Oleh: Triznie Kurniawan

Tubuhku bergoyang ke kanan kemudian ke kiri. Perut rasanya sudah seperti di aduk-aduk tak terperi. Riuh suara mesin kendaraan yang aku naiki ini semakin membuat mata berkunang. Dengan menahan tangis, dari bangku paling belakang sebuah angkutan Kota dalam provinsi ini, aku terus mengalihkan perhatian. Aku buka slide kumpulan puisi Eyang Sapardi, aku buka lagi kumpulan cerpen Dee Lestari. Tetap saja perih ini terasa menggores-gores pertahanan dinding lambung yang semakin membatu. Belum lagi teriakan para pedagang yang berebut tempat untuk diangkat juga ke kota sebelah. Bau anyir ikan, daging, sedikit Bau bawang, dikombinasikan bau harum mangga yang semakin mengiris Luka di lambung kiri.

Alunan musik koplo yang sedari tadi terngiang ini membuat aku tersadar. Ya, aku sadar bahwa kini aku berada sedang menikmati perjalanan rutin ke Kota Santri. Ah, Kota Santri, tepatnya Kota kecil dengan sejuta kenangan kami. Musim hujan kali ini semakin banyak genangan yang berbanding lurus dengan kenangan. Asyik …. tarik sis. Haduh, sungguh perut Ini seolah dikocok dengan kecepatan penuh. Isinya hampir saja meluap. Untung saja sekelebat aku melihat genangan eh bukan, kenangan. Bayangan pria gagah nan memesona terlihat sedang menungguku di sana. Aku tersenyum sendiri membayangkan ingin segera menggenggam tangannya erat.

Menara sebuah masjid terkenal di Pasar Tanah Merah, yang biasanya tak pernah sepi, sudah tampak dari balik kaca jendela mini. Artinya perjalanan Ini sudah lebih dari setengahnya. Sudah tak bisa lagi kutahan, aku sudah tak kuasa menahan rindu. Rindu untuk menemuinya, untuk mengulang lagi kisah kami yang pernah tak terselesaikan. Sudah tak lagi kupikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Meski perih Ini terlanjur menggerogoti rasa bahagiaku, aku tetap lah aku dengan segala kenekatan aku berjalan kaki. Baru beberapa langkah aku menapaki genangan di Jalanan, tiba-tiba sepeda motor gagah lengkap dengan pangeran berhenti. Tanpa basa-basi aku segera naik dan mencium tangannya erat-erat yang kemudian melaju bak main game dalam PS3. Suara tak asing mengagetkanku hampir membuatku tersedak, “Wes wareg ndoro?” kata pangeran di seberang meja yang dari tadi mengobservasi caraku makan sepiring rujak Soto khas Bangkalan dan segelas es cincau. Ternyata aku kelaparan.

Terimakasih ayah🙏❤️ pangeran yang tak pernah membiarkanku kelaparan🤭

Pentigraf

Bangkalan, 2 November 2020

Artikel ini sebelumnya pernah terbit di https://trizniekurniawan.wordpress.com/2020/11/02/genangan-dan-kenangan/

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *