Aku menyukai kartun itu. Pesannya sangat masuk akal.” Kata Muhammad Ali, petinju bekulit hitam yang memilki nama asli Cassius Marsellus Clay.

Waktu itu Ali melihat sebuah koran memasang gambar kartun seorang kulit putih yang sedang memukul budak kulit hitam miliknya dan memaksanya beribadah seperti yang dijalaninya.

Laki-Laki kelahiran Louisville, Kentucky, Amerika Serikat 17 Januari 1942 itu sebelumnya adalah seorang pemeluk agama Kristen. Ali merasa bermasalah dengan agamanya. Namun bukan ajaran yang ia permasalahkan. Melainkan, yang mengusik pikirannya adalah proses yang membawanya menjadi pemeluk Kristen yang ditempuh dengan pemaksaan.

Sementara itu, di Amerika Pada tahun 1964, sedang gencar aksi-aksi anti rasial dari kalangan kulit hitam, dan kelompok muslim berada diantaranya. Dalam kondisi itu, Ali yang memang juga sering mendapatkan perlakuan tidak baik dari kalangan kulit putih bergabung dengan gerakan tersebut. Hingga suatu hari ia tertarik dengan militanisme orang-orang Islam dalam memperjuangkan hak azasi manusia.

Ketertarikan petinju 56 kali menang itu pada kepribadian orang-orang muslim membawanya pada suatu keyakinan bahwa Islamlah agama yang benar-benar sesuai dengan fitrah manusia. Ajarannya berisi prinsip-prinsip keadilan yang waktu ia tidak dapatkan dari agama dan negaranya.

Aku percaya kepada Allah dan perdamaian. Aku mencoba untuk tidak pindah ke lingkungan kulit putih. Aku tidak ingin menikahi perempuan kulit putih. Aku  dibaptis ketika usia 12, tetapi aku tak tahu apa yang kulakukan kala itu. Sekarang aku bukan seorang Kristiani lagi. Aku tahu akan ke mana dan aku sudah tahu apa yang benar. Aku tak perlu mengikuti kemauan Anda. Aku bebas menjalani pilihanku.” Tegas Ali

Pernyataan mencengangkan itu ia sampaikan untuk mengumumkan keislamannya bersamaan dengan jadwal pertandingan perebutan gelar juara dunia kelas berat melawan Sonny Liston pada 25 Februari 1964 di Miami, Amerika Serikat. Waktu itu Ali mampu mengambil sabuk juara dunia dari Liston. Saat itu usia Ali terpaut 10 tahun lebih muda dari Liston.

28 April 1967 Ali telibat dalam protes penolakan mengikuti wajib militer yang diwajibkan negaranya Amerika Serikat. Kepentingan jumlah personil Amerika untuk menyerang Vietnam yang membuat Ali menolak perintah negeri Paman Sam itu.

Aku tidak punya masalah dengan Vietcong.” Kata Ali. “Mereka tidak pernah memanggilku negro, mereka tidak pernah menggantungku, mereka tidak mengejarku dengan anjing, mereka tidak merampok kebangsaanku, tidak memerkosa ibuku dan membunuh ayahku. Lalu menembak mereka untuk apa? Bagaimana aku bisa menembak mereka, orang-orang malang itu. Silakan bawa saya ke penjara!” Tantangnya.

Ia juga menegaskan bahwa “Aku tidak ingin menjadi aib bagi agama saya, orang-orang di sekitar aku, atau aku sendiri, dengan menjadi alat untuk melawan mereka yang berjuang untuk keadilan, kebebasan, dan kesetaraan yang menjadi haknya.”

Demikianlah Islam sudah menjadi pribadi Muhammad Ali hingga apapun yang ia lakukan selalu ditakar dengan agama dan nuraninya.

“The Greatest”, “The Black Superman”, dan berbagai julukan lainnya ia terima sebagai penghargaan dunia pada prestasi tinju dan kepeduliannya terhadap kemanusiaan. Setiap pukulan mematikannya seolah-olah adalah pukulan tehadap penjajahan, diskriminasi, dan per

Muhammad Ali meninggal pada 3 Mei 2016 di usia 74 tahun setelah berjuang melawan penyakit guncangan septik yang dideritanya.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Alfurqon Ciater

Sawala Space Sumedang, 5 November 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *