Oleh: Ade Zaenudin

Alkisah ada seorang ahli ibadah yang sedang membaca surat Al-Fatihah ketika salat.  Tepat di saat membaca iyyaaka na’budu (hanya kepada-Mu kami menyembah) tiba-tiba dalam pikirannya terlintas bahwa dia sudah menjadi ahli ibadah yang sesungguhnya. Lalu tiba-tiba pula hati kecilnya membentak, “Bohong, kamu masih menyembah makhluk.” Hatinya belum sepenuhnya bersih menghamba atau mengagungkan Allah, masih tersisa sedikit rasa mengagungkan dirinya. Lalu dia bertobat dan mulai hidup menyendiri.

Satu saat dia salat dan sampai juga pada bacaan iyyaaka na’budu, hati kecilnya membentak kembali “Bohong, kamu masih menyembah istrimu”. Hatinya masih mencampuradukan antara kedahsyatan cinta kepada Allah dengan kedahsyatan cinta pada istrinya. Lalu dia menceraikan istrinya.

Kemudian dia salat dan sampai juga pada bacaan iyyaaka na’budu, seperti biasa hati kecilnya berontak “Bohong, kamu masih menyembah harta bendamu”. Hatinya masih tercampur antara cinta kepada Allah dan kepada harta benda yang dimilikinya. Lalu dia menyedekahkan semua hartanya.

Lalu dia salat dan membaca iyyaaka na’budu, hati kecilnya pun membentak kembali “Bohong, kamu masih menyembah pakaianmu”. Lalu dia menyedekahkan semua pakaiannya selain yang sedang dia kenakan.

Maka kemudian dia salat dan seperti biasa, sampai pada bacaan iyyaaka na’budu, hati kecilnya berbisik “Betul, kamu termasuk ahli ibadah yang sebenarnya.

Kisah ini memberikan pelajaran tentang pentingnya kebersihan hati bahwa kecintaan kepada Allah SWT adalah segala-galanya, di atas segalanya.

Kita menyadari bahwa level ketaatan manusia sangat beragam. Ambil contoh makna “bersih atau bening” untuk berbagai macam air. Standar bersih atau bening untuk air minum, air hujan, air laut, air kolam, dan air comberan tentu berbeda.

Bagaimana level kita saat ini? Mari lakukan refleksi.

Kita mungkin belum sampai pada level ahli ibadah seperti yang diceritakan di atas. Masih membutuhkan dunia. Nabi bersabda Ad-dunya mazroatul akhiroh (dunia adalah ladang mencapai akhirat), namun kita harus faham kata kuncinya bahwa kecintaan kepada Allah tidak boleh dikalahkan dengan kecintaan kita kepada makhluk, apapun itu.

Semoga Allah SWT memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada kita agar istiqomah dalam beribadah, Allah hilangkan sisa-sisa kemusyrikan dalam diri dan Allah tancapkan dalam dada kita, keyakinan yang kuat dan mengikat erat, kalimat ma fii qolbi ghoirulloh. Wallohu a’lam

Referensi: Kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddin.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *