Oleh: Moh. Anis Romzi

Waktu tidak bisa kembali. Saat ini guru mengajiku telah berpulang menghadap-Nya. Jika tulisan dapat menjadi doa, ini adalah untaian doa terindah. Engkau husnul khotimah. Banyak telah kau ajarkan ilmu agama, yang sampai saat ini saya berpijak kepadanya. InsyaAllah semoga berakhir dengan tetap memegang teguh agama ini. Pulangmu menyisakan haru. Aku tidak dapat menunggumu, atau bahkan menjengukmu. Aku berharap bahwa ini akan menjadi doa untukmu guruku.

Ada cerita yang tidak terhitung jumlahnya. Saat aku melewati waktu kecilku belajar bersamamu. Saya yakin ini bukan sebuah kebetulan. Ini adalah takdir yang paling indah. Ilmu sederhana tetapi utama engkau ajarkan. Ya, membaca Al-Quran ilmu itu. Tidak hanya mengajar menyampaikan pengetahuan, namun juga keteladanan kehidupan. Masih jelas dalam ingatan, engkau mengajak murid-muridmu memasak bersama, makan bersama dalam satu nampan.

Ini adalah satu yang tak terlupakan. Kenangan luar biasa mengarungi waktu bersama sang guru. Tidak ada lelah, pamrih kecuali mengharap reda Ilahi. Berkah tiada tara pahala para guru ngaji.

Pak Yasir, guru mengaji saya waktu kecil. Saya masih ingat engkau membonceng dengan sepeda tua. Itu milik kyai. Setiap selepas magrib aku naik di bagian depan sepeda. Engkau sabar mengajar dari satu rumah ke rumah yang lain. Saat itu masih jarang musala tempat mengaji. Dari rumah-rumah diubah menjadi madrasah. Tempat pendidikan anti modal. Harapan terbesar hanya kepada dzat tertinggi. Ia Maha Kaya.

Teringat sangat jelas beliau mendampingi belajar membaca Al-Quran. QS. Al-Fatihah pertama kali diajarkan. Sang Guru mengulangnya berkali-kali. Hampir ada rasa putus asa kala itu. Namun kesabaranmu guru menghilangkan putus asa itu. Saya tidak tahu mengapa mesti Al-Fatihah yang diajarkan pertama kali. Ketika beranjak dewasa saya baru menyadari, ternyata engkau mengajarkannya karena utamanya Al-Fatihah sebagai rukun salat.

Itu hampir tiga tahun lebih. Setiap subuh engkau ikhlas hati membangunkanku. Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang tanpa terbatas waktu. Tidak ada penilaian di atas kertas. Yang ada hanyalah penilaian rasa yang tidak pernah hilang. Inilah nilai pendidikan keagamaan masa lalu. Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe( tidak ada pamrih, banyak berkarya dan bekerja). Makna yang hampir hilang karena tergerus globalisasi. Keikhlasan itu saya rindukan bersamamu guruku.

Engkau telah kembali menghadap Ilahi. Tugasmu selesai dengan kebaikan. Saya yakin rahman dan rahim-Nya menaungimu. Tersisa cerita untuk anak, cucu betapa besar perjuanganmu. Satu pelajaran mengenal huruf hijaiyah pahala telah Ia janjikan. Guru, engkau tidak kurang. Pulangmu adalah kehidupan baru menunggu penghitungan. Semoga engkau tenang, dan diterangkan dalam kubur.

Jasamu tidak ternilai guru ngaji. Tidak ada gaji berbentuk materi. Harapan hanya pada balas dari rabbul alamin. Andai pun dihitung dengan harta, terlalu banyak masih jasamu. Janji-Nya untuk yang beriman dan beramal saleh adalah pahala tidak berkesudahan. Pengajaran dan pendidikan yang telah engkau sematkan bernilai itu. Pahlawan tanpa tanda jasa yang sebenarnya.

Patah tumbuh hilang berganti. Ilmu yang engkau ajarkan tidak akan hilang. Para muridmu akan menjadi penerus. Setiap waktu akan ada masa berakhir jatah untuk manusia di dunia. Engkau telah melewatinya dengan sempurna. Akhir dalam kebaikan adalah dambaan setiap insan. Itu sudah engkau dapatkan. Batas waktu tidak yang tahu. Semuanya sedang menunggu habisnya sang waktu. Namun beberapa tidak menyadari semua akan dipertanggungjawabkan. Sugeng tindak guruku.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 04/11/2020 (Takziyah)

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *