Pak Agus udah salat belum?” Kata Bu Marni mengingatkan saya. “Iya ini mau Bu.” Jawabku. “Sudah, biar aku yang terusin, Pak Agus Salat saja dulu.” Sahut Bu Marni sembari mengambil alih tugas kelompok kami.


Bu Marni adalah Kepala Sekolah SD Advent Cirebon. Waktu itu kami satu kelompok. Selain Bu Marni ada temen-temen lain yaitu Bu Lies dari SD Kristen Terang Bangsa, Bu Yani dari SD Muhammadiyah, dan Bu Wresmi dari Geeta School dalam kegiatan “Penguatan Implementasi Kurikulum 2013”.


Kami menjalani kegiatan tujuh hari yaitu dari 12 sampai 18 September 2019. Berbagi tugas, saling menolong, dan sikap toleransi menghidupi kegiatan ini. Islam menyebutnya sebagai tasamuh.


Dalam “Tahdzib Tahsil Al-Aqidah Al Islamiyah” Prof. DR. Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibrin menyebutkan bahwa kafir terbagi ke dalam beberapa bagian. Pertama, Kafir mu’ahid yaitu orang kafir yang tinggal di negeri mereka sendiri dan di antara mereka dan kaum muslimin memiliki perjanjian. Kedua, Kafir dzimmi yaitu orang kafir yang tinggal di negeri kaum muslimin dan sebagai gantinya mereka mengeluarkan jizyah (semacam upeti) sebagai kompensasi perlindungan kaum muslimin terhadap mereka. Ketiga, Kafir musta’man yaitu orang kafir masuk ke negeri kaum muslimin dan diberi jaminan keamanan oleh penguasa muslim atau dari salah seorang muslim. Keempat, Kafir harbi yaitu orang kafir selain tiga jenis di atas. Kaum muslimin disyari’atkan untuk memerangi orang kafir semacam ini sesuai dengan kemampuan mereka.


Teman-teman saya yang berdamai dengan muslim, mereka terkategorikan sebagai dzimmi. Karena itu kita wajib bertasamuh. Mereka harus kita lindungi hak-haknya. Berdampingan dengan mereka menjalani berbagai kesepakatan yang tidak melanggar syariat Islam. Mereka juga berhak mendapatkan Dzimmah dari kaum muslimin.


Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Dzimmah kaum muslimin itu satu, diusahakan oleh orang yang paling bawah (sekalipun)”. Demikian hadits ini diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim.


Yang dimaksudkan dengan dzimmah dalam hadits di atas adalah jaminam keamanan.” Kata Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim. “Maknanya bahwa jaminan kaum muslimin kepada orang kafir itu adalah sah (diakui). Oleh karena itu, siapa saja yang diberikan jaminan keamanan dari seorang muslim maka haram atas muslim lainnya untuk mengganggunya sepanjang ia masih berada dalam jaminan keamanan.”


Allah melarang membuat mereka khawatir dan takut hidup berdampingan dengan kaum muslimin.
Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. ” Sabda Nabi dalam riwayat An-Nasai.


Demikian juga dengan kafir mu’ahad. Beliau bersabda, “Siapa yang membunuh kafir mu’ahad ia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun.” Riwayat Al-Bukhari.

Dan bagi kafir musta’man dilindungi Allah melalui firman-Nya dalam Quran Surah At-Taubah ayat 6.
Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.”


Mereka itulah semua saudara kita yang oleh Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 36 disebut Jaril junubi – tetangga jauh. Kedepankan akhlak dengan tetap berprinsip pada ajaran Islam. Tidak ada negosisasi dalam beragama, namun berhubungan dengan mereka tetap harus harmonis. Sehingga mereka akan membaca Islam dari kebaikan perangai kita dalam kehidupan sehari-hari.


Mang Agus Saefullah
Marbot Masjid Al-Furqon
Brebes, 7 November 2020

0Shares

By Admin

One thought on “Tetangga Jauh”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *