Kasus pelecehan yang dilakukan tabloid asal Prancis (baca: Charlie Hebdo) akhir-akhir ini, sedikitnya telah membuka sebagian puzzle memori umat Muslim khususnya tentang hubungan pendahulu mereka dengan negeri tersebut ribuan tahun silam, sekitar 1300 tahun yang lalu Islam sudah menjangkau separuh wilayah Prancis.

Dakwah Islam ke Prancis bermula pada awal abad ke-8  tatkala Islam baru saja hadir di wilayah yang kini menjadi negara Spanyol dan Portugal. Tak berselang lama pasca pembebasan Semenanjung Iberia, tentara Muslim Dinasti Umayyah yang terdiri dari orang-orang Arab dan Berber berniat untuk melakukan ekspedisi pembebasan lebih jauh lagi ke wilayah utara dalam rangka meluaskan dakwah Islam. Upaya pertama untuk meneruskan ekspedisi dimulai oleh Gubernur Andalusia bernama As-Samah bin Malik.

Tentara Muslim di Prancis

Sumber berbahasa Arab yang secara rinci membahas ekspedisi tentara Muslim ke Prancis tidak begitu banyak. Seorang sejarawan Muslim asal Mesir, Raghib As-Sirjani dalam karyanya Qishshatul Andalusia yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, hanya memaparkan keberhasilan ekspedisi As-Samah dalam menaklukan beberapa kota di barat daya Prancis, disebarkannya para da’i untuk menyebarkan Islam kepada sebagian penduduk Prancis, dan jasanya mendirikan provinsi baru bernama Sabtamania lalu akhirnya ia pun syahid terbunuh dalam sebuah perang di wilayah Toulouse pada 721.

Sumber lain yang cukup memperkaya dan mendukung informasi di atas adalah tulisan sejarawan Barat, Hugh Kennedy yang karyanya sudah diterjemahkan juga dengan judul Penaklukan Muslim yang Mengubah Dunia. Ia mengisahkan momen-momen ketika Gubernur As-Samah melakukan ekspedisi ke Aquitaine untuk mencari sosok yang bernama Duke Eudes. Namun, sosok yang dicari itu sedang berlindung di Toulouse. Pada 721, terjadilah peperangan antara kedua pasukan di Toulouse yang berakhir dengan kekalahan tentara Muslim dan syahidnya As-Samah.

Selanjutnya, As-Sirjani dalam Bangkit dan Runtuhnya Andalusia, dengan pemaparan yang singkat juga mengungkapkan upaya untuk membebaskan Prancis lagi setelah kematian As-Samah. Upaya kali ini dilakukan oleh Gubernur Andalusia yang baru yaitu Anbasah bin Suhaim. Ia beserta tentaranya berhasil menguasai banyak kota di Prancis bahkan derap kaki tentaranya tinggal 30 km lagi menuju ibukota Prancis hari ini, Paris. Artinya pada saat itu, hampir seluruh wilayah Prancis sudah dilewati tentara Muslim.

Sementara, Hugh Kennedy memberikan gambaran yang agak rinci tentang upaya Anbasah. Dikisahkan ia merebut sebuah benteng di Carcassona. Kemudian, bergerak ke arah timur lalu ia beserta bala tentaranya memasuki daerah bernama Autun. Setelah itu, mereka pun kembali ke selatan. Mungkin di sinilah ia menemui ajalnya karena dalam karya ini tidak didapati informasi mengenai nasib Anbasah pasca menguasai daerah-daerah tersebut. Namun, karya As-Sirjani dapat mengonfirmasinya, setelah menguasai 70% wilayah Prancis, Anbasah bin Suhaim menemui ajalnya ketika ia dan tentaranya kembali ke Andalusia pada 725.

Al-Ghafiqi, Charles Martel, dan Bilath Asy-Syuhada

Dua orang gubernur sekaligus pemimpin ekspedisi Muslim ke utara itu telah meregang nyawa di Prancis. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat seorang gubernur baru dari kalangan tabi’in bernama Abdurrahman Al-Ghafiqi. Ia bersama pasukannya kembali berupaya untuk membebaskan wilayah utara.

Mereka melintasi Pegunungan Pirenia dan berhasil menguasai kota-kota yang berada di bagian barat Prancis. Tentara Al-Ghafiqi sempat menguasai kota Poitiers. Namun, tatkala akan melanjutkan perjalanan ke Tours, mereka dihadang pasukan Kristen di bawah pimpinan Charles Martel atau Karl Martel. Jumlah pasukan di bawah Karl Martel mencapai ratusan ribu personil. Sementara, pasukan di bawah Al-Ghafiqi hanya puluhan ribu saja.

Peperangan sengit pun pecah di antara dua pasukan itu pada 732, dengan jumlah yang lebih besar, Karl berhasil melumat pasukan Al-Ghafiqi. Bahkan, Sang Gubernur sekaligus panglima pasukan Muslim itu menemui kesyahidannya. Dalam karya As Sirjani disebutkan bahwa ia syahid karena tertancap anak panah. Sementara dalam karya Hugh Kennedy, disebutkan bahwa dadanya dihantam oleh pasukan Karl Martel. Terlepas dari keterangan tersebut, pada intinya tentara Muslim belum berhasil menguasai seluruh Prancis.

Setelah mengetahui panglima Al-Ghafiqi syahid, lantas pasukannya pun kocar-kacir meninggalkan medan perang. Perang yang menyebabkan kekalahan di pihak Muslim itu dikenal oleh pihak Muslim dengan Perang Bilath Asy-Syuhada yang artinya Istana Para Martir. Kedua sumber yang telah disebutkan sebelumnya, sama-sama memberikan informasi bahwa pasukan Kristen sempat mengejar pasukan Muslim dan mendatangi kemah-kemah mereka namun mereka mendapati kemah-kemahnya telah kosong. Namun, pasukan Kristen tidak memberanikan diri untuk mengejar pasukan Muslim lebih jauh karena mereka takut jika terperangkap jebakan pasukan Muslim.

Kesamaan informasi dari kedua karya tersebut mungkin sekali disebabkan karena tidak adanya sumber yang bisa memberikan informasi secara berimbang. Maksudnya, sumber yang banyak meriwayatkan tentang perang ini kebanyakan diambil dari sumber-sumber Eropa selaku pihak yang memenangkan perang. Sedangkan, sedikit sekali sumber berbahasa Arab yang menyinggung perang tersebut. Hal itu diakui oleh As-Sirjani dalam karyanya, bahwa dalam membahas perang tersebut, ia telah banyak mengambil sumber-sumber Eropa. Namun, dengan cara menyeleksinya terlebih dahulu, untuk menghindari distorsi dan ungkapan-ungkapan hiperbola dari pihak pemenang.

Konfrontasi antara pasukan Al-Ghafiqi dan Karl Martel, dianggap sebagai salah satu peperangan yang paling menentukan nasib dunia. Pada saat itu, separuh wilayah Prancis yang dilewati pasukan Muslim dapat dipastikan merasakan dakwah Islam. Jika saja Karl Martel tidak ada atau tidak berhasil menghadapi pasukan Muslim di perbatasan Tours, mungkin saja Al-Ghafiqi bersama pasukannya dapat mengislamkan wilayah Prancis pada khususnya dan Eropa Barat pada umumnya.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *