Barangsiapa masuk ke dalam Masjidil Haram, dia akan aman. Barangsiapa masuk ke dalam rumah Abu Sufyan, dia akan aman.” Seru Rasulullah kepada seluruh penduduk Mekah. Kala itu Rasulullah dan para sahabat memasuki Mekah dengan 10.000 pasukannya untuk membersihkan Ka’bah.

10 Ramadhan 8 Hijriyah bertepatan dengan 630 Masehi adalah hari yang paling menggetarkan hati Abu Sufyan juga istrinya Hindun si pemakan jantung Paman Rasulullah.

Tetapi Rasulullah, mengangkat hati Abu Sufyan yang sedang tertunduk malu itu. Rasulullah seolah-olah menyamakan kedudukan rumah Abu Sufyan dengan Masjidil Haram.

Betapa piawai Rasulullah memainkan suasana hati pemimpin Mekah yang sudah tertawan itu. Pada saat ia menyerah tanpa sedikitpun pertumpahan darah. Rasulullah malah mengangkat Abu Sufyan yang sebetulnya sudah tak memiliki kewibawaan di hadapan kaumnya.

Orang-orang mekah berbondong-bondong memasuki Islam. Kemenangan yang harus dirayakan dengan sebaik-baik perayaan.

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohon ampunlah. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat.” Demikian cara merayakan kemenangan dalam Islam.

Bertasbih adalah mengakui ke-Mahasucian Allah dengan pujian atas kemenangan yang ditakdirkan-Nya. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah. Maka memohon ampunlah atas keujban diri, ketamakan atas dunia dan kesombongan karena merasa telah mengalahkan.

Padahal Kata Allah, “bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Demikian Allah berfirman dalam An-Anfal ayat 17.

Muawiyah anak Abu Sufyan waktu itu mendahului ayah dan ibunya memasuki Islam. Adapun Abu Sufyan meminta waktu seminggu untuk matang-matang befikir apakah akan masuk Islam atau tidak.

“Jangan seminggu.” Kata Rasulullah.

“Apakah waktu seminggu itu terlalu lama?” Tanyanya dengan penasaran.

“Tidak, waktu satu minggu terlalu cepat untukmu. Kuberi waktu dua bulan untuk berfikir secara leluasa ….” Kata Rasulullah.

Meraka pun akhirnya masuk Islam dengan sangat matang. Bahkan menjadi pembela yang gigih. Suatu saat keluarga Abu Sufyan ini yang akan memegang kekhalifahan Bani Umayah yang bisa menguasaia dunia.

Demikian Islam mengajarkan kemanangan bagi umatnya. Kemenangan yang matang. Kemnangan yang menghantarkan pada rasa kecil di hadapan Allah Yang Maha Besar.

Mang Agus Saefullah

Marbot masjid Al-Furqon

Genta Studio, 10 November 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *