Kaisar Jerman, Wilhelm II sedang menghormat (tengah), Sultan Mehmed V Resad sedang memegang pedang di tangan kirinya (kanan)

Pada bulan ini, sekitar 106 tahun yang lalu, imperium Muslim terbesar di dunia secara resmi memasuki ke arena PD I bersama Blok Sentral (Jerman dan Austria-Hungaria) untuk melawan Blok Entente (Inggris, Prancis, Rusia). Masuknya Turki Utsmani ke arena PD I merupakan hasil bujuk rayu Jerman yang sangat menginginkan Kekhalifahan Islam itu turut membantunya melawan Blok Entente.

Padahal kondisi Turki Utsmani saat itu boleh dibilang sangat lemah jika dilihat dari sisi politik, militer, dan ekonomi. Lemahnya politik Turki nampak dengan lepasnya beberapa wilayah kekuasannya dan bahkan di antaranya ada yang sudah jatuh ke pangkuan Inggris, Prancis, dan Rusia sebelum PD I meletus. Namun, berkat tawaran biaya dan suplai persenjataan dari Jerman, Kekhalifahan Islam yakin dan mulai menceburkan diri ke dalam pusaran konflik monarki-monarki Eropa pada November 1914.

Sebelum PD I meletus, jumlah populasi umat Muslim di bawah koloni Entente sangatlah banyak. Eugene Rogan dalam The Fall of The Khilafah mencatat ada 140 juta orang, dengan rincian 100 juta di bawah Inggris, 20 juta di bawah Prancis, dan 20 juta lagi di bawah Rusia. Meskipun, tidak semuanya terikat oleh kekuasaan Turki Utsmani. Namun, kesamaan imanlah yang menjadi pengikatnya. Dengan jumlahnya yang banyak, seruan jihad Turki dinilai bisa menjadi senjata ampuh untuk mengikis kekuatan Entente yang juga telah menindas saudara-saudara seimannya.

Kedudukan Turki sebagai Penguasa Dunia Islam benar-benar digunakan sebagai strategi untuk merontokkan kekuatan Blok Entente. Upayanya dimulai dari koloni-koloni Entente di Asia dan Afrika. Pada 14 November 1914, sebuah Deklarasi Jihad Semesta dibacakan kepada publik. Deklarasi tersebut berisi seruan Sultan Turki, Mehmed V Reshad kepada seluruh umat Muslim di seluruh dunia untuk melakukan perlawanan jihad fii sabilillah kepada para penjajah kafir (Inggris, Prancis, dan Rusia). Harapannya tiada lain agar umat Muslim di seluruh dunia bergerak bersama melawan Blok Sekutu.

Setelah mendengar seruan jihad tersebut, Blok Sekutu terutama Inggris dan Prancis panik karena mereka takut bila suatu saat terjadi pemberontakan besar di koloni-koloni yang dihuni oleh mayoritas umat Muslim. Sementara, Inggris dan Prancis sangat membutuhkan suplai SDM dari koloni-koloni untuk dijadikan serdadu dalam PD I. Oleh karena itu, mereka mulai menguji loyalitas umat Muslim di koloni-koloninya.

Umat Muslim di koloni-koloni Entente menjadi rebutan bagi masing-masing pihak yang terlibat dalam PD I. Di satu sisi umat Muslim yang dijajah dituntut untuk menjadi loyalis penguasa asing di tanahnya sendiri. Sementara, di sisi lain, mereka juga terpanggil oleh seruan suci dari Turki Utsmani.

Inggris dan Prancis khawatir jika umat Muslim yang ada di bawahnya tidak berpihak kepada mereka melainkan kepada tuannya. Oleh sebab itu, untuk merebut hati umat Muslim, mereka membuat janji-janji manis di koloni-koloninya.

Contohnya, Raja Inggris, George V berjanji kepada umat Muslim India supaya bisa memperoleh bantuan berupa serdadu dari India. Dia berjanji akan melindungi Dua Tanah Suci Makkah dan Madinah serta situs-situs Islam lainnya. Padahal, dia sama sekali tidak memiliki kewajiban dan hak untuk merawat bahkan untuk melindungi situs-situs itu. Namun, apa daya, itulah upaya mereka untuk meraih simpati umat Muslim di koloni-koloninya.

Alih-alih menolak, justru para penguasa Muslim India dan Liga Muslim malah mendukung janji-janji manisnya. Tindakan yang bertolak belakang justru malah mereka lakukan kepada Turki Utsmani. Mereka menilai Sultan sudah melakukan penyimpangan dengan kedudukannya sebagai sultan-khalifah dan sudah menyesatkan umat Muslim di seluruh dunia atas deklarasi jihad yang telah dibuatnya.

Sementara, yang tak kalah mengherankan adalah tindakan penguasa Muslim di Afrika Utara, yaitu Tunisia dan Maroko yang langsung menyatakan dukungan kepada Kolonial Prancis untuk melawan seruan jihad Sultan.

Berbagai upaya untuk menghasut perlawanan dan dukungan umat Muslim terhadap seruan jihad Sultan Mehmed V dilakukan juga oleh para orientalis berkebangsaan Inggris, Prancis dan Jerman dengan cara membuat selembaran-selembaran propaganda jihad Turki yang ditulis dan disunting sedemikian rupa agar bisa menarik kalangan Muslim.

Deklarasi jihad yang sedari awal diharapkan dapat merontokkan kekuatan Entente. Pada akhirnya, Sultan harus menerima kenyataan bahwa wibawa Dunia Islam sudah menampakan tidak seperti dahulu lagi.

*) Penulis Naufal Al-Zahra
Sahabat Kalimat Sumedang
Mahasiswa Tingkat 2 Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Siliwangi Tasikmalaya

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *