Oleh: Moh. Anis Romzi

Tulisan ini mengulang sebuah proses saya menulis buku Solo pertama. Bukunya sudah terbit tapi prosesnya belum. Ini seperti behind the scene sebuah film. Saya memastikan bahwa proses di belakang film jauh lebih panjang dan lama. Apakah ini menarik? Jawabannya bervariasi. Itu bergantung kepada penonton untuk film. Sedangkan untuk sebuah buku pembaca yang berhak menjadi hakimnya.

Saat itu saya merasa tidak modal untuk menulis sebuah buku. Apalagi ilmu kepenulisan. Saya hanya punya satu modal dalam diri yaitu tekad. Sedangkan modal dari luar adalah 26 abjad dalam Bahasa Indonesia. Kedua modal inilah yang mendorong diri saya untuk nekat menulis sebuah buku. Saya memaksa diri satu buku harus terbit. Entah itu baik ataupun buruk. Belakangan saya mendengar kepuasan menulis dan menghasilkan sebuah buku itu disebut Katarsis. Ilmu yang saya dapat dari Pak Cah guru saya menulis di Kelas Menulis Online (Alineaku).

Setiap hari saya mencatat kegiatan harian pekerjaan saya. Sudah hampir lima buah buku agenda dan buku tulis penuh dengan catatan. Sering saya kumpulkan di atas meja kerja begitu saja. Untuk apa? Pikirku. Saya mencoba merenung untuk apa catatan ini dibuat. Berbuku-buku, setiap hari kegiatan menulis saya lakukan. Jika saya membacanya sendiri bisa jadi saya besar kepala, keras lagi. Saya memutuskan untuk menjadikannya sebuah buku. Angan-angan yang jarang ada dipikiran orang-orang di sekitar saya.

Salah seorang rekan kerja telah selesai menerbitkan buku. Ada rasa iri sebenarnya. Mudah-mudahan ini iri yang baik. Semangat saya semakin membara. Saya menargetkan pada bulan Mei 2018 akan selesai. Ternyata belum. Saya mungkin terlalu percaya diri. Saya berpikir buah tulisan saya dalam bentuk buku akan saya bedah tanggal 2. Ternyata belum selesai. Akhirnya naskah buku saya anggap selesai pada bulan Juli.

Saya mulai mencari-cari jurnal harian yang terkumpul begitu saja di atas meja kerja. Ada yang tercecer kesana kemari. Saya mencoba mensarikan durasi perjalanan pekerjaan saya selama 4 tahun pertama. Saya tidak cukup percaya diri pada waktu itu. Ini karena tidak latar belakang kepenulisan sama sekali. Kecuali saya pernah menulis skripsi yang saya tulis sendiri. Walaupun memakan duo korban komputer PC dan satu laptop hibah saudara jauh. Kembali hanya modal nekat saja untuk menulis. Ternyata bonek itu tidak hanya untuk menonton sepak bola. Dalam menulis pun perlu modal tekad yang besar.

Ternyata hampir empat tahun sudah aku bekerja sebagai Kepala Sekolah. Tugas tambahan yang diamanatkan kepada saya. Saya melihat dari catatan terakhir. Ya waktu itu awal tahun 2018. Saya mulai nekat menulis. Saya merangkai kejadian-kejadian sejak diberi amanah memimpin SMPN 4 Katingan Kuala.

Saya merasa tidak memiliki bakat pada mulanya. Namun saya terus memaksa untuk menyelesaikannya.Saya berniat bahwa buku yang saya tulis nantinya akan menjadi prasasti. Ia akan menjadi saksi sebuah perjalanan sekolah dari titik nol.

Saya tidak berpikir untuk mendapatkan imbalan materi waktu itu. Satu yang terpenting sebuah buku harus lahir. Ini akan saya jadikan sarana publikasi sekolah. Berikut orang-orang yang ada di dalam SMPN 4 Katingan Kuala.Saya tidak peduli apapun hasilnya. Saya yakin ini akan menjadi sebuah karya.

Nekat dapat menjadi modal penting untuk menulis. Tanpa ada ini rasanya tidak akan pernah berhasil menulis sebuah buku. Alhamdulillah dengan pertolongan Allah sebuah buku Solo lahir di tahun 2018.

Menjadi Penul is nekat itu perlu.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 03/11/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *