Aku ingin mengunjungi para syuhada Uhud.” Kata Nabi dalam suatu perjalanan.

Assalamu alaikum wahai syuhada Uhud. Kalian telah lebih dahulu dan kami in syaa Allah akan pula menyusul, dan in syaa Allah aku akan bertemu kalian”. Demikian Nabi menyampaikan salam rindunya di tepi makam uhud.

Lalu Nabi melanjutkan perjalanan dan telihat oleh para sahabat beliau shallallahu alaihi wa sallam menangis tersedu-sedu. Mereka pun bertanya. “Mengapa engkau menangis?”

Aku merindukan saudara-saudaraku.” Kata Nabi.

Bukankah kami adalah saudara-saudaramu Ya Rasulullah.” Ujar Sahabat

Tidak, kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah orang yang datang setelahku. Tapi mereka beriman kepadaku meskipun tidak melihatku.” Pungkas Nabi.

Jika Nabi sangat mencintai kita. Mengapa kita tidak?

Jika Nabi sangat merindukan kita. Mengapa kita tidak?

Jika Nabi dihina apalagi dicaci maki? Ah……

Tidak sempurna keimanan setiap kalian sampai aku lebih kalian cintai daripada orang tua kalian, daripada anak kalian, dan daripada seluruh manusia.” Demikian Nabi bersabda.

Inilah Ghirah. Yang oleh Hamka dimaknai dengan kata “cemburu”. Siapapun yang menempuh jalan sebagai penghamba Allah, pasti mengalami fase tumbuhnya ghirah (rasa cemburu).

“Ada du macam Ghirah” Kata Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya “Madarijus Saalikin”,  “Ghairatul Haq Ta’ala ala ‘abdihi (kecemburuan Allah atas hamba-Nya) dan ghairatul abdi Lirabbihi (kecemburuan hamba karena Allah)

Adapun dalam “Ad-Da’u wad Dawa” Ia mengatakan, “Pokok agama adalah ghairah (cemburu). Siapa saja yang tidak memiliki rasa cemburu, maka nyaris tidak ada agama untuknya.”

Yah, cemburu ini hanya sebuah rasa.

Tidak berwujud, tidak material.

Tetapi,  bukankah rasa ini harus tetap sehat, tetap waras. Agar sehat semuanya, sehat tujuan, sehat gerakan, sehat ucapan dan sehat ideologi.

Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya”Demikian Rasulullah bersabda dalam riwayat imam Bukhari dan Muslim.

Ketika Rasulullah dihina oleh seorang manusia bernama Macron,  akankah kita cemburu sebagai saudara? ataukah akan keluar suara tak bermakna, “Biarlah, ini hanya sebuah kebebasan berkespresi. Jangan radikal!!!!!”

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Ciater

Saung Dablong, 30 Oktober 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *