebaikan atas semua pengorbanan kalian.”

Aku tergugu dalam kelu.

“Mulai hari ini, kamu siapkan hatimu untuk meninggalkan keponakanmu. Kita bersama-sama menyiapkan cucu ibu ditinggalkan tantenya tersayang untuk sementara waktu. Mulai besok tidak usah sering-sering kamu pegang dia. Ibu dan Bagus akan perlahan-lahan menggantikanmu,” tegas ibu. Aku hanya dapat mengangguk dan memeluk ibuk. Aku harus siap … aku harus kembali ke kantorku … aku harus selasaikan pekerjaanku … dan menunggunya menjemputku … Akankah?

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *