Oleh: Ade Zaenudin

Alkisah seorang ayah menyuruh anaknya pergi ke toko daging membeli kepala kambing untuk dimasak.

Saat perjalanan pulang sang anak melakukan sesuatu yang tidak diduga, dia preteli apa-apa yang ada di kepala kambing tersebut. Pertama dia copot kedua matanya, kemudian dia copot pula telinga, lidah bahkan otak yang ada di kepala kambing tersebut. Walhasil sampai di rumah, potongan kepala kambing itu sudah tidak ada mata, telinga, lidah dan otaknya.

Sang ayah kaget, wahai anakku, kenapa kepala kambing yang kau beli seperti ini? Kemana mata, telinga lidah dan otaknya? Sang anak menjawab, wahai ayahku, memang dari sananya sudah seperti itu.

Penasaran, akhirnya sang ayah bertanya pada sang penjual. Sang penjual pun menyampaikan bahwa potongan kambing itu dalam kondisi lengkap saat dijual.

Sang ayah marah, dia luapkan kekecewaannya pada sang anak, namun sang anak diam dan menerima segala yang menimpa terhadapnya, sampai-sampai sang ayah mengadukannya pada hakim.

Hakim bertanya, siapa namamu nak? Abid. Benarkah apa yang disampaikan ayahmu? Iya hakim, aku mencopot mata, kuping, lidah dan otak yang ada dipotongan kepala kambing itu saat perjalanan pulang.

Kenapa? Tanya hakim.

Aku melakukan semua ini berdasarkan ilmu yang saya dapat. Aku copot mata kambing itu sebagai simbol mencopot mata ayahku yang senantiasa digunakan untuk berdosa. Aku copot kuping kambing itu sebagai simbol mencopot telinga ayahku yang senantiasa digunakan untuk berdosa. Aku copot lidah itu sebagai simbol mencopot lidah ayahku yang senantiasa mengucapkan kebatilan. Aku pun mencopot otak kambing itu sebagai simbol membuang pikiran-pikiran jahat ayahku.

Aku tidak mau ayahku dihisab nanti di hari akhir, makanya aku lakukan itu semua.

Mendengar argumentasi sang anak, semua yang hadir tertegun, terharu, menangis bercampur bangga. Seketika sang ayah menangis, merangkul dan meminta maaf terhadap anaknya.

Allohu akbar.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita dari ketidakbaikan, kebatilan, kejahatan dan lain sebagainya, serta semoga Allah SWT berikan kita kesempatan untuk menghapus ketidakbaikan yang pernah kita lakukan.

Betul apa yang dikatakan Abu Nawas, kita memang tak pantas menjadi ahli syurga, tapi kita pun tak akan pernah kuat menjadi ahli neraka. Maka semoga Allah SWT mengampuni kita semua.

Wallohu a’lam

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *