Untuk apa kalian datang ke sini?” Tanya Rostam Farrokhzad Panglima Persia dalam pertemuan sebelum Perang Qadisiyah dimulai.

Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dari kezhaliman agama-agama kepada keadilan Al-Islam.” Jawab Rib’i bin Amir kepadanya.

 “Maka Dia mengutus kami dengan agama-Nya untuk kami seru mereka kepadanya. Maka barangsiapa yang menerima hal tersebut, kami akan menerimanya dan pulang meninggalkannya. Tetapi barangsiapa yang enggan, kami akan memeranginya selama-lamanya hingga kami berhasil memperoleh apa yang dijanjikan Allah”. Lanjutnya dengan tegas.

Inilah ucapan yang menggetarkan lawan. Kala itu sebagai utusan Panglima Saad bin Abi Waqash, Rib’i bin Amir disambut oleh Panglima Rostam dengan suasana sambutan yang sengaja dibuat untuk memamerkan kemegahan Persia. Tempat pertemuan itu mereka hiasi dengan bebagai perhiasan seperti bantal-bantal mewah, permadani dan benang-benang emas. Rostam sendiri bermahkotakan perhiasan yang mahal.

Rib’i sama sekali tak merasa takjub. Ia yang datang dengan pakaian sederhana namun dengan semangat yang berhias. Berhias keimanan dan kesiapan menjemput kesyahidan.

Perang pada masa pemerintahan Umar bin Khattab ini terjadi pada tahun 636 Masehi. Kala itu pasukan Islam bisa mengalahkan pasukan Persia dan menguasasi wilayahnya hingga hari ini.

Baiklah untuk detail kejadian perang biarkan kita bahas pada tulisan lain. Poin penting dalam kisah ini adalah mengenai memerdekaan manusia yang menjadi misi Islam. Islam menghendaki manusia itu bisa hidup bebas. Sehingga sistem aturan di dalam Islam dibuat untuk melindungi kebebasan manusia. Kebebasan yang hakiki adalah kebebasan yang saling melindungi bukan sebaliknya.

Karena itu Rib’i bin Amir mengucapkan kata-kata itu dihadapan musuh. Artinya musuh yang dihadapi adalah musuh yang selalu membangun kesewenangan dalam kekuasaannya. Penindasan, kekerasan, ketidakadilan dan kedzaliman dalam kekuasaan mereka adalah sasaran yang akan diberangus. Lalu Islam datang untuk membebaskan.

Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.” Demikian Allah berfirman dalam Qur’an Surah Al-Anbiya ayat 105.

Dalam “Lisanul Arabi” Ibnu Mandzur mengartikan rahmat sebagai kelembutan yang berpadu dengan rasa iba atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia.

Lalu bagaiaman kasih sayang disebarkan dengan perang? Perang adalah pilihan ketiga setelah dua penawaran. Pertama, Aslim Taslam – masuk Islamlah maka engkau selamat. Kedua, berdamailah sebagai kafir dzimmi atau mu’ahid yang tunduk pada aturan Islam dan tetap bebas menjalankan agama dan kepercayaannya. Ketiga, jika tetap bersikukuh mempertahankan kekuasaan mereka yang dzalim maka mereka harus menghadapi invasi kaum muslimin.

Dalam kaidah fikih ada yang disebut dengan irtikabu akhaffi adhararain (menempuh kemudharatan yang lebih ringan pada dua mudharat yang tidak bisa dihindari).

Perang itu memang madharat tetapi ia lebih ringan daripada terus menerus terjadi kedzaliman pada kekuasaan itu. Dalam kasus pengobatan misalnya, rasa sakit disuntik oleh jarum itu madharat tetapi akan menghilangkan madharat yang lebih besar yatiu sakit berkepanjangan.

Karena itu kemudian Nabi bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berkah untuk diibadahi kecuali Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan hal itu, akan terjagalah darah-darah dan harta-harta mereka dariku, kecuali dengan hak Islam, sedangkan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah.”

Kata “bersaksi” ini kemudian diartikan sebagai agar manusia merasakan betul (menyaksikan) betapa indahnya hidup di bawah naungan Islam. Islam berarti bertauhid, dan mengikuti Rasul sehingga terlindungilah nyawa, kehormatan, harta dan hak-hak mereka. Inilah yang disebut memerdekakan manusia.

Merdeka, Allahu Akbar

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Alfurqon

Perpustakaan Rumah, 9 November 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *