Oleh: Moh. Anis Romzi

Asesmen Nasional menjadi pilihan untuk dilaksanakan mulai tahun pelajaran 2020/2021. Ini dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Itu adalah evaluasi yang diselenggarakan oleh kemdikbud untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan memotret input, proses, dan output pembelajaran di seluruh satuan pendidikan. Pendidikan sejatinya adalah mengembangkan karakter dan kompetensi peserta didik. Tiga komponen utama dalam pendidikan adalah kurikulum, pembelajaran, dan asesmen. Asesmen diperlukan untuk menilai efektivitas pembelajaran dan ketercapaian kurikulum.

Asesmen Kompetensi Minimal adalah salah satu instrumen dari Asesmen nasional. Itu untuk mengukur kemampuan literasi dan numerasi. Selanjutnya secara berturut adalah survei karakter, dan survei lingkungan belajar. Ketiga turunan asesmen nasional diikuti oleh seluruh peserta didik, sedangkan Kepala Sekolah dan pendidik mengikuti survei karakter dan lingkungan belajar.

AKM mengukir dua kompetensi utama, literasi membaca dan numerasi. Kompetensi literasi membaca adalah kemampuan untuk memahami, menggunakan, dan mengevaluasi berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan dunia agar dapat berkontribusi produktif di masyarakat. Sedangkan kompetensi numerasi yaitu kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur,  fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan sebagai warga Indonesia dan dunia.

Instrumen kedua dari asesmen nasional adalah survei karakter. Ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil belajar sosial emosional. Survei karakter dikerjakan oleh peserta didik. Survei karakter mengukur enam aspek profil pelajar Pancasila. Adapun profil pelajar Pancasila adalah; bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong-royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Instrumen ketiga adalah survei lingkungan belajar. Instrumen ini dikerjakan oleh murid, guru, dan kepala sekolah untuk mengukur berbagai aspek  input yang mempengaruhi proses belajar. Ini dimaksudkan untuk mengukur kualitas pembelajaran dan iklim sekolah yang mendukung pembelajaran.

Asesmen nasional bukan dimaksudkan untuk melakukan pemeringkatan satuan pendidikan. Akan tetapi untuk mendapatkan informasi terkait kualitas pembelajaran. Dari informasi yang didapatkan digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan tujuan akhir adalah hasil belajar peserta didik yang meningkat.

Beberapa konsep tentang asesmen nasional telah dirancang. Namun kondisi di lapangan sangat bervariasi. Sumber daya manusia daerah pedalaman harus berbenah. Wacana Pemerintah menyaratkan bahwa asesmen nasional akan dilakukan secara daring.  Ini menyisakan harapan sekaligus kekhawatiran. Terkhusus di daerah pedalaman khususnya SMPN 4 Katingan Kuala akan dihadapkan dua permasalahan. Ketersediaan sumber daya manusia dan sarana-prasarana.

Ketersediaan sarana komputer menjadi kendala. Masih banyak sekolah di pedalaman yang belum memiliki peranti ini. Ini karena keterbatasan alat ini masih belum tersedia 100% di SMPN 4 Katingan Kuala. Upaya yang akan dan telah dilakukan adalah menyiapkan sharing resources dengan berbagai instansi di sekitar satuan pendidikan dan masyarakat setempat. Seperti tahun sebelumnya cara ini berhasil. Ini karena adanya sinergi positif antara SMPN 4 Katingan Kuala dan masyarakat.

Sedangkan untuk sumber daya manusia menghadapi asesmen nasional adalah dengan mendorong pendidik untuk belajar secara mandiri. Ini karena rata-rata pendidik masih berusia muda. Kemampuan beradaptasi terhadap teknologi informasi tergolong cepat. Selain itu sekolah juga mendorong untuk pendidik dapat berkolaborasi secara daring dengan satuan pendidikan yang lain.

Belum lagi kondisi jaringan internet yang menjadi momok. Ini yang paling mengundang tanya besar. Dari hasil observasi harian kualitas jaringan internet sering sekali mengalami kendala teknis. Beberapa upaya telah ditempuh dengan memasang antena dan modem wifi untuk meningkatkan kualitas jaringan internet. Namun sampai saat ini masih belum dapat maksimal. Letak BTS yang cukup jauh ditengarai sebagai masalah utama. Ini masalah besar bagi sekolah untuk diselesaikan. Waktu masih ada untuk berbenah.

Bagaimanapun upayanya, Asesmen nasional harus dilaksanakan. Kendala yang sudah teridentifikasi harus segera dicarikan jalan keluarnya. Semua sumber daya harus dikerahkan. Walaupun di pedalaman SMPN 4 Katingan Kuala tidak akan menyerah. Asesmen Nasional harus dapat dilaksanakan secara mandiri di SMPN 4 Katingan Kuala.

Peran serta masyarakat dan orang tua sangat penting. Ini memantik semangat untuk menyediakan prasarana bersama. Gotong-royong masyarakat pedesaan di lingkungan sekitar SMPN 4 Katingan Kuala telah terbukti mampu menyelesaikan permasalahan pendidikan di SMPN 4 Katingan Kuala.

SMPN 4 Katingan Kuala berupaya keras mewujudkan sarana komputer untuk pelaksanaan Asesmen Nasional. Untuk menuju perbaikan kualitas pendidikan, semua unsur harus terlibat. Mereka mempunyai tanggung jawab yang sama.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 18/11/2020

Bahan bacaan: video Pusat Asesmen dan Pembelajaran, Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemdikbud

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *