Rasa kehilangan pasti selalu terjadi pada disetiap insan. Apa yang kita cintai, baik berupa kekasih ataupun yang lainnya pasti suatu saat akan berpisah dengannya. Tidak bisa dihindari, bahwa sesuatu yang ada pasti menjadi tiada sesuai kodrat dan irodat-Nya.

Berjagalah sesuatu yang masih ada, berjuang sepenuh hati tuk merawatnya. Agar, kenangan indah akan selalu membayang dipelupuk mata. Jangan sampai ada penyesalan setelah dia. Penyesalan itu, tiada guna. Oleh karena itu, berbuat baiklah terhadap sesama apalagi bersama sang kekasih tercinta.

Jika telah tiada pasti kenangan manis selalu menggoda dan muncul di depan mata. Setelah tiada, baru terkenang semuanya. Tidak selamanya kenangan manis, pasti juga ada kenangan lainnya sebagai penyedap rasa. Maklumlah, kita ini bukan ikatan para malaikat namun hanya ikatan manusia.

Wajar masih banyak salah dan dosa, apalagi bersama pasangan hidup tercinta. Perbaikilah hubungan kebersaman dalam keluarga, sebelum salah satu atau dua meninggalkan kita. Bungun komunikasi terbuka, agar mahligai mampu berjalan seiya dan sekata.

Satu sama lain hendaknya, saling dukung tuk menetapkan skala prioritas utama menuju kebaikan bersama. Saling toleransi terhadap sikap pasangan tuk menumbuhkan ta’aruf sampai tua. Sungguh! Suatu pernikahan adalah proses ta’aruf guna menumbuhkan kepercayaaan diantara pasangan tercinta. Agar, tumbuh ketaatan dalam keluarga guna membangun mahligai rumah tangga.

Rasulullah SAW pun melarang Muadz. “Jangan engkau lakukan hal itu. Karena sungguh andai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.

Tumbuhkan rasa sayang dan saling membantu dalam menjalani semua urusan rumah tangga. Masing-masing menjalankan fungsinya, sesuai kemampuan pasangannya. Namun, tidak boleh terlalu kaku memisahkan tugas-tugas diantara pasangan anda. Kekuatan saling membantu dibangun tuk menyelesaikan tugas-tugas rutin yang tertera kasat mata.

Persatukan antara logika dan perasaan, tuk menyelesaikan secara bersama akan tugas mulia rumah tangga. Syukur-syukur mampu terselesaikan tugas-tugas itu walau tanpa bantuan siapa saja. Hal itu, inti ladang amal berumah tangga. Jika, tak mampu menyelesaikan tugas sendiri tak ada salahnya minta bantuan pada pasangan anda. Komunikasi dua arah terbangun akan menjadi pengawet ikatan ikrar dalam membangun ketaatan pada pasangannya.

Bangun kepercayaan dan komunikasi, agar semuanya paham akan tugas dan tanggung jawab bersama. Para suami berpikir dengan logika, sang istri berpikir dengan perasaannya gunakan itu sebagai senjata menguatkan ikrar sucinya. Tumbuhkan kasih sayang dalam keluarga dengan aksi nyata. Hilangkan, segala prasangka bangun komunikasi nyata agar permasalahan bisa dicerna. Buang ego bersama, tuk mencari solusi bersama agar tercapai tujuan mulia.

Ku terlihat akan senyumnya yang menggoda. Jika bercanda, tawanya hanya dikulum saja. Hal itulah, bayangan yang menggoda selalu mengikuti dimana ku berada. Maka, rawatlah selagi engkau masih punya waktu merawat dan membersamainya. Agar, hidup kita tidak sia-sia karena itulah cara mendapat surganya.

Berhati-hatilah wahai para wanita. Hari ini, ku dengar tauziah singkat mengingatkan para kaum hawa tuk selalu mengabdi pada sang suami tercinta. Tugas utama, sang istri adalah taat pada suaminya.

Ingatlah, kebayakan penghuni neraka  adalah wanita. Kenapa wanita? Karena kebanyakan wanita berpikir tidak dengan logika namun yang dominan menggunakan perasaannya. Dan kebanyakan wanita, sering kufur terhadap kebaikan suaminya. Berhati-hatilah, perilaku yang tidak terpuji ini hindarilah agar hidup kita tak sia-sia.

Tidak pernah aku melihat pemandangan seperti itu sebelumnya. Aku melihat kebanyakan penduduk neraka adalah kaum wanita.” Sahabat bertanya, ”Mengapa (demikian) wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, ”Karena kekufuran mereka”.

Apakah mereka kufur terhadap Allah?” Beliau menjawab: “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka. Selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak ia sukai). Niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas r.a).

Peringatan yang sangat keras, saat membicarakan aib para suaminya. Tugas istri terus selalu syukur dan sabar akan pemberian suami sesuai dengan kemampuannya. Sadarlah! Wahai para kaum hawa akan peringat penting ini agar kita berhati-hati dan tak terlela dalam rutinitas harian yang melenakan.

Bagaimana membangun mahligai agar kokoh di hantam badai, maka perlu sandaran berpijak. Kembali pada role aturan yang benar. Dua pribadi yang berbeda diperikat menjadi satu ikatan tuk saling melengkapi.

Pasti ada kelebihan dan kekurangan, dengan ikatan pernikahan terjalin karena cinta-Nya. Masing-masing saling mengisi karena misi hidupnya tuk menyempurnakan perintah-Nya. Nikahnya adalah menjalankan ajaran-Nya sesuai fitrahnya. Pernikahan yang harus diperjuangkan seumur hidupnya kecuali jelas melanggar aturan-Nya. Selesaikanlah, secara ma’ruf dan bijaksana segala urusanmu agar semua kenangan itu mampu menyejukkan mata  jika ia telah tiada.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *