Oleh: Moh. Anis Romzi

Naiklah setinggi mungkin, karena semakin tinggi semakin luas pandanganmu, tapi ingat gunakan kebenaran sebagai pedoman( Muklis Irawanto, dalam buku Kepala Sekolah Belum Berpengalaman). Satu kata bijak yang saya ambil dari salah seorang rekan kerja. Pesan yang sarat makna untuk memantaskan diri dalam sebuah kesuksesan. Kondisi ini akan membawa seseorang pada suatu posisi di atas rata-rata. Maka seyogianya perlu menata diri jika suatu masa kita berada pada ketinggian yang berbeda dengan yang lain.

Suatu keberhasilan yang kita capai acap kali tidak menyenangkan semua orang. Bahkan orang yang dekat dengan kita. Tentu keluaran dari sebuah sari pati ada dua. Pertama esensi sedangkan yang kedua adalah emisi. Esensi merupakan hakikat dari sebuah keberhasilan yang kita catatkan. Akan itu akan membawa kepada kebaikan. Jika mampu mengambil esensi dari sebuah proses ini akan menjadi energi yang menguatkan. Sebaliknya ada yang harus dibuang dari sebuah hasil, apabila keberhasilan membawa cela bagi diri. Ambil esensi keluarkan yang seharusnya tidak perlu diambil.

Namun tidak dengan keluarga. Bagi keluarga keberhasilan dari anggotanya adalah kebanggaan. Seolah bahwa sebuah upaya dilakukan bersama. Walaupun tidak bersifat materi, kebahagiaan yang telah didapatkan menjadi milik bersama. Tidak selalu keluarga itu bersifat biologis. Namun keluarga itu ada di dalam rasa. Siapa saja yang mampu merasakan kebahagiaan yang lain bagian dari dirinya, itulah sejatinya keluarga.

Kegagalan yang berulang berganti dengan satu keberhasilan. Ini adalah kebahagiaan yang tidak ternilai. Setelah melakukan usaha yang berkali-kali belum mendapatkan hasil. Pada saat yang sama pula ada satu dari usaha yang bernilai, lumrahnya ada rasa kepuasan. Bukan soal uang melainkan apresiasi. Gagal itu sangat biasa bagi pribadi yang senantiasa mencoba. Ulangi lagi usaha sampai Anda lelah. Jerih payah usaha yang berulang akan lunas terbayar dengan satu keberhasilan.

Tidak selalu satu-satu perbandingan antara kegagalan dan sukses. Umumnya lebih banyak segalanya daripada sebuah keberhasilan. Jadi, jangan menyerah saat satu usaha belum menemui hasil. Dari proses ini sebenarnya Anda sedang menuju pada ketinggian. Ada tenaga, biaya, pikiran yang harus dikorbankan. Saat yang lain sedang menikmati kesenangan, ia harus rela menundanya. Ia menggantinya dengan usaha yang lain. Inilah yang saya maksud Anda sedang menuju ketinggian.

Komentar apa saja boleh datang. Ini karena sekarang zaman kebebasan berpendapat. Ketika kita telah melampaui diri dan yang lain. Sering muncul tanggapan yang beragam. Ah biasa saja itu, ooh aku juga bisa ataupun Alhamdulillah kawan saya berhasil, saya belum. Dan masih banyak yang lainnya. Namun jika di saring akan menjadi dua arus utama. Suka -tidak suka, positif-negatif ataupun pasangan yang lain. Tugas kita hanya menetralkan. Ambil dua-duanya urailah hingga hanya kebaikan yang keluar dari diri.

Peganglah norma dalam hidup. Ia adalah landasan kebenaran dalam kehidupan sosial kemanusiaan. Ini yang akan menjadi ciri penanda kedewasaan dan kebijaksanaan. Ketika berada di ketinggian inilah yang menjadi kompas untuk mencapai tujuan. Sikapi kritik dengan dewasa dan bijaksana dengan landasan norma. Anda akan menjadi pribadi anti baper yang luar biasa.

Konsistensi dalam berkarya adalah keharusan. Buah dari ini adalah lupa membedakan antara komentar negatif maupun positif. Semua dianggap netral. Dalam semai sikap ini adalah gambaran dari kemandirian. Biasa saja menanggapi komentar. Anda yang memegang kendali atas diri sendiri. Ikut arus atau melawan itu adalah pilihan. Tentukan rasa diri atas penilaian yang lain. Uang hanya berlaku bila memiliki dua sisi. Begitu pun Anda dengan komentar yang diterima. Kuatkan diri dengan karya siapkan tameng baper dari awal.

Singam Raya, Katingan Kuala, Katingan, Kalteng. 07/11/20

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *