Oleh: Moh. Anis Romzi

Setiap pagi saat memulai pembelajaran hampir selalu ada yang kurang. Pemantauan persiapan telah dilakukan. Namun saat pelaksanaan, tetiba ada yang bergeser dari perencanaan. “ Pak, mohon maaf saya datang agak lambat. Di tempat saya sedang hujan deras. Tadi mau berangkat pagi sebenarnya. Tetapi sekarang tertahan karena hujan. Mohon digantikan sebentar ya pak?” bunyi pesan pendek dari salah seorang pendidik. Memang kondisi di daerah pedalaman saat musim hujan berdampak pada kegiatan mobilisasi. Kondisi jalan bisa sangat licin. Jarak tempuh yang biasanya hanya 15 menit berubah menjadi dua kali lipat lamanya.

Beberapa pendidik yang datang pagi sering ada yang berhalangan. Isolasi wilayah memang terkadang merepotkan. Ada kalanya para pendidik sudah berangkat pagi, namun terkendala dengan penyeberangan sungai yang di kelola masyarakat belum siap. Terpaksa harus menunggu sampai bisa diseberangkan. Perencanaan waktu sering berbeda dengan realita. Sementara para peserta didik sudah datang ke sekolah, bapak dan ibu pendidik masih dalam perjalanan. Peserta didik sudah siap belajar. Pendamping masih berjibaku dengan waktu.

Perasaan saya  seperti merasa wajib mengganti ruang-ruang kelas yang belum ada pendidiknya. Terkadang satu, lain waktu lebih dari satu kelas. Saya berniat bahwa inilah sejatinya pengabdian. Saya memantau jadwal KBM seluruh kelas, kemudian memastikan kelas-kelas yang belum ada guru pendampingnya. Tidak ada keahlian spesifik mata pelajaran. Namun mendampingi mereka sementara sudah cukup. “ Assalamualaikum wrwb. Selamat pagi. Anak-anakku sekalian hari ini bapak A masih belum bisa hadir mendampingi kalian. Beliau masih dalam perjalanan. Senyampang menunggu beliau datang. Marilah kita menyiapkan diri. Kita awali dengan berdoa sebagai tanda rasa syukur kita diberikan kesempatan belajar. “Kalimat pembuka saya saat berada di kelas yang

Kondisi geografis sering menjadi penghambat. Terlebih saat musim penghujan. Secara perhitungan biasanya jatuh pada bulan Oktober sampai dengan Maret. Tetapi tidak dengan Kalimantan. Tahun ini musim penghujan datang lebih awal. Bahkan beberapa wilayah mengalami musibah banjir. Sejak Juli hujan telah datang. Ini menyebabkan kondisi jalan tanah remuk dan berlumpur. Aspal rusak tidak mampu menahan debit air hujan.

Ada rasa sedih bila membiarkan kelas tanpa seorang pendidik. Dengan semangat menjaga gawang saya kunjungi kelas satu-per satu. Walaupun bukan berdiskusi soal mata pelajaran, sayang dapat mendengar suara peserta didik dari dekat. Ada keluhan, semangat, dan harapan yang dicurahkan. Ketenangan dalam belajar dapat dihasilkan dari dialog yang sehat.

Memaknai filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Kepala sekolah mempunyai tiga peran sekaligus. Saya menyebutnya dengan kadang-kadang. Seorang Kepala Sekolahan bukanlah sebuah posisi hirarki. Itu menurut saya. Dalam filosofi Bapak Pendidikan Nasional posisi itu dapat berada di manapun. Setidaknya Ki Hajar membaginya dengan tiga. Depan, tengah, dan belakang.

Ing Ngarso sung tuladha. Ketika berada di depan seorang Kepala sekolah wajib menjadi teladan. Ini berlaku untuk siapapun. Kepala Sekolah terkadang menjadi orang tua bagi rekan-rekan kerjanya. Saat harus menjadi dewasa maka jadilah teladan. Sulit namun bukan tidak mungkin.

Ing Madya Mangun Karsa. Suatu saat Kepala Sekolah membersamai rekan-rekan kerjanya. Saat di sini berikan semangat untuk berkarya. Pemimpin kekinian mempunyai tugas memberi ruang rekan untuk berhasil. Tidak perlu takut untuk kehilangan pengaruh. Justru pengaruh dibangun dari sini. Ingat keberhasilan itu adalah karya tim. Bukan perseorangan.

Tut Wuri Handayani. Tiga posisi terakhir yakni di belakang. Berikan dorongan kepada siapa saja. Di belakang bisa jadi tidak populer. Namun hampir pasti Kepala Sekolah akan dan pernah di posisi ini. Ia wajib datang paling depan dan pulang paling belakang. Ini untuk memastikan bahwa semua telah berjalan dengan baik. Secara waktu Kepala sekolah tidak beda dengan penjaga sekolah dan petugas kebersihan. Relakan diri di mana saja berada. Termasuk menjadi penjaga gawang sebagai pertahanan terakhir dari kebobolan.

Kepala sekolah harus mampu menjadi berbagai fungsi. Ia dapat menjadi guru, pelatih, administrator, bahkan terkadang petugas kebersihan. Apa saja boleh dilakukan. Semua niat baik yang diperuntukkan untuk pendidikan dapat dilakukan. Analogi Kepala Sekolah penjaga gawang adalah sebenarnya adalah kritis. Namun ketika kondisi dan keadaan memang harus dilakukan, lakukanlah. Tidak ada yang sia-sia hal baik dilakukan. Walaupun tidak untuk dituai hari ini. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 19/11/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *