Ketika dihadapkan pada masalah acap kali kita menghindar atau mundur. Saat itu terjadi tidaklah menyelesaikan masalah. Diperlukan kemampuan memecahkan masalah dituntut dimiliki oleh siapa pun. Itu jika berkeinginan maju. Dalam semua aspek pasti terdapat masalah.

Kemapanan belajar konvensional telah mendarah daging. Ini memerlukan keberanian untuk memulai perubahan. Keberanian yang tidak dimiliki banyak orang. Berubah itu menantang kenyamanan dan risiko. Ada dua pilihan untuk menantang kemapanan, lebih baik atau terperosok. Mereka yang berani menempuh jalan baru berpeluang memberikan pengaruh dalam jangka yang panjang. Ini karena ada semangat untuk memperbaiki diri terus-menerus. Inilah inti nilai yang wajib dimiliki seorang pemimpin.

Menyuarakan perubahan tidak sesederhana dalam ucapan. Pun begitu pula dalam tulisan. Ini berasal dari kebiasaan yang sebelumnya telah mengakar. Berubah itu keluar dari zona nyaman. Ia banyak mengandung risiko dalam pelaksanaannya. Namun apabila kita berhasil melakukannya akan menjadikan kebahagiaan yang luar biasa. Kebahagiaan dari sebuah proses yang penuh tantangan. Sebuah ilustrasi keluar dari zona nyaman seperti dalam buku Quantum Learning. Seorang yang sedang naik sepeda kemudian ia melepas setirnya. Ia tetap dapat berjalan seimbang. Betapa bahagianya bagi yang telah melalui risiko.

Merasa nyaman pada suatu kondisi masalah adalah masalah. Semua dianggap baik. Tidak yang sempurna pada sesuatu. Jangan pernah berhenti berpikir untuk berubah menjadi lebih baik. Ini adalah hakikat belajar. Untuk menjadi lebih baik salah sangat mungkin. Itu lebih baik daripada tidak mencoba. Hanya diperlukan keberanian untuk melakukan hal baru.

Kalau siswa tidak mau belajar berarti ya tidak termotivasi. Tantangan abad 21 mengharuskan peserta didik memiliki kompetensi kritis, kreatif, kolaboratif dan kompetitif. Ini memerlukan trobosan inovatif yang berkelanjutan. Semua wajib belajar jika tidak ingin menjadi penonton saja. Upaya peningkatan kualitas pembelajaran memerlukan kreatifitas, inovasi dari pendidik dan tenaga kependidikan. Dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang memiliki karakter tersebut diharapkan mampu menyiapkan lulusan yang kritis, kreatif, kolaboratif. Lulusan yang siap menghadapi perubahan zaman yang tidak menentu. Bila peserta didik tidak termotivasi dan bahagia di sekolah maka ada yang harus dievaluasi.

Ada titik balik yang mengharuskan pendidik untuk merefleksi. Bahwa ada perbedaan yang perlu dihargai. Keragaman itu niscaya. Penyeragaman pengajaran harus dievaluasi. Bahwa setiap pribadi adalah unik.

Saatnya pendidik menilik diri adakah cara yang kurang dalam mendidik. Kepala sekolah dan guru merupakan ujung tombak keberhasilan pembelajaran. Ini adalah tantangan yang harus dijawab. Jika tidak segera menyadari ini lembaga pendidikan akan mati suri. Bahkan bisa jadi sekolah yang didirikan pemerintah akan ditinggalkan penggunanya. Era baru pendidikan saat ini harus berorientasi kepada peserta didik. Potensi mereka harus diapresesiasi pada semua lini. Potensi para peserta didik harus dikembangkan sesuai keragaman, minat, dan kebutuhan belajarnya. Kepala Sekolah dan guru senantiasa aktif, kreatif, inovatif, dan inspiratif. Jika ini ada pada diri pendidik dan tenaga kependidikan perubahan menuju kualitas semakin dekat.

Perlu menanamkan harmoni bersama untuk mewujudkan peserta didik bahagia. Inilah yang disebut dengan students wellbeing. Ketika students wellbeing tercapai maka impian merdeka belajar tidak sebatas wacana. Para pendidik dan Kepala Sekolah harus bahu membahu mengembangkan profesionalitas. Mereka seyogianya segera menyadari perubahan zaman. Ada kolaborasi yang mesti dibangun untuk mempercepat pemenuhan kualitas lulusan hasil pendidikan. Kolaborasi kebaikan untuk pendidikan adalah keniscayaan. Tantangan pembelajaran sudah menunggu untuk dijawab. Para pendidik dan Kepala Sekolah, siapkah berubah?

Sampit, Kalteng. 30/10/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *