By. Suwarni Sulaiman

Kumandang azan subuh itu begitu syahdu mengaduk hati dan perasaan hingga kedua kelopak mata ibu Ani pagi itu terlihat sendu.

Ibu Ani begitu membayangkan ananda yang tadi malam menelpon sambil menyembunyikan wajahnya dari balik handphone karena air matanya yang begitu deras mengalir dipipi.

Ananda merasakan kesedihan yang amat dalam karena kedua orang tuanya pergi berobat ke sebuah Rumah Sakit di kota itu namun tak kunjung kembali.

“Jangan sedih ya nak, sekarang saatnya bobo. Besok harus bangun pagi shalat subuh doakan ayah lekas sembuh sehingga ayah dan ibu bisa cepat kembali ya.'” Pinta ibu Ani kepada anaknya

Raut wajah sedih ananda juga dapat terlihat dari suaranya yang sesekali terbata-bata, matanya menerawang tinggi dengan bulir-bulir air mata jatuh bercucuran seperti membayangkan apa yang terjadi dengan ayahnya besok. Situasi itu membuat ibunya hanyut dalam kesedihan yang tak dapat terelakan hingga pagi itu.

Hari itu adalah jadwal operasi pak Ali itu berlangsung. Dari malam perawat sudah mengingatkan bahwa besok jam 6 itu sudah siap ya Bu. Ibu Ani pun mengiyakan.

Selesai shalat subuh ibu Ani bergegas keruangan perawat mengambil air hangat untuk melap/ membersihkan badan suami dengan kain basah. Setelah itu diberi wewangian rexona , hand body lotion agak terlihat wangi dan segar. Pak Ali kelihatan segar. Ibu Ani sengaja membuka HP melihat foto2 lucu anaknya bermaksud ingin menghibur agar tidak terbawa dalam suasana tegang. Senyum sumringah itu menghiasi bibir pak Ali tak lupa memberi doa dan semangat dalam menghadapi operasi itu.

Tepat jam 07.15 wita, 2 perawat itu datang menjemput. Ibu Ani dan anaknya yang dari tadi sudah siap ikut mengiringi suaminya dengan 2 perawat sambil mendorong tempat tidur itu keruang operasi. Sedih melihat suaminya terbaring lemah. Dalam hati tergambar bahwa ini baru diuji dengan sakit sudah begini rasanya apatah lagi suatu saat Allah menguji dengan yang lebih berat dari ini. Ya Allah….Hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal Maula wa ni’mannashiir. Air mata ibu ani pun ikut bercucuran.

Sampai di depan pintu ruang operasi. Perawat memberikan isyarat pada ibu Ani bahwa ngantarnya sudah sampai di sini saja. Hati ibu Ani semakin tak karuan. Ibu Ani dan anaknya duduk termenung sedih di depan pintu ruang operasi berharap bisa bertemu sebentar sebelum dioperasi.

Selang 15 menit kemudian petugas memanggil.

“Keluarga Pak Ali”.

“Iya ada”. Ibu Ani menyahut dan masuk dalam ruangan itu bersama anaknya.

Terlihat suaminya sudah terbaring memakai baju operasi dan kepalanya dibungkus kemudian ibu Ani dan anaknya berdoa dan memberikan semangat. Suaminya pun mengaminkan dan mengangguk perlahan.

Perawat itupun berpesan :

“Tunggu diluar ya Bu. Operasi ini berjalan 4-5 jam kedepan. Sekarang ibu mereka boleh cari sarapan dulu.” Kata perawat itu sambil mendorong tempat tidur pak Ali masuk kedalam kamar operasi.

Ibu Ani dan anaknya keluar dan menunggu di ruang tunggu. Hati ibu Ani tetap terbawa sedih membayangkan suaminya sendirin dan seperti apa operasi itu. Dia mengambil mushaf dalam tasnya dan tilawah untuk membuang rasa sedih itu. Sambil sesekali menerima telepon dan membaca pesan dari sahabat-sahabatnya. Tidak ada pilihan lain dari membuang rasa sedih itu kecuali dengan membaca kalamnya.

Waktu terus bejalan dari kurang lebih jam 07.30 wita hingga jam 13.00 WITA lewat. tak ada rasa lapar, haus dan dahaga. Kami tetap bersimpuh duduk di ruang itu. Singkat cerita satu persatu perawat mendorong tempat tidur bersama pasien lain.

Giliran berikutnya Pak Ali keluar didampingi 2 perawat sambil mendorong tempat tidur itu. Ibu Ani dan anaknya pun bergegas bangun. Tak sanggup melihat bulir-bulir airmata menetes di pipinya. Tak kuasa menahan rasa yang berkecamuk dalam jiwa. Bibirnya pucat pasi, raut wajahnya sedih tak kuat menahan air mata itu. Ya Allah ya Rabb….kuatkanlah dia. Berikanlah dia kesembuhan yang tak menyisakan sedikitpun penyakit yang ada dalam tubuhnya. Ibu Ani membatin.

Kembali pak Ali dibawa ke ruang rawat inap tapi belum berbicara banyak karena masih menahan rasa sakit setelah hilang obat bius itu. Perawat dengan sigap melayani pak Ali dengan mengganti botol infus dan memeriksanya kembali. Setelah itu pak Ali tidur dengan lelapnya.

“Engkau telah menjalani proses ini dengan begitu susah payah. Insya Allah, setelah ini engkau tidak lagi payah menahan rasa sakit. Allah maha tahu segala yang engkau perjuangkan. Yakinlah bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Dan kemudahan itu engkau akan lewati setelah ini. Aamiin.” Bisik ibu Ani dalam hati sambil memandangnya ditempat tidur itu.

Tak sadar ibu ani juga tertidur disamping tempat tidur itu karena sdh kelelahan hingga terkaget bangun karena ada perawat yang datang memeriksa.

Kupang, 11 Desember 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *