Oleh: Moh. Anis Romzi

Setiap orang menanam lumrahnya berharap tanaman itu berbuah. Selalu ada harapan dalam sebuah usaha. Harapan inilah yang membuat manusia bekerja untuk memenuhinya. Jika tidak berhasil mencapainya acap kali membuat kecewa. Itu lebih baik. Karena sudah berusaha wajar jika ada kekecewaan setelah upaya dilakukan. Adalah tidak patut apabila kekecewaan berujung dengan rasa putus asa. Jangan sampai itu terjadi. Bukan buah usaha yang didapat melainkan laknat.

Kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari itu laksana menanam. Termasuk itu adalah aktivitas menulis. Jika setiap hari menanam ada harapan dapat memetik buah di kemudian. Sopo telaten bakal panen ( siapa tekun bakal berhasil) sebuah kata bijak dalam Bahasa Jawa yang mengena. Sulit untuk terjadi bila menanam sekali langsung sukses. Ada beberapa proses beberapa kali yang harus dilalui. Jangan berhenti, ulangi lagi dan lagi.

Tanaman yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Itu adalah logika positif. Namun bisa saja terjadi bibit yang ditanam baik belum tentu menghasilkan buah yang baik. Ada proses yang tidak sama dalam setiap tahapnya. Walaupun prosedur yang ditempuh sama. Ketika sebuah proses tidak dijaga dan dirawat. Akan sangat mungkin ada hama, gulma yang menjadi penghalang untuk berbuah. Namun pertama kali harus berasal dari benih yang baik. Kegiatan menulis laksana menanam kebaikan.

Buah dari menulis ada berbagai macam. Ini bergantung dari tujuan yang disematkan saat memulainya. Ini adalah persoalan niat yang ingin dicapai sang empu. Niat terbaik adalah yang disandarkan kepada Sang Pemberi Kehidupan. Ketika Ia menjadi alasan utama setiap menulis akan menjadi nilai pengabdian. Inilah tujuan paling hakiki dalam menulis menurut saya. Adapun yang lain adalah hadiah atas kemurahan-Nya. Buah-buah menulis sampingan antara lain; materi (uang, piala), kepuasan, penyelesaian tugas, pendidikan dan sebagainya. Semua sampingan.

Ada kritikan dalam tulisan. Saya merasakan bahwa lebih banyak gagal dari pada berhasil. Saat tekat itu ada. Saya tidak peduli. Saya terus menulis sampai lupa berapa kali gagal ketika berusaha mengikuti lomba menulis. Tidak mengapa, saya niatkan untuk menulis 500 kata sehari. Tentang tema apa saja. Pekerjaan, perjalanan, perasaan masuk dalam tulisan saya. Semula tidak niatan untuk berlomba. Ternyata hasil tulisan tiap hari itu dapat dirakit dan memberikan kemanfaatan materi. Dari kebiasaan harian menulis berbuah menjadi hadiah. Alhamdulillah, semua milik-Nya.

Ada pujian sekaligus cemooh. Saya mengutip Pak Cah tentang menyenangkan semua orang. Pak Cah dalam tulisannya menyatakan sulit untuk membuat semua orang suka pada tulisan kita. Saya merasa menbiarkan saja kritik, pujian, atau bahkan cemooh lewat. Menulis tetap berjalan. Ini adalah bukti dari kesungguhan. Pujian,kritik ataupun komentar itu bisikan. Dengarkan yang baik, lanjutkan lagi menulisnya.

Ada hadiah yang dihasilkan dari menulis. Semua buah kebaikan menulis itu adalah hadiah dari-Nya. Kita bukan apa-apa. Ketika mendapatkan kebaikan dari yang kita tulis, syukuri dan tambahi. Adalah wajar merayakan kegembiraan dari sebuah keberhasilan. Cukup sebentar saja. Kemudian lanjutkan lagi sebagai ibadah dalam menebarkan kebaikan. Apapun hadiahnya terimalah, karena Anda sudah menanam lewat tulisan.

Menulislah terus untuk kebaikan. Niatkan lurus untuk ibadah. Akan ada buah dari setiap yang kita tanam. Menulis itu berbuah. Itu tidak selalu berbentuk materi. Kesehatan, ketenangan, kepuasan adalah hal-hal yang tidak dapat dikalkulasi dengan angka. Namun kesemuanya ada. Siapa saja berhak menerima jerih payah dari kebiasaan menulis.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 06/11/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *