Oleh: Moh. Anis Romzi

Sudah enam tahun di sini. Di SMPN 4 Katingan Kuala, Jaya Makmur Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan. Ini boleh dikatakan lama atau singkat. Itu relatif. Waktu memiliki makna sendiri-sendiri bagi yang empunya.

7 bulan setelah masa Belajar Dari Rumah karena pandemi covid-19.

Jumat pagi 06/11/2020, saya baru menyadari ada yang hilang. Saat tatap muka terbatas mulai diijinkan. Tidak pernah terdengar lantunan ayat Al-Quran sebelumnya. Karena semua belajar dan mengajar dari rumah. Sekolah terasa sangat sepi. Sesekali bapak dan ibu guru piket menilik. Itu untuk memastikan sekolah dalam kondisi aman. Tidak ada lantunan ayat Al-Quran setiap pagi seperti sebelum pandemi covid-19 itu datang. Jum’at pagi itu saya mulai lagi.

Pagi itu saya menemukan bacaan al-Quran yang biasa saya putar via pengeras suara sekolah. Setiap pagi pada saat menyambut anak-anak datang ke sekolah saya lazim melakukannya. Saya niatkan untuk beribadah. Terkadang saya memulainya dengan memutar lagu kebangsaan Indonesia Raya. Saya pikir salah satu cara membangkitkan nasionalisme dapat dilakukan dengan itu. Kecil, namun itu baik untuk mengafirmasi salah satu nilai karakter yang saat ini ramai didengungkan.

Ada ketenangan dan keharuan setelah lama tidak terdengar lantunan ayat suci di setiap pagi. Itu laksana obat hati bagi siapa saja yang menyimaknya. Saat saya melakukan aktivitas pagi menyambut peserta didik yang datang.  Saya selalu memegang thermogun untuk menerima suhu badan mereka. Protokol kesehatan yang harus diterapkan. Lantunan ayat suci dari pengeras suara sekolah selalu menemani. Itu memberi ketenangan. Pekerjaan bukan lagi beban. Tetapi hiburan diri didampingi lantunan kitab suci.

Selalu ada harapan untuk menjadi lebih baik. Hari ini kembali ayah suci itu menggema setelah 7 bulan diam. Ayat suci mengguratkan harapan untuk kehidupan. Tidak hanya di dunia, harapan baik itu mengantar pada keabadian kampung akhirat. Bagi kita yang hidup, wajib menyalakan harapan baik kepada anak-anak kita. Mereka akan menjadi generasi emas Indonesia. Pada pundak mereka tampuk kepemimpinan akan bergeser dari kita sekarang ini. Bagikan harapan baik kepada siapa saja di sekitar kita. Ayat-ayat suci dapat menjadi inspirasi menyalakan harapan kebaikan.

Lantunan ayat Al-Quran pagi itu, menyalakan semangat. Saat semangat itu hampir runtuh karena pandemi. Kini semangat itu kembali. Boleh jadi beberapa dari kita tidak menyadari. Lantunan Al-Quran menjaga semangat. Ia adalah bacaan sempurna. Itu karena bersumber dari Sang Pencipta. Pelajaran yang tidak terbatas ada di dalamnya. Nyalakan semangat untuk mengambil pelajaran darinya setiap waktu. Sampai saat jatah waktu yang diberikan habis tetap kobarkan semangat untuk mencintai Al-Quran.

Obat hati salah satunya adalah membaca Al-Quran.  Saya mengutip ustaz Adi Hidayat dalam video yang dikirim kawan saya sewaktu duduk di bangku MTs. “ Jika kegelisahan datang menghampiri. Berwudulah, dan baca Al-Quran. Bisa jadi tidak seketika menyembuhkan. Tetapi ia dapat memberikan ketenangan.” Maka pantas Al-Quran adalah obat segala penyakit. Obat yang lain hanya turunan proses. Inilah obat hati yang sesungguhnya.

Jika keikhlasan sudah tertanam di hati. Surga sudah kita nikmati. Saat ada ketulusan dalam pengabdian, tidak akan ada lagi beban. Semua terasa sebagai keindahan. Kita tidak akan terbawa suasana, tetapi menciptakan suasana. Nikmati pekerjaan dalam ketulusan. Anda tidak perlu repot mencari keindahan. Bukankah Al-Quran ayat terindah dari-Nya? Nikmat mana lagi yang engkau dustakan.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 09/11/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *