MaryatiArifudin, 8 November 2020

Jikalau bukan atas dasar taqwa, ku yakin dirimu takkan meminangku. Kalau bukan karena cinta tak mungkin kau bertahan dalam ikrar suci itu.

Alloh SWT telah menggariskan diriku denganmu tuk bersatu dalam satu ikatan. Takdir tuk bertemu dan berpisah karena-Nya. Hampir 20 tahun 3 bulan 10 hari kita mampu bertahan, karena perpisahan sebagai takdir kehidupan. Takdir dari-Nya yang tak dapat dimaju ataupun diundurkan. Kita selalu jalani, sebagai suratan takdir kehidupan.

Hadirmu menyisakan indahnya akhir pernikahan. Walau sebentar, tetap mampu memberi kenangan. Kenangan indah yang tak bisa ku lupakan. Akan ku kenang dirimu sampai akhir nafas kehidupan. Cukup dirimu, memberikan suatu pembelajaran tuk memperbaiki akhlak di sisa umur kehidupan.

Aku sadar diriku banyak kekurangan tuk membersamaimu sepanjang hayat. Walau terasa singkat, namun perlakuaanmu makin hangat. Meskipun sekejab, di akhir kehidupanmu makin memikat. Memikat hati serta tabiat, membuat dirimu sulit ku lupakan walau sesaat.

Ku sadari!, di akher kehidupanmu makin mantab.  Tuk sungguh-sungguh menyiapkan bekal akherat, dengan merubah perilaku dan tabiat. Agar, selalu bersyukur sambil menunggu waktu walau  sesaat. Dirimu, mampu mengoptimalkan mencari bekal akherat. Orentasi di sisa umurmu selalu menebar kebermanfaatan. Seolah dirimu tahu bahwa usiamu tinggal sekejab.

Sungguh perjuangan itu terlihat! Berusaha mempertahankan ikrar sucimu. Tuk berikrar janji  berjumpa dan berpisah karena-Nya. Jika bukan ajaran mulia ini, mungkin pernikahanku hanya sebatas secarik kertas tanpa makna dan arti.

Ku bertanya? Kekuatan apa yang bisa menguatkan cinta suci kami, jikalau bukan landasan ajaran mulia ini. Suami muda saat itu, masih rupawan lagi dan belum mempunyai keturunan? Ia mampu berbuat sesuatu, namun tak dilakukannya. Karena, jika ia melakukaannya ia takut menyakiti seseorang apalagi belahan jiwa sejati. Ia siap ikhlas menerima segala takdir dari Illahi Robbi. Tak punya penerus generasi, tanpa penyejuk mata hati. Ku tanya padamu wahai saudaraku, “Kekuatan apa tuk membangun keluarga kokoh? Kalau bukan atas dasar kitab suci. Tak mungkin ku mampu menjalani ajaran mulia ini”.

QS Maryam ayat 2-3 yang berisi: penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria. Yaitu ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku.

Kami selalu ihlas menjalani saling menguatkan diri. Tuk menggapai jalan-jalan Illahi Robbi agar hidup kami mampu bermaanfaat diujung senja dan selalu menghias diri. Dengan mencari amalaan yang sebanding takdir yang belum mampu diberi. Semakin senja umur kami, berharap mampu menebar kebaikan disana-sini. Ku berharap disisa umurku, tidak menjadi sampah hidup dikemudian hari.

Kami pingin menggapai satu golongan dari tujuh golongan. Di saat tidak ada naungan kecuali naungan Alloh SWT. Ku coba tangkap peluang itu tuk bertemu karena mengharap cinta-Nya dan berpisah karena Alloh semata.

Setiap pertemuan pasti semuanya punya masalah. Cukup Alloh yang memahami setiap masalah itu. Bersyukur kami tetap ditakdirkan sepasang suami istri tuk saling mengasihi. Kami telah ikhlas tuk saling memaafkan sejak dini. Sehingga memudahkan kami ridha akan takdir sang Illahi Robbi.

Sungguh! Kami selalu berjuang mencari alasan tuk bersyukur pada-Nya. Kalau bukan Alloh belum mewujudkan harapan kami, karena Alloh SWT masih merindukan lantunan doa-doaku. Jikalau bukan ajaran mulia ini, tak mampu kami berjuang mengokohkan ikrar suci itu.

Mengikrarkan satu cita agar dikumpulkan di hari akherat kelak dengan penuh bahagia. Ibarat,  sepasang merpati tuk memadu kasih  berjanji setia sampai hayat  saling menguatkan demi menggapai satu tujuan mulia. Tuk mengokohkan pinangan itu agar saling bertemu dan berpisah karena-Mu.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *