Dosa pertama yang dilakukan oleh makhluk adalah sombong. Kala itu Iblis enggan bersujud kepada Adam alaihissalam hanya karena ia merasa lebih baik daripada Adam.

Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” Kata Iblis kapada Allah sebagaimana ditulis dalam Qur’an Surah Al-A’raf ayat 12.

Lalu benarkah api itu lebih baik daripada tanah?

Untuk menjawabnya mari kita simak renungan yang disampaikan Ustadz Faisal Kunhi yang saya kutip dari laman viva.co.id berikut,

Pertama, api sifatnya membakar, dan memusnahkan. Berbeda dengan tanah yang sifatnya mengembangkan dan menjadi sumber rezeki serta kehidupan banyak makhluk hidup.

Kedua, api sifatnya berkobar, tidak mantap, sangat mudah diombang-ambingkan oleh angin. Berbeda dengan tanah yang sifatnya mantap, tidak berubah lagi, tenang.

Ketiga, tanah dibutuhkan oleh manusia dan binatang. Sedangkan api tidak dibutuhkan oleh tanah, bahkan manusia dapat bertahan lama hidup tanpa api.

Keempat, api walaupun ada manfaatnya, tetapi bahayanya pun tidak kecil. Bahayanya hanya dapat diatasi dengan memadamkannya. Berbeda dengan tanah, kegunaannya terdapat pada dirinya dan tanpa bahaya, bahkan semakin digali semakin nampak manfaatnya.

Kelima, api dapat padam oleh tanah, sedangkan tanah tidak binasa oleh api.

Keenam, di dalam tanah, terdapat sekian banyak manfaat, seperti barang tambang, sungai, mata air dan lain lain. Tidak demikian dengan api.

Ketujuh, Allah banyak menyebut tanah dalam AlQuran dalam kitab suci-Nya dalam konteks positif, sedangkan api tidak banyak disebut. Kalaupun disebut, umumnya dalam konteks negatif.

Dari catatan renungan yang disampaikan Ustadz Faisal Kunhi di atas api sebagai bahan cipta Iblis memiliki karakteristik yang tinggi itulah yang membuatnya jumawa, pemusnah dan pembara. Adapun tanah ia menjadi sarana setiap kehidupan.

Kesombongan Iblis rupanya karena ia merasa lebih senior daripada Adam yang memang diciptakan belakang. Padahal senior-junior itu bukan alat untuk mengukur siapa lebih baik dari siapa. Alat ukur terbaik adalah siapa lebih bermanfaat daripada siapa. Karena itu jika ingin menjadi sebaik-baik manusia tiada lain adalah dengan meningkatkan kebermanfaatan dalam diri.

Sombong dalam Al-Qur’an sering diungkap dengan kata kibr, semakna dengan itu adalah mukhtal yang berarti sombong dan fakhur  yang berarti  membangga-bangga diri.

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali adalah makhluk Allah yang sangat cepat sekali peningkatan prestasinya dalam beribaah. Sampai-sampai ia bisa mengungguli makhluk lainnya.

Karena itu Allah menaikan derajatnya dari langit ke langit dengan gelar-gelar yang berbeda dis etiap capaian prestasinya. Pada langit pertama, ia diberi gelar al-Abid (ahli ibadah).
kemudian diberi gelar az-Zahid pada langit kedua. Al-‘Arif pada langit ketiga. Al-Wali. At-Taqi pada langit kelima. Al-Kazin pada langit keenam, dan Azazil pada langit ketujuh.

Begitu tinggi capaian prestasinya hingga selama 120 tahun waktu surga ia Khazinul Jannah yang berarti bendahara surga.

Namun demikian setinggi apapun, prestasinya karena timbul dalam jiwa perasaan sombong lalu enggan mengikuti perintah Allah ia kemudian berubah nama menjad Iblis yang dikutuk oleh Allah dengan kutukan yang amat besar. Ia pun kemudian bergelar Arrajim – yang dirajam.

Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Demikian Sabda Rasulullah sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Mas’ud

Lalu seseorang bertanya kepaa Rasulullah “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” Dalam riwayat Muslim.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” Firman Allah dalam Qur’an Surat An-Nisa ayat:  36)

Karena sombongan adalah selendang-Nya yang tak boleh seorang pun menyentuhnya. Tak terkecuali juga bagi para ahli ibadah.

Dalam Hadits Qudis Rasulullah menyampaikan firman-Nya, “Kesombongan adalah selendang-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Karena itu, siapa saja yang merampas salah satunya dari-Ku, pasti Aku akan melemparkannya ke dalam api neraka.” Demikian Abu Dawud dan Ibnu Maajah meriwayatkan.

Saung Rumingkang, 16 November 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *