Ramai akhir-akhir ini terkait undang-undang cipta kerja yang baru disahkan oleh DPR RI sehingga sudah resmi menjadi pedoman hukum dalam urusan-urusan yang berkaitan dengannya. Ketidaksetujuan banyak masyarakat terkait undang-undang yang sering disebut undang-undang cilaka itu rupanya terluapkan dalam berbagai unjuk rasa.

Lalu bagaimana Islam memandang hubungan majikan-karyawan dalam sebuah hubungan pekerajaan. Dari berbagai sumber saya temukan beberapa hal yang harus kita perhatikan, agar kita kemudian tidak menghardik para kapitalis sementara kita sendiri tanpa terasa menjadi kapitalis lokal dengan cara kita sendiri dalam memimpin perusahaan.

Pertama, kita harus sadar bahwa karyawan itu sejatinya adalah mitra bekerja. Majikan-karyawan keduanya saling membutuhkan. Karena itu saling menghargai diantara keduanya wajib terwujudkan. Seminggu saja karyawan tidak masuk, maka operasional perusahaan menjadi kewalahan, itulah tanda, bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa mereka.

Kedua, berikan kewajiban sesuai dengan kemampuan.

Nabi memperingatkan kita dalam riwayat Bukhari, “Janganlah kalian membebani mereka (budak), dan jika kalian memberikan tugas kepada mereka, bantulah mereka.”

Ketiga, penuhi haknya dengan baik sesuai kesepakatan.

Berikanlah upah pegawai (buruh), sebelum kering keringatnya.” Demikiaan Nabi bersabda dalam riwayat Ibnu Maajah.

Keempat, beri kepercayaan untuk berinovasi lebih baik daripada banyak intervensi.

Kesakisan sahabat yang pernah menjadi maula Rasulullah cukup penting untuk kita renungkan. “Demi Allah, aku telah melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 7 atau 9 tahun. Kata Anas bin Malik dalam Hadits riwayat Muslim. “Saya belum pernah sekalipun beliau berkomentar terhadap apa yang aku lakukan: “Mengapa kamu lakukan ini?”, tidak juga beliau mengkritik: “Mengapa kamu tidak lakukan ini?” Lanjutnya.

Kelima, bersikaplah dengan penuh penghormatan.

Dalam “Adabul Mufrad” Imam Bukhari menuliskan sabda Rasul, “Bukan orang yang sombong, majikan yang makan bersama budaknya, mau mengendarai himar (kendaraan kelas bawah) di pasar, mau mengikat kambing dan memerah susunya.”

Tidak pernah ada celaan apalagi kekerasan dari nabi kepada maula-maula Nabi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul dengan tangannya sedikit pun, tidak kepada wanita, tidak pula budak.” Demikian Imam Muslim meriwayatkan sabda Nabi.

Keenam, berilah kemudahan.

Nabi bersabda dalam riwayat Ibnu Hibban, “Keringanan yang kamu berikan kepada budakmu, maka itu menjadi pahala di timbangan amalmu.”

Ketujuh, beri motivasi agar tak selamanya betah menjadi karyawan.

Karyawan tentu saja tidak memiliki keleluasaan sebagaimana seorang pemilik perusahaan. Betapapun tingginya jabatanmu di sebuah perusahaan tetap saja kau adalah prajurit bukan raja. Sekecil apapun dagangmu kau adalah raja. Itu artinya, berusaha sendiri itu lebih merdeka dalam urusan waktu. Tentu saja kemerdekaan waktu ini bukan untuk dipakai bermalas-malasan, akan tetapi agar kita mampu memaksimalkan potensi diri dengan seluas-luasnya.

Apalagi jika kita melihat sabda Rasul berikut, “Hendaklah kamu berdagang, karena di dalamnya terdapat 90 persen pintu rezeki,” riwayat Imam Ahmad.

Adapun Mu’az bin Jabal menyampaikan sabda Rasulullah bahwa ia berkata, “Sesungguhnya sebaik-baik usaha adalah usaha perdagangan.”

Kemerdekaan waktu yang dimiliki oleh seorang yang berdagang sendiri juga akan berujung pada kekuatan. “Mukmin yang kuat” Sabda Nabi “lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah” Demikian Imam Muslim, Imam Ahmad dan Ibnu Maajah meriwayatkan.

Mang Agus Saefullah
Perpustakaan Rumah, 15 November 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *