MaryatiArifudin, 15 November 2020

Pintu bahagia yang jujur letaknya dihati saja. Hati dapat diungkapkan dengan wujud fisik nyata berupa senyuman semata atau gestur tubuh yang tersampaikan dengan penuh makna.

Resep bahagia tersampaikan pada akun fb 12 November 2018, bisa bersumber dari apa saja. Sumber bahagia dapat berupa berbagi dengan sesama, bermanfaat tuk oranglain, dan meringankan beban orang lain. Ajaran mulia tuk membuat kita hidup bahagia dan hati merasakan nikmat bahagia sesungguhnya.

Membuat bahagia dengan meringankan beban orang lain pasti banyak cara. Namun, jangan ada pamrih apapun saat melakukannya. Niatkan khusus hanya mencari ridha-Nya semata. Tidak usah muncul bumbu penyedap yang melunturkan niat anda. Pasti kita akan kecewa jika memalingkan niat mulia yang telah ada, apalagi dibumbui penyedap lainnya. Harapan atau balasan itu buang jauh, agar hati kita tidak lara.

Berbagi terhadap sesama tanpa memandang saudara. Berbagi dijalani karena ikatan kasih sayang terhadap sesama. Bukan ikatan suku atau ras apa saja. Saling tolong menolong memang budaya bangsa. Mari kita selalu lestarikan karena bersumber dari ajaran mulia.

Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. [al-Mâidah/5:2]

Hati-hati segala sesuatu tergantung niatnya. Jangan sampai niat baik, cara melaksanakannya melenceng jauh dari aturan-Nya. Sungguh ajaran mulia telah memberikan aturan sesuai kehendak-Nya. Tinggal kita semua mampukah untuk mentaati perintah dan larangan-Nya. Hendaknya, kita semua mampu menundukkan kata hati sesuai dengan fitrahnya.

Jangan mau dibujuk dengan hawa nafsu yang melenakan apalagi melenceng dari niat yang lurus. Karena pengendali hawanafsu yang mengajak pada kefuturan bukan bersumber dari Tuhan yang Maha Suci. Kita yang mempunyai jiwa perlu kokoh hati tuk berjalan sesuai dengan koridor Illahi Rabbi.

Berbagilah dengan sesama dengan ihlas hati. Tak usah menyebut permberian kita ke tetangga kanan-kiri. Hanya Alloh SWT, yang tahu hari ini kita mampu berbagi. Jangan sekali-kali menyakiti si penerima, apalagi dengan menyebut-nyebut pemberiannya. Sehingga si penerima mendengar itu, jadi tak enak hati.

Celaka dan merana diri karena si pemberi tidak ihlas hati. Gugurlah pahala pagi ini, karena tersertakan sikap pamer atau berharap balas budi. Akhirnya, pahala di tangan tertelan bumi akibat kurang bijak dalam memberi. Perbanyaklah istighfar tuk perbaiki niat suci agar tidak mengulami perbuatan yang merugi.

Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. (Surat Al-Baqarah, Ayat 264)

Jika telah menyadari dan menyesali diri, tutuplah perbuatan jelek itu dengan perbuatan baik tuk mengharap ridha Illahi Robbi. Sehingga setiap bermuamalah dengan sesama memunculkan ibadah yang suci. Akhir nanti kita bisa dipertemukan dengan suadara-saudara yang menentramkan mata hati. Saudara yang selalu mengingatkan dalam kebaikan dan ketaqwaan. Saudara yang saling mengasihi dan mencintai karena bersumber dari ikatan iman yang murni.

Persaudaran yang terikat karena mengharap ridha-Nya semata akan kekal abadi. Bahagia dunia akan didapat apalagi bahagia akherat nanti. Lantunan doa terbaik tuk sahabat dan kerabat walau jarak memisahkan. Percayalah, lantuan doa yang tulus buat sahabat akan didengar sangat erat dan makin dekat. Hal itulah, pentingnya bersahabat tuk selalu berbagi dan meringankan beban walau sesaat.  Bisa melalu surat atau whatApps yang cepat. Tuk menyelesaikan masalah agar cermat, sehingga mampu meninggalkan umpatan yang tiada manfaat.

Konsep sahabat atau kerabat dapat dibangun lewat whatApps. Tuk memanfaatkan teknologi dengan cermat. Agar, setiap ada masalah tidak diumbar pada media sosial yang kurang tepat. Sehingga, semua orang pantang mengetahui permasalahan kita walau sesaat. Pastilah, akan muncul prasangka yang kurang tepat. Akhirnya, permasalahan makin berat yang tidak mendapat solusi yang bermanfaat.

Jangan sampai mengumbar masalah sampai terdengar oleh kerabat menjadikan masalah makin gawat. Setiap permasalahan kita adalah aurat yang harus kita jaga sampai akhir hayat. Bertindaklah, sebagai sahabat yang bijak tuk memberi solusi hidup yang mentramkan jiwa sahabat. Carilah sahabat sejati yang mampu menyelesaikan atau membantu permasalahmu dengan tepat. Belajarlah, bersama sahabat tuk mengurai permasalahan diperkuat dengan dukungan ayat. Sehingga, hati kita melangkah dengan tekad tuk menyelesaikan semua masalah sesuai syariat. Insya Alloh, menjadi pribadi yang kuat dan bermartabat.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *