Ditulis: Cicik

Apa yang pertama kali terbayang di kepala  jika bencana alam terjadi pada era pandemi covid-19? Di zona merah pula.

“Parah…parah…parah…” komen si X sambil geleng-geleng kepala. Dia garuk-garuk kepalanya yang tertutup rapat kerudung ungu.

“Walah, mbak…aku gak berani turun. Ijin yak,” sahut si Y lesung pipit sebelah.

Sedangkan si Z, nampak termenung. Entah apa yang sedang berkecamuk di kepalanya. Keningnya berkerut, sepertinya si Z sedang mikir abot beneran. Harap dimaklumi, si Z adalah pemimpin gerombolan mahluk manis dalam gerak sosial.

Si A, B, C dan seterusnya, saling bertukar kata, mengungkapkan cetusan hati ketika sebuah bencana alam menyapa salah satu sudut negerinya.

Si Z nampak mengangkat gadget yang sedari tadi ada dalam genggamannya. Nampak dia menghubungi beberapa orang yang ada dalam linknya.

“Sist, bagaimana kondisi di lokasi? Seberapa parah?” tanyanya dengan mimik serius mendengarkan penjelasan suara di seberang, “berapa titik yang butuh bantuan?” lanjutnya.

Terlihat lincah jemari lentiknya menambil pulpen dan kertas untuk menuliskan apa saja info yang dia dapatkan.

Si A, B, C, sampai dengan si Y, dibiarkannya dengan obrolan dan aktivitas masing-masing. Sebagian kecil menyibukkan diri merapikan beberapa sudut ruang favorit mereka, pun sebagian yang lain ngobrol berkelompok.

“Ok, makasih Sist. Fii amanillah … jaga kesehatan baik-baik,” tutup pembicaraan dumay si Z dengan si “Sist.”

Si M yang mendengar kalimat penutup pembicaraan si Z menyenggol beberapa kawan di sebelahnya, sebagai isyarat meminta perhatian karena sang pimpinan sepertinya telah usai berkoordinasi.

Si M terbengong, ketika si Z kembali mengangkat gadgetnya dan menghubungi seseorang yang dia panggil “ukhti.”

Oalah…belum selesai dia. Si M kembali melanjutkan obrolan yang sedang seru-serunya. Obrolan terkait kabar bahwa ada satu keluarga pengungsi yang “positif” covid-19.

“Teman-teman, minta perhatian sebentar,” suara tegas si Z menghentikan aktifitas seluruh mahluk manis di ruang mungil nyaman sejuk itu.

Para mahluk manis berkerudung asimetris bergegas duduk melingkar, semua mata tertuju pada si Z.

Tarikan nafas berat terdengar, mengiringi tatap mata si Z yang menatap satu-satu mata teman-teman manisnya.

“Kita tetap bergerak. Bagi yang tidak mampu turun ke lokasi, maka ambil alih tugas di baris belakang. Dapur umum, galang donasi, dan penyiapan logistik untuk dibawa ke lokasi,” tegas wibawa suara si Z, “tunjukkan tangan yang siap di garda belakang!” perintah si Z berikutnya.

Si Z dengan cekatan membagi tugas.Dia tata demikian rapi, tak satu orang pun mahluk manis dalam kumpulannya yang merasa “terpaksa” bekerja bersama.

Wajah-wajah serius, sinar mata optimis dan kadang terselip senyuman manis menghiasi obrolan pagi hingga siang itu.

“Hari ini kita diuji Allah dengan dua musibah, banjir dan pandemi covid-19. Akankah kita diam? Pasti tidak!” kalimat khas si Z membakar jiwa yang hampir beku dalam pandemi covid-19.

Kumpulan mahluk manisnya sunggingkan senyum di bibir masing-masing dan sinar mata yang menyala membara.

Lanjut si Z, “Kita tunjukkan bahwa kita bukan mahluk yang lemah, namun kita juga harus tunjukkan bahwa kita bukan mahluk yang gegabah. Kita rapikan langkah kita. Kita kuatkan genggaman tangan kita. Hasbunallah wa ni’mal wakil. Allahu Akbar!”

Gaung kalimat takbir memenuhi ruang mungil nyaman itu, menggema keluar penuhi langit, singkirkan mega kelam, biaskan cahaya terang.

#Salimahpeduli

#banjirkroyanusawungu

#mujurlor

#cilacap

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *