Dihadapan Jabir bin Abdullah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, “Sesungguhnya Manusia masuk Agama Islam secara berbondong bondong, dan mereka juga akan keluar dari agama Islam secara berbondong bondong.”

Ucapan ini tidak jauh setelah terjadinya Fathu Mekah. Ketika itu sebagaimana termaktub dalam Qur’an surat An-Nashr Allah berfirman tentang masuknya orang-orang secara berbondong-bondong ke dalam Islam.

Awalnya para sahabat merasa heran mengapa Rasulullah bersabda demikian. Padahal kemenangan Islam sudah di tangan dan Jazirah arab sudah hampir seluruhnya mengikuti Rasulullah. Namun kemudian mereka baru memahami sabda Rasulullah ini ketika beliau wafat.

Saat fathu mekah banyak diantara mereka yang masuk Islam bukan karena utuhnya iman namun hanya karena ingin aman dan dilindungi.

Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman”, Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman,” tetapi katakanlah, “Kamu telah tunduk (Islam),”  karena iman belum masuk ke hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Demikian Surah Al-Hujurat ayat 14 mengabarkan.

Walapun tentu saja banyak diantaranya yang benar-benar masuk Islam dengan sesungguhnya, namun mereka yang berpura-pura juga tidak sedikit.

Parahnya diantara mereka ada yang bukan hanya murtad tetapi juga membuat agama tandingan dengan mengaku menjadi Nabi semisal Musailamah Al-Kadzab.

Karena itu Rasulullah bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla, dan untuk mendengar serta taat (kepada pimpinan) meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Sesungguhnya, barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian (para sahabat), niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafa’ur Rasyidun –orang-orang yang mendapat petunjuk- sepeninggalku. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian, jangan sekali-kali mengada-adakan perkara-perkara baru dalam agama, karena sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat”.

Selain itu untuk tetap menjaga keistiqamahan iman di dalam diri ketahuilah hal-hal jahiliyah. Agar tak terjerumus ke dalamnya.

Sesungguhnya ikatan Islam hanyalah terurai satu per satu apabila di dalam Islam tumbuh orang yang tidak mengetahui perkara jahiliyah.” Demikian Umar menegaskan.

Pelajari hal-hal buruk agar kita faham mana yang harus dihindari bahkan dijauhkan sejauh-jauhnya dari kehidupan.

Dalam Gurindam dua belas pasal Sembilan Raja Ali Haji menyampaikan nasihatnya,

Ini Gurindam pasal yang kesembilan:

Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,
Bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
Itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
Di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
Di situlah syaitan tempat bergoda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
Di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
Syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
Dengan syaitan jadi berseteru.

Terakhir ikatlah diri dengan aljamaah. Berkumpul dengan orang-orang saleh agar berlaku tawashoubilhaq dan tawashaubishabr.

Barangsiapa yang mati dalam keadaan memisahkan diri dari Al Jama’ah, maka ia telah melepaskan tali Islam dari lehernya” Demikian sabda Rasulullah dalam Shahih Bukhari.

AlJamaah itu bukan organisasi, kelompok atau komunitas tertentu. Aljamaah itu siapa saja yang mengedepankan sunah Nabi dan para sahabatnya serta mengutamakan persatuan umat dalam ikatan aqidah yang lurus.

Namun demikian bukan berarti berorganisasi itu tidak penting. Saya sendiri berpendapat bahwa berorganisasi itu sangat-sangat penting sekali. Silakan berorganasasi agar memiliki program kejamiyah yang terstruktur, juga agar terwadahi berbagai aktivitas bersama-sama dalam menjaga Islam dengan dakwah rahmatan lil alamin. Mau di Persis? Mau di NU? Mau di Muhammadiyah di PUI di SI di HW silakan. Tetap jaga persatuan. Mari bersama dalam hal-hal yang sama, dan mari berlapang dada dalam hal-hal yang berbeda pada urusan furu’.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Alfurqon

Sukasari-Bojong, 11 November 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *