22 Juni 1945 bertempat di rumah Presiden Soekarno, sebuah sejarah besar terjadi bagi bangsa Indonesia. Piagam Jakarta selesai dirumuskan dan disetujui oleh BPUPKI.

Lembaga yang oleh Jepang dinamai Dokuritsu Junbi Cosakai ini terdiri dari tokoh-tokoh besar pendiri bangsa yaitu Ir. Soekarno (ketua), Drs. Mohammad Hatta (wakil ketua), Mr. Achmad Soebardjo (anggota), Mr. Muhammad Yamin (anggota), KH. Wachid Hasyim (anggota), Abdul Kahar Muzakir (anggota), Abikoesno Tjokrosoejoso (anggota), H. Agus Salim (anggota), dan Mr. A.A. Maramis (anggota).

Kesemua tokoh berasal dari berbegai ideologi dan kelompok yang berbeda-beda. Tetapi atas nama Indonesia, atas nama tujuan merdeka mereka semua duduk bersama dan bermufakat dalam sebuah kesepakatan. Menyingkirkan dahulu segala perbedaan-perbedaan kecil dan mengedepankan kolaborasi. Kolaborasi maha dahsyat itulah yang menghasilkan sebuah konsensus kebangsan bernama Piagam Jakarta.

Hari ini 1 November 2020 saya diberi amanah untuk memberikan workshop model-model pembelajaran kepada guru-guru yang berada di bawah yayasan Ponpes A;-Islamiyah Cijawura Bandung. Ada 23 model,metode, dan strategi pembelajaran yang saya deliverikan kepada 25 guru yang menjadi peserta workshop ini.

Berangkat dari meneladani para pahlawan yang berhasil memerdekakan Indonesia, model-model pembelajaran yang diberikan adalah model-model pembelajaran yang berbasis pada Colaborative Learning atau pembelajaran kolaboratif.

Kolaborasi sendiri merupakan proses partisipasi beberapa orang, kelompok, dan organisasi yang bekerja sama untuk mencapai hasil yang ingin dicapai.

Visi bersama diselesaikan untuk mencapai hasil positif bagi khalayak yang mereka layani, dan membangun sistem yang saling terkait untuk mengatasi masalah dan memanfaatkan peluang sebaik mungkin.

Kolaborasi juga melibatkan berbagi sumber daya dan tanggung jawab untuk secara bersama merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program-program untuk mencapai tujuan bersama.

Setiap individu yang terlibat dalam kolaborasi harus bersedia untuk berbagi visi, misi, kekuatan, sumber daya dan tujuan.

Bolekah saya berharap, bahwa dengan pembiasaan pembelajaran yang kolaboratif selain mengefektifkan pembelajaran itu sendiri, juga membangun mental peserta didik agar tumbuh kembang dengan kebiasaan tolong menolong, menyadari kelemahan, menghargai kelebihan orang lain, mau belajar, dan terbiasa bekerja sama dalam menyiapkan segala persoalan.

Salah satu masalah bangsa yang hari ini dihadapi adalah ancaman disintegrasi bangsa. Bangsa ini mulai terkotak-kotak seiring dengan mental individualis-materalis yang semakin membudaya. Guru yang paling depan bertanggung jawab atas persoalan ini, wajib memiliki kecakapan dalam mengkondisikan pembelajaran agar selalu tercipta pembiasaan-pembiasaan kolaborasi.

Jika kolaborasi mulai tumbuh pada generasi muda, maka tidak mustahil kemerekaan-kemerdekaan lanjutan sebagaimana yang dicapai oleh para pendahulu bangsa juga bisa kita hadirkan.

Maka lahirlah bangsa Indonesia yang integratif, dan produktif. Dari itu beranilah Indonesia bersaing di kancah dunia sebagai bangsa yang kuat. Karena kolaborasi kita menjadi bangsa yang kuat dan kokoh.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Ciater

Bandung – Sumedang, 1 November 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *