pexels-photo-552774.jpeg

Ada Masanya

“Semua ada masanya”. Begitu kebanyakan orang mengatakan dalam mengomentari sebuah kejadian yang menimpa dirinya ataupun orang lain. Di saat harapan yang belum tercapai, kalimat tersebutlah yang keluar dari lisannya. Masa lampau, yang sedang terjadi, dan masa mendatang merupakan peristiwa dari perjalanan hidup manusia di dunia.
Kondisi yang satu dengan kondisi yang lain juga tak luput dari bagi cerita hidup manusia. Semisal masa muda dan masa tua. Masa sedih dan masa bahagia. Masa lajang dan masa menikah. Masa sehat dan sakit. Jika mau menyebutkan satu persatu, masih banyak lagi yang bisa diungkapkan terkait masa.
Apa itu masa? Masa adalah waktu. Masa juga berarti ketika dan saat.
Dalam dunia Islam, masa ditempatkan pada posisi yang cukup istimewa. Kata masa, ada dalam Al-Quran pada juz terakhir. Tepatanya di surat al Ashr. Surat pendek yang dihapal tiap orang muslim seluruh dunia. Dari anak kecil sampai orang tua.
Walau surat pendek, al Ashr memiliki arti dan makna yang mendalam. Imam Syafi’i memaknainya, bahwa setiap muslim hanya cukup surat al Ashr ini saja apabila merenunginya.
Imam Asy Syafi’i pernah mengatakan,

لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسَعَتْهُمْ

”Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/499).
Apa maksudnya sampai-sampai Imam Asy Syafi’i berkata demikian? Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Tsalasatul Ushulnya menjelaskan, ”Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu”.
Lebih lanjut Beliau menjelaskan Imam Syafi’i tidak bermaksud mengatakan bahwa, “manusia cukup merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal salih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar”.
Sebagai muslim yang tinggal di negara yang bermazhab Syafi’i tentunya sependapat dengan Beliau. Sebagai pendiri salah satu mazhab, keilmuannya tidak kita ragukan lagi dalam memaknai sebuah surat Al-Qur’an.
Di dalam surat Al Ashr, sesungguhnya manusia dalam keadaaan merugi apabila tidak memanfaatkan waktunya dalam menjalankan kehidupannya. Ada masanya manusia dalam keadaan merugi. Ada masanya pula manusia dalam keadaan beruntung. Ibarat berniaga, tidak ada yang menginginkan kerugian walaupun kadang mengalami kerugian. Demikian pula dalam hidup, sebisa mungkin manusia ingin mendapatkan kentungan.
Surat Al Ashr menuntun setiap muslim dalam menjalankan waktunya agar mendapatkan keuntungan di dunia dan akhirat. Andai tiap muslim menjalankan empat hal itu, bukan tidak mungkin kehidupan manusia akan selalu dihiasai dengan kedamaian. Setiap muslim yang beriman menghiasai waktunya dengan amal salih. Mengisi waktunya untuk saling menasihati satu sama lain pada jalan kebenaran. Waktunya pun selalu dipenuhi dengan nasihat agar selalu bersabar.
Demikianlah, ada masanya tiap muslim merugi apabila tak menjalankan hidupnya dengan amal salih. Namun jika ingin beruntung isilah hari-harinya dengan amal salih. Wallahua’lam

Azwar Richard
290321

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *