MaryatiArifudin, 1 Oktober 2020

Saling toleransi terhadap sikap pasangan tuk menumbuhkan ta’aruf sampai tua. Sungguh! Suatu pernikahan adalah proses ta’aruf guna menumbuhkan kepercayaaan diantara pasangan tercinta. Agar, tumbuh ketaatan dalam keluarga guna membangun mahligai rumah tangga.

Satu kata seiya dan sekata dalam diskusi keluarga, itu komunikasi nyata. Keputusan sepasang suami istri itu yang terbaik. Tidak usah mendengarkan komentar kanan-kiri yang membuat ragu tuk melangkah. Cita-cita mulia harus dijalani bersama.

Kokohkan keputusan itu, agar penyesalan bisa berlalu. Sungguh! Keputusan apapun yang kita ambil tidak mampu menyenangkan semua orang. Buang fokus memikirkan pendapat orang. Karena Anda tidak akan bisa menyenangkan semua orang.

Setiap jiwa yang dipersatukan oleh ikrar suci, sangat memerlukan kata kunci yaitu ta’aruf. Ta’aruf bisa berarti saling mengenal jati diri setiap pasangannya. Selama masa membangun kesucian rumah tangga diperlukan proses ta’aruf selamanya.

Proses ta’aruf bukan hanya berlaku pada pasangan muda saja. Justru, saat pasangan makin menua maka proses taaruf diperkuat. Usia pasangan muda walau rasa pahit menyesak dada pasti terasakan manis adanya. Maklum baru proses penyesuaian berumah yang ada tangganya. Perlu persiapan ekstra tuk menaikinya atau menggapai bahagia dunia dan akheratnya.

Setelah usia pernikahan makin menua, pasti ada bendungan yang terlepas satu-satu. Ada tangis air mata yang berdarai, walau hanya dipipi saja. Orang lain tak akan mampu membaca, tetap tersenyumlah wahai pasangan muda.

Sampaikan tangismu, pada kekasihmu itulah proses ta’aruf yang sesungguhnya. Jangan dipendam tangisan itu! Cukup pasanganmulah yang menepis tangis itu dan menghiburmu. Hal itulah, sepenggal proses taaruf tuk saling mengenal dan memahami arti sebuah pernikahan.

Pasti semua orang mengalami liku-liku kehidupan yang menggoda. Tundukkan godaan itu, sesuai jalan-Nya. Berhenti tuk mencari jalan lain! Cara penyejuk hati anda dengan membaca Al Quran yang mulia. Jangan tinggalkan Al Qur’an, selama hidup anda. Sungguh! Al Qur’an sebagai ramuan obat penentram jiwa. Buktikanlah jalan itu, pasti diri kita akan merasakan getaran hati penyejuk jiwa raga. Dengan menjalani ajaran mulia ini, hidup kita  tak mengenal putus asa.

Dan Kami turunkan dari al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (QS Al-Isra: 82).

Buatlah manis disetiap ujung harimu bersama pasanganmu. Tuk membicakan program-program kebaikan yang jitu. Buatlah, orang lain yang memandangmu terasa iri. Seolah biduk rumah tanggamu tak ada koyak sedikitpun. Sungguh! Pasti ada pintu rumah tangga yang koyak. Cukuplah,  peluang celah rumah tangga anda tumbuh satu celah saja. Cukup satu celah  cemburu tanda cinta tuk penguat ikrar suci.

Mana ada pintu yang tak bercelah, pasti semua itu ada celah walau sedikit. Anggaplah, celah itulah pengganti udara segar tuk makin menguatkan ikatan yang telah melewah.  Penyedap rasa kehidupan pasti ada, yang terpenting tidak usah mengoyakkan hatimu dan hatinya. Kokohkan hati tuk menjalani hidup guna membangun ta’aruf sampai tua.

Kita mengenal ayah dan ibu kita, hampir 25 tahun kita mulai berlepas diri darinya. Belajar mandiri ingin mentauladinya, agar ikatan tak bercerai-berai. Coba bayangkan, orangtua kita mampu bertahan sampai 25 tahun atau lebih. Tentu itu proses ta’aruf mampu bertahan lama.  Makin kuat dan mengikat hatinya tuk bersatu dalam ikatan cinta-Nya. Tanpa ikatan yang kuat satu sama lain, pasti mahligai itu telah terurai.

Siapa yang menguatkan ikrar suci itu, tentunya dengan kekuatan iman. Bahwa kita berjumpa dan berpisah karena-Nya. Kita semua ingin, mengsakralkannya tuk menggapai jalan mendapatkan naungan-Nya. Ada tujuh golongan yang mendapat nauangan-Nya, dimana tidak ada naungan selaian dari Yang Maha Kuasa. Dua kata kunci itu membicarakan hubungan perikahan yang suci.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua orang yang saling mencintai di jalan Alloh. Keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya”. Dan seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik. Ia berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allloh”.

Ikatan fitrah suci mengikat tuk menunaikan separoh diennya. Agar termasuk barisan umat Baginda SAW. Sungguh! Cita-cita mulia pasangan suami istri menyakini membangun ta’aruf  sampai tua mampu menyelesaiakan permasalahan yang ada. Mereka yakin proses ta’aruf dengan menundukkan permasalahan sesuai aturan-Nya akan terwujud toleransi berumah tangga. Sungguh! ajaran mulia selalu memberi solusi dalam kehidupan nyata.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *