Oleh: Moh. Anis Romzi

Tanggal 07 November 2020. Itu adalah hari terakhir tatap muka virtual dalam diklat penguatan Kepala Sekolah. Kelas A Kabupaten Katingan saya tergabung. Bersama dengan para Kepala Sekolah dari jenjang TK sampai dengan SMP. Dari 20 yang terdaftar menyisakan 13 orang peserta yang masih bertahan. Ada haru dan kesedihan saat menjalani hari-hari terakhir pembelajaran. Namun waktu membatasi pembelajaran harus diakhiri. Saatnya bersiap menuju aksi yanh sebenarnya. Sekolah tempat mengabdi dan bekerja untuk mencerdaskan generasi bangsa.

Hampir satu bulan lebih perjalanan diklat itu berlangsung. Dimulai Pada tanggal 07 Oktober 2020. Diawali dengan pengenalan LMS. Ini adalah hal baru bagi saya. Fitur-fitur aplikasi pembelajaran diperkenalkan. Ini sangat menyenangkan menemukan hal baru pada pembelajaran. Ini akan meningkatkan kapasitas saya dalam penguasaan teknologi informasi. Keterampilan tambahan yang tidak diajarkan secara teori. Menantang bagi saya generasi yang lahir tahun 80 an. Banyak menyebut dengan generasi mileneal.

Banyak tersimpan cerita selama mengikuti kegiatan Diklat Penguatan Kepala Sekolah. Saya tergabung dalam moda daring. Cara yang sebenarnya menurut saya masih belum memadai. Saya berpikir pasti akan ada kendala teknis. Persoalan jaringan internet yang tidak merata. Sekolah tempat saya pas di wilayah yang tidak terjangkau sinyal itu. Pertemuan via aplikasi zoom memerlukan kualitas jaringan yang bagus. Jika tidak saya akan hilang dari kelas dengan sendirinya.

Dalam waktu satu bulan pelaksanaan diklat saya harus berpindah-pindah tempat untuk beradaptasi dengan sinyal internet. Minggu pertama saya mengejar sinyal di ibukota Kecamatan Katingan Kuala, Pegatan. Kurang lebih tiga hari pada kegiatan pendahuluan.

Salah satu cerita adalah bertemu via daring dua orang yang sangat berperan. Pertama adalah narasumber dan yang kedua admin LMS. Narasumber adalah ibu Zaimatu Saida sedangkan admin LMS ibu Sukma saya sering menyebutnya. Walaupun masih muda, penguasaan dalam teknologi informasi tidak perlu diragukan. Saya sangat banyak terbantu karena ketidaktahuan saya tentang teknologi ini. Sang Narasumber ibu Zaima juga sangat kompeten dalam mengajar. Tidak hanya mengajar namun memberikan pendampingan yang inten selama diklat. Salah satu yang paling saya catat adalah dukungan pemberian semangat yang tak pernah henti selama pelatihan. “ Kalau bapak, ibu berpikir sulit, maka akan menjadi sulit”. Saya pikir beliau mempraktikkan pentingnya pikiran positif dalam menghadapi permasalahan.

Banyak pelajaran baru yang saya peroleh. Ini terkait dengan 3 kompetensi utama seorang Kepala Sekolah. Kompetensi manajerial, supervisi, dan pengembangan kewirausahaan. Ketiga kompetensi ini bermuara kepada peningkatan capaian standar kompetensi lulusan.

Ragam aktivitas banyak dilakukan. Mulai dari pengenalan LMS dan fitur yang ada di dalamnya. Semula saya berpikir bahwa LMS adalah singkatan dalam Bahasa Indonesia. Saya menebak-nebak bahwa L untuk Lembar, M untuk Manajemen, dan S untuk Siswa. Saya berpikir demikian karena saya sedang menjadi siswa diklat. Ternyata bermakna lain.

Pengalaman baru melahirkan semangat baru pula. Pada bagian refleksi akhir saya meneguhkan komitmen untuk menjadikan sekolah yang saya pimpin akan menjadi rumah kedua terbaik bagi peserta didik.

Diklat penguatan kompetensi kepala sekolah ini akan menjadi catatan kehidupan.Ada tanggung jawab besar sesudah kegiatan. Saya bersyukur dapat menikmati kesempatan belajar untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

Harus ada dampak setelah dilatih. Ini adalah amanah yang menjadi sarana ibadah. Ada perjuangan yang harus ditempuh. Inovasi pendidikan adalah wajib dimiliki oleh seorang Kepala Sekolah. Student wellbeing adalah muara. Saya masih belajar berjalan dari titik yang paling belakang.

Terima kasih yang tidak terhingga Bu Zaima dan Bu Sukma. Semoga berkah berterusan

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 09/11/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *