Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.” Demikian Rasulullah bersabda dalam At-Tirmidzi.

Seseorang itu kentara sekali mempengaruhi siapa-siapa di sekelilingnya. Ia bisa mempengaruhi agama, pandangan hidup, kebiasaan dan sifat-sifat seseorang. Ia sendiri pun dipengaruhi oleh setiap insan yang mengelilinginya.

Dalam suatu kesempaan Syaikh Abdul Muhsin Al-Qâsim berkata, “Sifat manusia adalah cepat terpengaruh oleh teman pergaulannya. Manusia saja bisa terpengaruh bahkan oleh seekor binatang ternak sekalipun.”

Karena itu pilihlah teman sejawatmu untuk bergaul sehari-hari dari mereka yang bisa membawa energi positif bagi dirimu.

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” Begitulah Rasulullah bersabda dalam Al-Bukhari.

Delapan nasehat oleh Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali ia sampaikan dalam “Tanbiihul Ghaafilin”.

  1. Sering duduk bersama orang-orang kaya, maka Allah akan menambahkan kepadanya cinta dunia dan semangat untuk mendapatkan dunia.
  2. Sering duduk bersama orang-orang miskin, Allah akan menambahkan kepadanya perasaan syukur dan ridha atas pemberian Allah.
  3. Sering duduk dengan para pejabat, Allah akan menambahkan kepadanya perasaan sombong dan kerasnya hati.
  4. Sering duduk dengan perempuan, Allah akan menambahkan kepadanya kebodohan dan syahwat.
  5. Sering duduk dengan anak-anak kecil, Allah akan menambahkan kepadanya kelalaian dan senda gurau.
  6. Sering duduk dengan orang-orang fasik, Allah akan menambahkan kepadanya keberanian berbuat dosa dan kemaksiatan serta semangat untuk berbuat maksiat, kemudian menunda-nunda akan taubat.
  7. Barangsiapa yang sering duduk dengan orang-orang saleh, Allah akan menambahkan kepadanya kegemaran dalam amalan-amalan ketaatan.
  8. Barangsiapa yang sering duduk dengan para ulama’, Allah akan menambahkan kepadanya ilmu dan sikap wara’ (berhati-hati dalam mengambil harta dunia).

Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang berkumpul.” Demikian Sabda Rasul dalam Bukhari dan Muslim. “Karena itu, jika mereka saling mengenal maka mereka akan bersatu, dan jika saling tidak mengenal maka akan berbeda (berpisah).”

Hadits inilah yang oleh kita sering disebut dengan kemistri atau sering dibilang “satu frekwensi”. Maka berkumpulah dengan frekwensi ketaatan pada-Nya. Jadikanlah keimanan dan ketakwaan yang menjadikan kamu sekalian “Ruh-Ruh Yang Bertautan”.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Al-Furqon

“Saung Domba” Legok Landeuh, 12 November 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *