Aku tahu kamu semua meninggalkan tanah air kerana terpaksa dan kelaparan.” Kata Mahan, salah satu pasukan elit Romawi yang angkuh meremehkan Pasukan Khalid bin Walid dalam perang Yarmuk di Perbatasan Syiria pada tahun ke-13 Hijriyah.

 “Jika kalian setuju, aku akan berikan setiap seorang tentera 10 dinar beserta dengan pakaian dan makanan dengan syarat mereka berangkat pulang dan tahun depan jumlah yang serupa akan diantar ke Madinah.” Tantangnya.

Dengan segala ketenangan Sang Pedang Allah itu menjawab, “Kami tidak akan keluar dari negeri kami hanya karena kelaparan seperti yang engkau katakan. Tetapi, kami adalah satu kaum yang suka minum darah dan kami tahu tidak ada darah yang lebih lezat dan nikmat seperti darah orang Romawi karena itulah kami kemari.”

Sebelum perang tejadi kedua belah pihak melakukan tanding pasukan satu lawan satu. Khalid bin Walid pun maju terlebih dahulu. Georgius Theodorus yang saat itu menjadi panglima pasukan langsung menerima tantangan duel Khalid bin walid.

Duel terjadi dengan sangat sengit. Kedua orang ini terlibat dalam duel yang berkelas. Gregorius menyerang Khalid dengan tombak baja. Pedang Allah itu pun bisa menghindar. Sejurus kemudian Khalid membalas. Sabetan pedangnya mampu mematahkan tombak Gregorius, hingga ia menggeleng-gelengkan kepala tanda takjub pada sang lawan.

Atas ketakjuban itu Gregorius memberi isyarat untuk menghentikan duel. Kedua panglima besar itu saling mendekat hingga kepala kuda mereka bersentuhan. Mereka terlibat perbincangan yang sangat luhur. 

Wahai Khalid, hendaklah kamu berkata benar karena setiap orang yang merdeka tidak akan berbohong. Apakah benar bahwa Tuhanmu telah menurunkan kepada Nabimu sebilah pedang dari langit lalu diberikan kepadamu dan kalau dihayunkan kepada seseorang pasti dia akan kalah?” Tanya Gregorius

Tidak.” Kata Khalid.

Mengapa kamu disebut Pedang Allah?” Tanya Gregorius.

Khalid pun menjelaskan bahwa dahulu ia pun tidak mempercayai Islam. Lantas, datanglah hidayah kepadanya hingga Khalid memeluk Islam. Karena kepandainya dalam berperang baik sebelum dan sesudah Islam, Rasulullah menyebut Khalid sebagai sebilah pedang dari pedang Allah.

Apa yang kau dakwahkan kepada manusia?,” Gregorius semakin penasaran. “Agar umat manusia bertauhid kepada Allah dan menerima ajaran Islam.” Khalid menjawab,  

Kemudian George melanjutkan pertanyaannya kepada Khalid. “Bagaimanakah kedudukan seseorang yang menerima Islam pada pilihan pertama pada hari ini?

Kedudukan dan derajat bagi kami hanya satu di antara dua, yaitu apa yang ditetapkan Allah. Mulia atau hina. Tak peduli apakah ia menerima Islam lebih dulu atau belakangan!” Tegas Khalid bin Walid.

“Jadi, orang yang menerima Islam pada hari ini, ya Khalid, apakah sama kedudukannya dengan yang lain dalam segala hal?”  Sambung Gregorius.

Ya, Engkau benar!”  Jawab Khalid lugas.

“Mengapa bisa sama, ya Khalid? Padahal, Anda sudah lebih dulu Islam dari padanya?”

Kami memeluk Islam dan mengikat baiat dengan Rasul Muhammad SAW. Ia hidup bersama kami dan kami menyaksikan mukjizatnya hingga beliau wafat. Sedangkan, orang yang menerima Islam pada hari ini, tidak pernah berjumpa dengan beliau dan tidak pernah menyaksikan semua itu. Jika orang itu menerima Islam dan menerima kerasulan Muhammad dan pembenarannya itu jujur serta ikhlas maka sesungguhnya ia jauh lebih mulia dari pada kami!” Kata Khalid.

Mendengar ketegasan dan ketenangan Khalid, Sang Panglima itu bekata,“Ya Khalid, keterangan Anda sangat benar! Anda tidak menipu, tidak berlebih-lebihan dan tidak membujuk. Karena itu Demi Allah, saya menerima Islam sebagai pilihan pertama!”

Georgius Theodorus pun mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Khalid bin Walid. Dia shalat dua rakaat dengan pengajaran. Sang Panglima kemudian bergabung bersama Pasukan Muslim dan melanjutkan perang lalu gugur sebagai syuhada muslim.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Alfurqon Ciater

Baiti Jannati, 4 November 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *