Maryati Arifudin, 30 Oktober 2020

Bahagia cukup sederhana. Dapat diungkap lewat hati, perkataan, dan perbuatan. Banyak ragam seseorang mengekspresikan rasa bahagia.

Bentuk bahagia terlihat dari fisiknya dapat berupa senyuman yang tulus,  ataupun tertawa lepas, dan bisa tangisan haru. Bahkan bahagia dapat terungkap dari bahasa tubuh seseorang.

Bahagai itu bagaikan keimanan seseorang. Iman yang sempurna diyakini dengan sepenuh di hati. Tiada keraguan walau sebesar biji zarah. Hatinya akan mengakui kebenaran yang dibawa oleh Baginda SAW.

Terpancarlah iman dari hati tuk mengimaninya akan memunculkan  nilai bahagia. Nilai bahagia tuk menerima kebenaran syariat-Nya. Syariat yang berisi perintah dan larangan-Nya. Mereka, akan kuat mempertahankan imannya walaupun banyak godaan dan rintangan. Sungguh! Mereka inilah, yang berbahagia lewat hatinya.

Iman terpancar dilisannya. Keimanan yang tumbuh dihatinya wajib diikrarkan melalui lisannya dengan menyebut kalimat tauhid. Kalimat tauhid yang maha tinggi mengakui bahwa Alloh SWT yang wajib disembah dan Rasulullah sebagai utusan-Nya.

Dari Anas bin Malik, ia berkata: “seseorang datang menemui Rasulullah  : “Wahai Rasulullah, kapan akan terjadi hari kiamat?” beliau bersabda: “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” ia menjawab: “kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.” Lalu beliau bersabda: “sesungguhnya engkau akan bersama-sama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Muslim)

Kesaksian seorang mukmin mengandung konsekskuensi total. Hanya Alloh SWT yang wajib diagungkan dan disembah. Dan nabi Muhammad penyampai kebenaran  melalui wahyu bersumber dari-Nya. Sehingga, Rasululloh adalah sumber pembelajaran bagi seluruh manusia tuk menjalani kehidupan.

Ujian tuk menyampaikan kebenaran berupa ayat-ayat-Nya begitu beratnya. Sejarah membuktikan, bahwa ujian-ujian kehidupan banyak dialami oleh para kekasih Alloh SWT. Kita dapat membaca sejarah atau syiroh perjuangan para kekasih Alloh dalam menegakkan kalimat yang Ullya. Sehingga hampir 22 tahun 2 bulan 22 hari, ajaran mulia telah tersampaikan dan menjadi ajaran tersempurna.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah: 3).

Cinta umat islam antara Alloh dan Rosulnya tidak bisa dipisahkan. Cinta pada Rasululloh  adalah bentuk manifistasi cinta-Nya. Karena, Rasululloh adalah hamba terpilih yang paling disayang Alloh SWT.

Barangsiapa bershalawat atasku sekali, niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Wujud sosok pilihan Alloh benar-benar nyata dan ada. Sosok  Baginda SAW yang sangat begitu dicintai Sang Kekasih Abadi. Wajar sekali, jika umat islam sedunia mencintai Rasululloh karena ajaran yang mulia ini mengajarkan tuk mencintai apa saja yang dicintai oleh Sang Kekasih. Apalagi, Baginda Muhammad SAW tauladan dalam semua kehidupan menjadi rujukan tuk keselamatan dunia dan akherat.

Kebahagian ibarat iman. Keimanan akan sempurna harus disertai perbuatan jazadi berbentuk amal. Iman tanpa amal akan minimbulkan sikap munafik amali. Artinya, kebahagian hidupnya akan semu atau merana.

Ibarat hatinya berbunga-bunga tuk berusaha bahagia, namun tak tergambar di jazadnya. Ibarat tubuh bahagianya tersembunyi. Jazadnya tuk tersenyumpun terasa berat dan terlihat sangat  dipaksa, bahkan ia tidak mampu tersenyum.

Bahagia akan lahir dengan sempurna pasti bersumber dari hati, lisan dan perbuatan tuk menerima kebenaran. Bahagia yang hakiki sungguh bentuk dari sikap rahman-Nya. Maka perilahan keimanan itu, tuk tunduk pada Alloh dan Rosulnya.

Jadi jika mau bahagia itu, maka sempurnakanlah keimanan kita. Iman harus diyakini di hati, dikrarkan dengan lisan dan diamalkan sesuai perintah Alloh dan itiba’ Rosulya. Jika aturan itu dijalankan semuanya, maka akan lahir bahagia yang tidak dibuat-buat.

Ibarat iman sejati akan mencapai bahagia yang hakiki. Namun, jika hanya iman lisan saja maka bahagianya akan muncul dilisannya tidak masuk ke hati. Bahagianya hanya semu, muncul dilisannya saja padahal hatinya merana. Atau jazad ataupun aura wajahnya hampa tak nampak bahagia.

Ingatlah! Sungguh bahagia itu yang tahu di hati dan pasti aura wajah seseorang tidak bisa dibohongi. Carilah, bahagia hakiki yang muncul dari hati yang suci. Mudah-mudahan mampu menginspirasi menebar kebaikan lewat gadget ini.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *