Anak Kos

Oleh : Yani Lestari

Karena sesuatu hal, akhirnya kami tinggal di rumah ibu Sukarmiati kepala sekolah kami.
Selama tinggal di rumah beliau banyak pengalaman yang kami dapatkan, karena beliau seorang yang ulet penuh keprihatinan yang tinggi dan pekerja keras. Ibu kepala sekolah beserta keluarga beliau dalam kesehariannya sangat sederhana namun memiliki sawah yang sangat luas yang di dikelola sendiri untuk penanamannya.

Hasil dari sawah tersebut sangat berlimpah dan jika dirupiahkan cukup besar nominalnya, karena jenis padi yang ditanam adalah siam unus suatu varietas padi unggul di Kalimantan Selatan. Di sekeliling rumah beliau ada kolam-kolam yang dibuat sendiri oleh bapak, suami ibu Sukarmiati. Kolam-kolam tersebut kemudian diisi dengan ikan papuyu dan ikan gabus. Di pinggir kolam tersebut ditanami sayur-sayuran yang dapat kami petik dan dimasak untuk dikonsumsi setiap hari. Untuk lauknya kami memancing ikan, jika di kolam masih terlalu kecil untuk kami ambil maka kami akan pergi ke sawah untuk memancing ikan yang lain.

Keluarga ibu kepala sekolah juga mempunyai usaha sampingan berupa pengolahan keripik singkong dengan varian pedas dan gurih. Rasa keripiknya bahkan sampai sekarang masih terasa, padahal sudah dua puluh delapan tahun yang lalu kami rasakan. Setiap seminggu sekali bapak pergi berbelanja singkong menggunakan perahu bermotor yang disebut kelotok kemudian sekembalinya beliau, singkong singkong tersebut diolah menjadi keripik kemudian dikemas dan dipasarkan.

Siang itu ada kawan kami satu angkatan dari Jogja yang tiba-tiba datang ke rumah untuk mencari kami. Betapa senangnya hati kami karena setelah beberapa bulan kami bertugas baru kali ini ini bertemu kembali dengan kawan yang bertugas di kecamatan lain. Namanya Nurwidati orangnya cantik putih dan ramah. Selain itu dia juga banyak cerita sehingga kami pun akhirnya terlibat dalam canda tawa yang luar biasa. Dia mendapatkan tugas di Kecamatan Anjir namun tinggal di Kotamadya Banjarmasin.

Seru sekali mendengar ceritanya karena setiap hari dia harus naik kelotok atau perahu bermotor menyeberangi Sungai Barito dari dermaga Kuin Cerucuk menuju ke dermaga Anjir Pasar. Tak terasa waktu sudah hampir pukul 3 sore, Karena tertarik dengan ceritanya, dan ingin ikut ke kota maka aku dan mbak Tik pun meminta izin kepada ibu. Setelah mendapat izin dari beliau kami pun bergegas berangkat ke kota menuju tempat kosnya Nurwidati dan bermalam di sana karena besok pagi adalah hari Minggu jadi sekolah libur.

Sesampainya di kos Nurwidati kami pun disambut dengan ramah oleh keluarga Ibu Hajjah Mawar selaku ibu kosnya. Malam harinya kami jalan-jalan menyusuri kota Banjarmasin, menikmati indahnya kota seribu sungai tersebut.

Pada akhirnya kami pun tertarik untuk bisa tinggal di kosnya Nurwidati. Kemudian kami minta izin kepada ibu kepala sekolah untuk kos di Banjarmasin. Walaupun jaraknya lebih jauh dan harus menempuh perjalanan air setiap hari, namun kami merasa senang bisa tinggal di sana. Dengan sedikit rasa berat hati ibu kepala sekolah pun mengizinkan kami tinggal di Banjarmasin. Sebenarnya banyak alasan dan pertimbangan kami sehingga kami memutuskan untuk kos di Banjarmasin, diantaranya Kami lebih mudah dalam urusan komunikasi dengan keluarga karena jika sewaktu-waktu keluarga Jogja menghubungi kami maka akan cepat terhubung karena ada layanan telekomunikasi.

Menjadi anak kost ada seninya tersendiri bagi kami bertiga. Setiap tanggal muda sehabis menerima gaji kami sisihkan untuk bayar kos patungan, membeli sembako selama 1 bulan dengan prioritas utama membeli beras dan ikan asin serta untuk membayar langganan kelotok. Sering juga mengalami jika tanggal habis duit juga habis.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *