“Jika terjadi hari kiamat Kata Rasul dalam riwayat Bukhari dan Ahmad. “Sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” Lanjutnya

Apa manfaatnya menanam, padahal sebentar lagi kiamat. Bumi akan hancur begitu juga dengan pohom-pohn besar apalagi hanya sekadar tunas yang kita tanam. Tetapi begitulah perintah baginda Rasul. Ialah sosok yang amat sangat mencintai tanaman dan pepohonan. Tak ada urusan dengan kapan kiamat terjadi. Ia layak untuk hidup, tanamlah.

Ketika pasukan Islam hendak berangkat perang ke Syam, berwasiatlah Abu Bakar kepada mereka, “Jangan membuat kerusakan di muka bumi…

Selanjutnya Sang Khalifah berpesan,“Jangan sekali-kali menebang pohon kurma, jangan pula membakarnya, jangan membunuh hewan-hewan ternak, jangan tebang pohon yang berbuah, janganlah kalian merobohkan bangunan,…” Demikian Al-Baihaqi meriwayatkan.

Jelaslah menanam dan merawat tanaman adalah sunah Rasulullah. juga dainy akan mengalir pahala jariyah. sepanjang pohon itu memberi manfaat, menghasilkan buah, memberi keteduhan, menguatkan tanah, memperindah muka bumi maka selama itu pula pahala mengalir pada si penanam meskipun ia sudah mati.

Hari ini, 31 Oktober 2020 masih dalam rangkaian kegiatan sumpah pemuda sejak 28 oktober 2020 yang lalu. saya diundang oleh sekelompok anak muda yang penuh semangat, mereka adalah Generasi Muda Warung Asem (Gemsem). Keiatan memperingati Sumpah Pemuda ini diiisi dengan kegiatan-kegiatan positif.

Sebanyak 500 bibit pohon ditanamkan di tanah desa yang berada di Bukit Pangangonan Legok Nangka Desa Tanjungmekar Kecamatan Tanjungkerta Sumedang.

Kegiatan ini dilakukan diawali dengan berjalan kaki dari pemukiman hingga ke bukit sekitar 5 KM.

Sampai dilokasi pemuda-pemudi ini melakukan seremoni pembukaan dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Pembacaan Sumpah Pemuda dan Pembacaan ayat suci Al-Qur’an sekaligus doa.

Penanaman pohon dilakukan secara serentak. Selanjutnya melengkapi kegiatan ini di tempat yang sama digelar diskusi literasi, dimana saya diminta menjadi pemantik diskusi. Sambil menunggu nasi liwet matang, diskusi cukup hangat dengan berbagai kepolosan dan keantusiasan.

Kang Asep Dedi selaku penggerak Pemuda mengungkapkan bahwa pemuda-pemudi sangat antusias dalam kegiatan ini. “Kami berharap ini menjadi pengikat silaturahim anak-anak, dihimpun, dibina dan diberi kesempatan seluas-luasnya dalam mengekspresikan Keindonesiaan mereka dengan aksi nyata yaitu produktif di Desa sendiri.”

Selain itu tokoh muda senior lainnya yang juga turut serta hadir dalam kegiatan ini Kang Ipid Abdul Hafid menyatakan bahwa, “Anak-anak itu aktif, hanya saja keaktifan mereka perlu diarahkan dan diwadahi agar bernilai produktif serta menjauhkan mereka dari lingkungan yang membahayakan secara aqidah dan kebangsaan

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Ciater

Bukit Pangangonan Leok Nangka, 31 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *