Masih berbicara tentang pembebasan. Suatu hari Julian Gubernur Ceuta salah wilayah spanyol meminta bantuan kepada Gubernur Mesir pada masa pemerintahan Khalifah Al-Walid untuk menyerang Spanyol. Pasalnya Julian mendapati rajanya raja Roderick berlaku tidak adil dan sewenang-wenang kepada rakyatnya. Terlebih putri Julian sendiri dinodai kehormatannya oleh raja itu.

Setelah memperhitungkan kekuatan militer, Nusha bin Nusair pun memenuhi permintaan Julian. Pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Thariq bin Ziyad segera melakukan invasi atas persetujuan Khalifah Al-Walid.

Waktu itu bulan Sya’ban 92 Hijriyah, pasukan sebanyak 7000 orang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad pergi menuju spanyol dengan menyebrangi lautan hingga sampai ke pantai daratan Eropa.

Mendengar kedatangan pasukan Thariq bin Ziyad, Roderick pun menyiapakan pasukan perang sebanyak 70.000 pasukan. Lalu beberapa hari setelah itu, Nusha bin Nusair menambah personil sehingga pasukan Thariq bin Ziyad menjadi 12.000 pasukan.

Jumlah yang terlalu sedikit yaitu 12.000 pasukan melawan 70.000 rupanya membuat pasukan muslim menjadi ragu untuk berperang. Namun tidak disangka, Thariq bin Ziyad membakar kapal-kapal mereka yang dipergunakan untuk menyebrang sehingga tidak ada pilihan lain bagi pasukannya kecuali terus menyerang.

Maksud Thariq adalah agar semua pasukan tidak menyia-nyiakan apa yang sudah dilakukannya. Bagi Thariq, Raja Roderick harus menerima serangan dari mereka sebagai pelajaran dari kesewenang-wenangannya.

“Wahai sekalian manusia, ke mana jalan pulang?” Katanya berpidato berapai-api. Laut berada di belakang kalian, musuh di hadapan kalian. Sungguh keberadaan kalian di semenanjung ini lebih sempit dari pada keberadaan anak yatim di tengah-tengah perjamuan orang-orang jahat. Sungguh kalian tidak memiliki apa-apa kecuali keikhlasan dan kesabaran. Musuh-musuh kalian sudah siaga di depan dengan persenjataan mereka. Kekuatan mereka besar sekali, sementara kalian tidak memiliki bekal lain kecuali pedang-pedang kalian, dan tidak ada makanan bagi kalian kecuali yang dapat kalian rampas dari tangan musuh-musuh kalian. Sekiranya perang ini berkepanjangan, dan kalian tidak segera dapat mengatasinya, akan sirnalah kekuatan kalian. Kekuatan mereka terhadap kalian akan berubah menjadi keberanian terhadap kalian.” Lanjutnya.

Di Lembah Lakkah, Medina Sidonia pada 28 Ramadhan 92 H bertepatan dengan 18 Juli 711 M, kedua pasukan bertempur dalam kondisi jumlah personil yang tidak seimbang. Namun takdir berkata lain. Tekad Thariq bin Ziyad dalam membebaskan sesama manusia dari ketidak adilan rupanya membuat semangat pasukan terus menggelora. Sehingga pasukan Roderick yang jauh lebih banyak itu bisa dikalahkan. Roderick sendiri pun dapat dibunuh langsung oleh Thariq bin Ziyad.

Sejak saat itu, pembebasan muslim lainnya di negeri Eropa semakin tebuka. Berbondong-bondong mereka memasuki Islam. Tanpa paksaan tanpa tekanan dan hukuman. Agama hak azasi, agama kemanusiaan dan agama yang menjunjung tinggi keselamatan pribadi dan orang banyak.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Alfurqon Ciater

Baiti Jannati, 6 November 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *