Oleh: Ade Zaenudin

Syeikh Syihabuddin dalam kitabnya An-Nawadir menukil sebuah kisah yang disampaikan Uwes Al Yamani tentang berbakti terhadap orang tua.

Ada seorang lelaki tua yang sudah sakit-sakitan. Bertahun-tahun lelaki itu diurusi empat anaknya, laki-laki semua.

Merasa kesal, capek, bosan merawat orang tuanya begitu lama, bertahun-tahun, akhirnya anak pertamanya mengumpulkan ketiga adiknya untuk bermusyawarah.

Adik-adikku, Bagaimana kalau yang merawat orang tua adalah salah satu di antara kita saja, kompensasinya siapa pun yang merawat orang tua kita dialah yang mendapat warisan.

Anak kedua menyatakan kesetujuannya karena sudah merasa capek juga, begitu pun anak ketiga, kenapa tidak dari dulu ide seperti ini? Ide bagus, saya satuju jadi kita bisa fokus melaksanakan pekerjaan kita masing-masing.  

Anak keempat berbeda pendapat, menurutnya justru siapa yang merawat orang tua maka dia tidak boleh mendapat warisan. Semua saudaranya kaget dengan pendapat ini.

Biarlah saya yang akan merawat orang tua kita, kata anak keempat.

Ada dua alasan yang melatarbelakangi sikap anak keempat tersebut, pertama dia khawatir orang tuanya diracun sehingga cepat mati dan akhirnya yang merawat segera mendapat warisan, kedua dia merasa ide itu tidak adil karena sudah mendapat pahala merawat orang tua, diapun mendapat warisan, jadi dua kali lipat keuntungan. Tidak adil, katanya.

Dirawatlah orang tua itu sama anak keempatnya sampai satu saat orang tua itu meninggal.

Wahai kakak-kakakku, orang tua kita sudah tiada, tiba saatnya saya menunaikan kesepakatan, silahkan ambil semua warisan, dan saya pamit mau pergi dari tempat ini. Maka pergilah dia.

Malamnya anak keempat tersebut bermimpi didatangi seseorang, dia menyampaikan bahwa di salah satu pojokan rumahnya ada uang 100 dinar, silahkan gali dan ambil, lalu dia bertanya, apakah uang itu barokah, orang itu menjawab tidak, kalau begitu aku tidak mau.

Malam kedua dia bermimpi lagi dan disampaikan lagi bahwa dipojokan yang berbeda ada uang 10 dinar, diapun bertanya apakah itu barokah, lagi-lagi dia menjawab tidak, maka diapun mengatakan tidak mau.

Malam ketiga bermimpi lagi dan disampaikan bahwa di pojokan lain ada uang tapi sedikit, hanya 1 dinar tapi barokah. Besoknya dia lihat dan ternyata betul ada uang 1 dinar, Lalu dia ambil. Buatnya yang penting barokah walau jumlahnya kecil.

Uang 1 dinar itu dia bawa ke pasar, dia berniat mau membelikan sesuatu yang bisa menyenangkan istrinya, namun karena uang itu sedikit, maka tidak dapat apapun, mau beli baju juga tidak dapat.

Setelah berkeliling pasar, akhirnya dia bertemu penjual ikan, dibelilah dua ekor ikan dengan uang 1 dinar tersebut, dia berharap istrinya senang dengan apa yang dia beli tersebut.

Tanpa diduga ternyata di masing-masing perut ikan itu ada berlian. Salah satunya dia bawa ke toko berlian, ternyata tidak ada yang sanggup membeli, tukang berlian mengatakan, andai semua tukang berlian bersatu bersama-sama membeli satu berlian ini, tetap tidak akan sanggup karena mahalnya.

Ada kabar bahwa Sang Raja menginginkan berlian itu, dibawalah berlian itu ke istana. Luar biasa, berlian itu dihargai Sang Raja seharga emas seberat 30 ekor unta. Bayangkan, jika saja 1 ekor unta itu beratnya 1 ton, maka berlian itu dihargai 30 ton emas.

Hanya saja Sang Raja mengajukan syarat, dia akan beli jika berlian itu dijual dengan pasangannya yang satu lagi, ternyata Raja tahu bahwa berlian itu ada pasangannya.

Tidak tanggung-tanggung Raja menghargai berlian keduanya dua kali lipat dari harga berlian pertama.

Subhanalloh, Alhamdulillah, Allohu akbar.

Begitulah berkahnya ikhlas berbakti terhadap orang tua. Terlalu mudah bagi Allah SWT untuk memberikan balasan bagi orang yang disayangi-Nya.Wallohu a’lam

Sumber: Kitab An-Nawadir dikombinasi dengan berbagai sumber lainnya

0Shares

By Admin

2 thoughts on “Berkah Berbakti”
  1. Berbulat baik dengan penuh keiklasan.. Lbih berharga dari sekedar yang tampak oleh mata manusia. Allah akn memberi sesuai dengan niat kita. Lnjitkan sahabat menebar kebaikan keseluruh penjuru..percaya apa yg ada dibenak kita Allah akan kabulkan. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *