Tengoklah di berbagai kitab Sirah yang ditulis para ulama mengenai kondisi arab Pra Kenabian Muhammad shallallu alaihi wa sallam. Maka kita akan menemukan berbagai kebobrokan akhlak semisal penyembahan berhala, berjudi, berzina, pembunuhan dan peperangan antar kabilah yang tidak kunjung selesai.

Sangatlah wajar kiranya, karena memang terbentang jauh kenabian Ibrahim dan Ismail alaihimaa salam hingga datangnya Nabi Muhammad membuat peradaban mereka amat gelap gulita kecuali segelintir orang yang Allah sebut sebagai kaum hanifin.

Namun, siapa sangka ternyata para ulama sirah juga menyebutkan ada berbagai tradisi baik yang hidup di antara mereka yaitu kebiasaan menepati janji dan kebiasaan menghormati tamu.

Kita simpan tentang menepati janji. Mari sedikit bahas mengenai kebiasaan baik mereka yaitu menghormati tamu.

Yang dimaksud tamu di sini adalah mereka yang datang dari luar Kota Mekah baik untuk keperluan berhaji, berdagang maupun yang lainnya. Secara geografis Mekah itu tidak strategis, bukan jalur dagang yang basah sehingga romawi dan persia tidak terlalu melirik untuk menguasai wilayah ini. Kalau melihat Ka’bah secar konstruksi juga biasa-biasa saja. Lalu apa yang membuat mekah selalu banyak dikunjungi banyak orang? Maka jawabannya adalah karena setiap tamu yang datang selalu dibuat senang oleh penduduk Mekah. Tentu saja tanpa menafikan peran Ka’bah sendiri yang memancarkan aura dimensi ketuhanan karena sekotor apapun kondisi Mekah saat itu dengan berbagai berhala tetap saja ia adalah Baitullah.

Karena ini sangat baik kemudian tradisi ini diteruskan oleh Islam bahkan dengan jaminan keimanan kepada Allah dan hari akhir.

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” Sabda Nabi dalam “Shahih Bukhari dan Muslim. ”Maka hendaklah dia memuliakan tamunya.”

Bangsa arab jika menerima tamu biasanya disambut dengan kalimat ahlan wa sahlan ada yang dutambah dengan wa marhaban. Dulu memang ini hanya ada di kalangan bangsa arab tetapi sekarang ucapan ini juga sudah mulai terbiasa diberbagai belahan dunia yang berpenduduk musmil termasuk Indonesia.

Umumnya orang tahu ucapan ini berarti selamat datang. Benar juga, tapi ternyata jika diperdalam maknanya sangat filosofis sekali – lebih dari sekadar ucapan selamat datang.

Secara bahasa ahlan berarti keluarga. Adapun sahlan berarti ringan, mudah, gampang, tenang dan aman.

Orang yang sedang bertamu itu adalah ibnu sabil yang secara psikologis ia sedang dalam kondisi lemah. Lemah sebab berbagai keterbatasan karena jauh dari pemukiman sendiri, keluarga dan kerabat-kerabatnya. Karena itu ahlan wa sahlan tidak sekedar ucapan selamat datang tetapi juga ucapan penghormatan tuan rumah kepada tamu dengan pemberian berbagai kemudahan sebagai pertolongan bagi mereka yang sedang bertamu dan berstatus sebagai ibnu sabil.

Silakan Pak Bu diminum dulu kopinya. Jangan beranjak kemana-mana dulu saya lagi menyiapkan makan. Sebaiknya Pak Bu mandi dulu atau istirhat dulu pakai saja kamar depan yang kosong.” Ini adalah tawaran-tawaran pertolongan yang biasa tuan rumah berikan.

Apabila seorang tamu masuk ke rumah seorang mukmin, maka masuk pula bersama tamu itu seribu rahmah dan seribu berkah. Allah akan menulis untuk pemilik rumah itu pada setiap suap makanan yang dimakan oleh tamunya seperti pahala haji dan umrah.” Demikian sabda Rasulullah dalam riwayat Addailami.

Maka kemudian benar apa kata Pak Hajriyanto Y. Thohari, Duta Besar LBBP RI untuk Lebanon di Beirut yang memakani “ahlan wa sahlan” semisal dengan ungkapan dalam bahasa Inggris: “May our house be like your family home and like a level plain on which you can walk easily and safely!” (Semoga rumah kami bisa menjadi seperti rumah keluarga Anda sendiri dan menjadi tempat yang membuat Anda mudah, nyaman dan aman!).

Imam al-Ghazali, sebagaimana dituturkannya dalam “Ihya Ulumuddin”, menyebutkan bahwa manusia selalu membutuhkan makhluk sejenis, baik untuk berkumpul maupun bertukar berbagai kebutuhan dan pertolongan. Kebutuhan itu tiada lain untuk memenuhi kebutuhan primer (dharruriyyat), sekunder (hajiyyat), dan tertier (takhsiniyyat). Dalam praktiknya sebagai pintu awal untuk memenuhi ketiga kebutuhan ini adalah dengan bertamu dan menerima tamu.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Alfurqon

Perpustakaan Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 13 November 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *