Oleh: Moh. Anis Romzi

Konsistensi sering menjadi permasalahan. Ini memerlukan ketangguhan yang luar biasa. Rasanya benar konsistensi atau saya menyebutnya dengan istiqomah dengan bahasa yang lain, itu lebih baik dari seribu kemuliaan. Ungkapan yang diambil dari Bahasa Arab al-istiqomah khairun min alfi karamah. Saat memaksa diri menjalani konsisten banyak hambatan dan tantangan. Sering banyak orang gagal melalui itu karena tergoda keinginan yang lain.

Saat semangat turun, saatnya kembali refleksi dan berfikir. Namun hanya sesaat saja. Setelah itu kembalilah pada tujuan awal. Berangkat dari keyakinan yang kuat untuk berhasil. Semua harus dijalani dengan kesungguhan. Turunnya semangat ada beberapa yang menjadi penyebabnya. Apabila diklasifikasi hanya terbagi menjadi dua. Pertama faktor internal, sedangkan yang lain adalah faktor eksternal. Perasaan dalam diri yang timbul gegara konsisten. Kita bisa saja berpikir apa yang kita dapat dengan ini. Godaan dari luar semakin memperbesar perasaan itu.

Semangat belajar harus tetap menyala. Bagaimanapun keadaan dan kondisinya. Ini adalah soal tekat. Kekuatan tekat berisi keyakinan yang mendalam. Tidak akan ada keraguan bagi orang yang yakin. Dengan modal dasar yakin semua akan teratasi. Sampai kapan? Sampai jatah waktu yang diberikan habis. Keyakinanlah yang membuat segala sesuatu menjadi mungkin. Tidak berhenti menyalakan semangat belajar menjadi harga mati.

Kewajiban belajar tidak mengenal batas waktu. Usia hanya urusan angka. Belajar pasti ada masanya menghadapi kesulitan. Mundur bukan sebuah jawaban tepat. Saya teringat sebuah nasehat penyemangat dari guru ngaji kampung.” Jangan hanya hujan air, hujan api pun belajar tetap harus dilakukan”. Ungkapan semangat yang tiada tara.

Hambatan dan tantangan pasti ada. Itu bukan untuk dihindari. Ia untuk diselesaikan dengan cara terbaik. Hambatan dan tantangan adalah seni kehidupan. Semakin sering menghadapi hambatan akan mendewasakan. Dewasa ditandai dengan lahirnya kecerdasan dan kebijaksanaan. Pengalaman membentuk keduanya. Kenyamanan akan sulit melahirkan kematangan. Kemampuan menyelesaikan masalah dengan cara yang beragam itulah kecerdasan (Howard Gardner).

Menyelesaikan masalah adalah bagian dari pembelajaran. Karena sejatinya masalah itu adalah ujian langsung. Dalam pendekatan pembelajaran problem solving adalah yang utama. Ketika terbiasa dengan penyelesaian masalah tentu akan sangat mudah menurunkannya kepada peserta didik. Ketika masalah satu selesai akan muncul masalah yang baru. So tenang saja dengan masalah. Ippo ‘ right’ Santosa sering mengistilahkannya berdamai dengan masalah.

Walaupun kecil karena di desa namun harus tetap menyala. Untuk menyala memerlukan tenaga dan pengorbanan lebih banyak. Saya teringat saat belajar studi banding ke SMPN 1 Sampit. Salah satu sekolah rujukan di Kalimantan Tengah yang terletak di Kabupaten Kotawaringin Timur. Pesan Ibu Kepala Sekolah kepada saya saat berbincang santai.” Jika sekolah Bapak kecil, lakukanlah hal-hal baik yang kecil pula. Tetapi berterusan.”Pesan beliau. Saat bulan Pebruari tahun 2018.

Apasaja yang perlu dikorbankan? Colleen M. Story (2018) via Cahyadi Takariawan mentor penulis yang akrab disapa Pak Cah menyatakan ketika menjadi penulis ada lima hal yang harus dikorbankan. Saya menderivasi dengan menjaga semangat belajar dari desa. 5 hal yang harus dikorbankan.

  1. Harta
  2. Waktu
  3. Kesenangan sesaat
  4. Tenaga
  5. Pikiran

Semangat tertinggi dan terbaik adalah karena-Nya. Ia tidak pernah tidur dan lupa mencatat apa yang kita lakukan. Maka seyogianya semangat itu tetap ada. Bagaimanapun kondisinya.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 20/11/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *